Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Tidak usah melakukannya


__ADS_3

Biip biip biip


Tak berhenti di sana, sebuah panggilan yang baru saja masuk membuat Rafael segera melihat layar tempat ia pergi baru saja.


"Aga... "


"Ada apa?" tanya Rafael panik.


"Nona datang dalam keadaan aneh tuan Rafael, beliau mengunci pintu sejak datang, sampai saat ini beliau bahkan belum menyentuh makanannya sama sekali,"


"Sudah melakukan yang ku perintahkan?" tanya Rafael.


"Kamera sudah terpasang tuan," jawab Aga dengan cemas, ia benar-benar khawatir dengan Nadia yang sedang hamil.


"Sambungkan denganku," perintahnya.


Rafael beralih menatap Ibra yang masih terbaring dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya.


"Lu liat, buka mata lu sekarang Ibra, Nadia sedang nggak baik-baik aja karena lu kayak gini, cepet bangun atau gua nikahin dia sama orang lain," teriaknya pada Ibra dengan kesal, "uuuu kalo aja nggak sakit, udah gua ajak adu tonjok lu," tambahnya yang kemudian memukul-mukul udara tanpa arah di sekelilingnya.


"Camera connection," terdengar suara mesin operator memberi informasi.


Rafael segera melihat ke layar monitor, hingga tanpa sadar bahwa semua orang sudah mendekat ke arah nya dan ikut melihat ke dalam layar.


Terlihat Nadia sedang duduk di lantai bersandar pada ranjang dan memeluk foto Ibra yang entah ia dapat dari mana, setau Rafael tidak pernah ada foto Ibra di rumah ini.


Rambut gadis itu acak-acakan, wajahnya sangat lesu, terlihat jelas sekali bahwa ia habis menangis, "mas Ibra... " panggilnya lirih.


Rafael meremas rambut kepalanya frustasi, "Aihhh... shit... " ucapnya kesal menggebrak meja yang ada di hadapannya.


Laki-laki itu juga tidak tega dengan kondisi adiknya seperti ini, ia kesal bukan main pada dirinya sendiri, pada Ibra yang egois, dan pada semua orang yang menyebabkan ini terjadi.


"Aga siapkan tiket pesawat nya, aku akan segera kembali,"


"Kita pakai jet milik daddy oke, mommy akan ikut terbang bersamamu," ucap Aisyah mengagetkan.


"No mom, Nadia punya El, Ibra juga butuh mommy di sini,"

__ADS_1


"Ada ayahnya bersamanya, Nadia juga anak mommy, mommy akan ikut kamu pergi,"


"Loh, tunggu mom, terus nanti daddy gimana?"


"Daddy jaga Ibra bersama dengan Abrar, Nadia sedang hamil, daddy nggak lihat kondisi menantu kita itu, mommy nggak mau ya kalau terjadi apa-apa dengan bayinya,"


"Daddy akan ikut mommy, biarkan Ibra di sini bersama Abrar," sahut Attar tanpa berfikir.


"Pergilah pergilah, aku yang akan menjaga Ibra di sini, aku juga tidak ingin terjadi apapun dengan cucuku, lagipula dia tinggal di sarang ular dengan bisa luar biasa," sindir Abrar karena sangat faham dengan karakter ibunya.


"Ayo nak, kita pergi sekarang," ajak Aisyah yang sudah menarik lengan Rafael seolah tidak ingin membuat waktu lagi.


***


Rafael, Attar dan Aisyah sudah berada di negara yang sama dengan Nadia sejak seminggu yang lalu, namun bersamaan dengan tidak adanya perkembangan dengan kondisi Ibra, hal yang sama juga terjadi pada Nadia.


Gadis ceria itu benar-benar murung dan tidak mau sedikitpun beranjak dari kamar, yang mana semakin membuat Aisyah dan Attar bingung sendiri.


Attar bahkan tidak nafsu memasukkan apapun ke mulutnya ketika perut Nadia bahkan tidak pernah di isi apapun.


Sret, Attar mendorong piring yang ada di hadapannya.


"Bagaimana bisa makan jika menantu dan cucuku tidak mau makan sama sekali," ucapnya kemudian pergi meninggalkan Aisyah yang selalu diam-diam menangis.


Menangisi putra satu-satunya yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda sadar, serta menangisi menantu yang sama sekali tidak terlihat gairah hidup lagi.


