
Dor dor
Sebuah tembakan melesat sempurna di kedua kaki dokter Clarissa dan dokter William, yang mana langsung membangunkan mereka berdua.
"Ah.... ah.... " teriak Clarissa yang tersadar lebih dulu setelah peluru Ibra mengenai kakinya.
"Akhirnya kalian bangun juga," senyum Ibra.
"Anda mengatai saya kejam karena hendak membangunkan mereka dengan disinfektan hama, tapi anda langsung menembak kaki mereka agar mereka bangun, saya menyerah, saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi tuan muda," batin Sakti meronta-ronta.
"Aku hebat bukan?" tanyanya pada Sakti yang melotot seketika.
"He....he... anda tidak perlu pengakuan itu tuan muda, anda selalu hebat bahkan tanpa ada pengakuan dari orang lain," ucap Sakti yang sudah tidak bisa berkata apa-apa pada Ibra, cukup senyum dan mengiyakan apa saja ucapan tuannya ini, karena jika sudah begini artinya Ibra sedang dalam mode tidak bisa duga, terlebih senyum yang sedari tadi menghiasi bibirnya itu.
"Si... siapa kalian...?" tanya Willian yang baru saja sadar sepenuhnya ketika melihat sekeliling tempat ia bangun dan mengamati satu persatu orang di sekitarnya.
Ibra melihat ke arah mereka dengan masih saja tersenyum, "anda akan semakin menakutkan dengan senyum itu tuan muda, bersikap biasa saja," ucap Sakti berusaha mengingatkan Ibra namun tetap tidak dihiraukan.
"Aku orang yang sejak tadi kalian perdebatan," ucapnya santai.
"Tuan Ibrahim.... ?" tanya Clarissa penuh duga.
"Jika dia benar-benar Ibrahim pemilik Delta group, maka kami berdua beruntung bertemu dengan dia, jika Luna yang kemampuannya seperti itu saja bisa berteman dengan tuan muda ini, maka kemampuanku ini juga pasti bisa menyenangkan nya, " batin William masih percaya diri.
"Aku sangat faham apa yang ada di pikiran mereka saat ini, kalian tidak beruntung, ini adalah hari terburuk yang akan kalian kenang sepanjang hidup, apalagi dengan wajah tuan muda yang seperti itu, bertahan hidup saja kalian seharusnya sudah bersyukur," batin Sakti dalam hati.
"Kenapa kami bisa berada di tempat ini dan dalam kondisi seperti ini?" tanya Clarissa yang masih merasa sakit pada bagian kaki yang tertembak itu.
Ibrahim tersenyum, "pertama karena kalian merubah suasana hati istriku yang seharusnya bahagia, tapi harus murung karena ulah yang kalian lakukan dengan kakaknya,"
"Maksud anda Luna?" tanya William.
"Kedua... karena kau mengganggu orang-orang ku," ucapnya dengan wajah mulai datar dan seringai menyeramkan.
"Lu... Luna...?" tanyanya lagi.
"Ketiga... kalian berdua menginjak-injak harga diriku dengan tidak mempercayai dua orang kepercayaan ku,"
"Keempat... kalian berdua menghancurkan hari bahagiaku, seharusnya aku sedang bahagia di rumah sakit bersama keluarga ku sekarang, tapi apa yang sudah kalian berdua lakukan hingga aku harus turun tangan sendiri dan berada di lokasi pembangunan ini," ucap Ibra masih tidak ingin berhenti bicara.
__ADS_1
Keempat alasan yang di ucapkan Ibra cukup membuat nyali kedua orang di hadapannya ini sedikit down.
''Kami lebih baik dari Luna, jam terbang kami juga lebih banyak darinya, kami sudah sangat profesional karena berada langsung dalam setiap kondisi pasien darurat, kami yakin kami akan bisa lebih membantu di banyak bidang kesehatan milik Delta group," ucap Willian dengan sangat lihai, seolah kata-kata itu sudah tertulis secara alami di otaknya.
Klik
Sebuah layar tiba-tiba muncul tepat di sebelah kanan Ibra, di layar itu muncul sebuah video operasi Luna, semua orang masih melihat dengan seksama video yang masih belum selesai di putar itu.
"I... ini... "
"Kalian bisa melakukan operasi dengan resiko kematian delapan puluh lima persen sepertinya?" tanya Ibra lagi.
"Kami bisa melakukannya," kini Clarissa mulai angkat bicara.
Ibra melirik ke arah wanita itu dengan seringai menyeramkan, "bagaimana jika aku menembakkan peluru ini di kepala teman laki-laki mu itu, lalu kau selamatkan dia di sini," ucapnya mengejutkan semua orang.
Tanpa pikir panjang Ibra memperlihatkan sebuah peluru yang hanya tinggal satu di dalam pistol yang ia punya saat ini.
"Tunggu tuan Ibrahim... tapi kenapa saya...?"
"Karena aku perlu bukti, bukan hanya omong kosong," jawab Ibra.
Terdengar sebuah tanda pesan masuk di ponsel Ibra, masih dari istrinya, "mas cepat kembali, aku butuh pelukan," tulis Nadia saat itu.
Ibrahim tersenyum, "wah... sepertinya aku banyak sekali membuang waktu untuk orang-orang seperti kalian," ucapnya ketika kedua orang itu masih juga tidak menjawab ucapannya.
"Sakti...ku serahkan padamu, ada yang lebih penting darinya," ucapnya sembari mendekat agar bisa berbisik pada Sakti.
"Jangan membunuhnya terlalu cepat, aku ingin mereka hidup lama dengan banyak sekali penderitaan, terlebih penyesalan setelah melihat Luna dan Rafael bahagia, jadi... perlahan-lahan saja," pesannya.
"Kunci mobil?" tanya Ibra.
"Sudah ada yang bersiap mengantarkan anda tuan muda, Hati-hati di jalan dan sampaikan salam saya kepada nona," ucapnya dengan tubuh membungkuk.
Ibra sudah berada di depan lift, kemudian ia berbalik, dor.
"Aaah.... " teriak Clarissa.
Sebuah tembakan kembali terdengar, "itu hadiah ku, peluru itu akan meleleh dalam tiga dalam tubuhmu jam jika kau tidak bergegas mengambilnya," ucapnya yang bersatu dengan angin sebelum masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Tidak.... tidak... Clarissa.... Clarissa... " teriak William meracau.
***
Ibrahim berlari dengan kaki panjangnya agar bisa segera menemui istri dan anak-anaknya, dengan pelan laki-laki itu membuka pintu, khawatir mengganggu mereka semua yang ada di dalam.
Hanya terlihat Aisyah yang masih menggendong putri kecilnya, "daddy sudah pulang mom ?"
"Kedua daddy mu sedang kembali karena ada pertemuan yang tidak bisa di wakilkan, kau sudah makan nak?" tanya Aisyah.
"Aku akan makan bersama Nadia nanti mom, mommy tidak apa-apa jika pulang dan beristirahat lebih dulu, Ibra akan di sini menjaga Nadia dan anak-anak,"
"Baiklah, kau jangan lupa makan oke, mommy akan menyiapkan makanan untuk bayi-bayi mommy dulu di rumah,"
"Bayi bayi?" tanya Ibra lagi.
"Kedua daddy mu," senyum Aisyah.
"Ah... Hati-hati mom... "
"Putra putrimu itu baru saja tidur, jangan mengganggu mereka dan cuci kedua tanganmu itu lebih dulu oke," ucapnya kemudian keluar dari rumah masih dengan gaya anggun dan elegan gaya Aisyah.
"Yes mom,"
Ibra bergegas mencuci tangan, kemudian berjalan mendekati kedua putra putrinya, memberikan kecupan dan mentoel pipinya mereka berkali-kali.
"Kenapa yang ini sangat mirip sekali denganku?" gumam Ibra seorang diri begitu melihat putrinya.
"Uhm... mas Ibra... "
"Kau bangun... apa aku mengganggu mu?" tanya Ibra lembut.
Nadia menggeleng dan mengangkat kedua tangannya, "peluk... "
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
__ADS_1
Salam sayang semua.