Rafael baru saja pulang dari kantor dan tidak sengaja melihat kejadian ini, ini adalah hal yang sama yang hampir ia lihat selama seminggu ini, namun ia mendiamkan nya, tapi hari ini ia merasa tidak ingin diam lagi.


Rafael berjalan dengan langkah panjangnya menuju kamar Nadia, laki-laki itu bahkan tidak mengetuk pintu dan langsung nyelonong masuk begitu saja.


"Bangunlah," ucap Rafael menarik Nadia yang duduk di lantai dengan bersandar pada ranjang.


"Nadia...Sampai kapan kau akan berlindung di balik dinding kamarmu ini?"


"Abang, tinggalin Nadia sendiri," ucap Nadia dengan tatapan mata kosong.


"Sampai kapan kau melakukannya? sampai kau mati? sampai anak di dalam kandungan mu itu mati hah?" bentak Rafael keras.

__ADS_1


"Aku mohon padamu biarkan aku sendiri!!!!! " teriak Nadia tidak kalah keras.


"Apa kau satu-satunya yang terluka? lalu bagaimana dengan kami? apa yang harus ku katakan pada mommy yang sengaja datang dan setiap hari menyiapkan makanan untukmu? apa yang harus ku katakan pada daddy yang terluka diam-diam karena sikapmu? kau akan mengabaikan mereka begitu saja dengan bersikap seperti ini hah? "


"Kenapa kau berbuat begitu? agar kami tidak membantumu ? kenapa....? kau pikir kau siapa? " teriak Rafael semakin keras, ia benar-benar mengeluarkan isi hatinya yang terpendam selama ini.


Nadia hanya mematung mendengarkan Rafael dengan mata yang sudah beranak air mata, "Ahh... baiklah, aku tau, kau ingin mengatasinya sendiri. Aku tidak suka adik yang hanya bisa menangis, aku menyukai adik yang kuat, jika kau tidak bisa seperti itu, maka kau bukan adikku," ucap Rafael berbalik pergi.


Namun Nadia dengan cepat beranjak menahan lengan Rafael, "abang jangan kayak gini, Nadia sangat mengandalkan abang, aku menjadi sangat kuat karena ada abang, aku tidak takut apapun saat memikirkan kalo abang selalu ada di belakang ku," ucapnya dengan air mata yang sudah mengalir.


"Aku bersalah, aku tidak akan seperti ini lagi, jadi... jadi jangan katakan abang nggak pengen jadi abang Nadia lagi," ucapnya yang mana membuat hati Rafael terenyuh.


"Sejak aku kecil aku nggak punya siapapun, setelah aku tau bahwa ada abang yang akan menjagaku, kata-kata itu yang paling menakutkan,"


"Kalau begitu kau akan pergi makan?"


"Iya," ucap Nadia dengan menganggukkan kepala.


"Apa kau akan mengatakan jika kau terluka?"


Nadia kembali menganggukkan kepala, "kau akan mengatakan jika kau lelah?"


"Hm... " ucapnya masih menganggukkan kepala.


"Baiklah cukup, ayo makan," ucapnya kemudian menarik Nadia keluar dari kamar, namun gadis itu masih menahan lengan Rafael.


"Abang... "


Rafael yang sebelumnya berdiri membelakangi Nadia, kini berbalik melihat wajah adik di hadapannya ini, kesedihan di wajah keduanya sudah tidak bisa di tutupi lagi.


"Aku ingin berhenti, aku ingin menyerah bang, aku ingin berhenti pura-pura baik dan kuat," ucapnya terbata dengan air mata masih terus mengalir, Rafael yang melihatnya juga tak kuasa menahan agar air mata itu tidak jatuh.


"Padahal aku sudah bekerja keras untuk bertahan selama ini, tapi kenapa dunia hanya jahat kepadaku?, aku muak dengan kata-kata kamu pasti bisa yang ku ucapkan berkali-kali, mereka selalu mengambil apapun yang ku sayang, keajaiban? omong kosong..... " teriak Nadia meluapkan emosi yang mengungkungnya selama ini.


"Aku sudah tidak akan memohon untuk keajaiban, aku tidak akan melakukan nya," ucapnya.


"Tidak usah melakukannya... tidak usah melakukannya..." ucap Rafael menggelengkan kepala penuh air mata sebelum menarik Nadia kedalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2