
Keempat orang itu sudah masuk ke dalam rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB, Nadia masuk ke dalam rumah terlebih dahulu dengan kesal karena percakapan di dalam mobil sebelumnya.
"Sakti, Anna kemana ?" tanya Ibra yang saat ini berada di ruang tamu bersama dengan Sakti dan Ibra tentunya, Ibra sudah duduk di sebuah kursi ruang tamu berbahan lembut namun tetap terlihat sangat gagah.
"Nona Anna menginap di hotel tadi malam tuan muda," jelas Sakti dengan wajah datar tanpa dosa.
"Kau yang membuatnya pergi ?" tanya Ibra bisa menebak apa yang sudah di lakukan Sakti.
"Saya hanya.... "
"Perlu kau tau, aku sudah memberi kalian waktu untuk berbicara dan menyelesaikan masalah kalian sebelumnya, setelah ini jangan menyesal jika aku tidak akan memberimu kesempatan untuk mendekatinya lagi." ucap Ibra kemudian memotong ucapan Sakti sebelumnya.
"Saya minta maaf tidak bisa memahami maksud anda dengan baik sebelumnya," ucap Sakti tegas.
"Aishh dosa apa gua di kehidupan gua sebelumnya sampek harus hidup sama orang-orang kuno kek kalian, nggak asik bener-bener berasa hidup di jaman bung Karno," ucap Rafael jengah mendengar gaya bicara mereka berdua.
Flashback On
"Malas jadi korban pelukanmu," ucap Sakti kesal kemudian menarik tangan Anna dan berlalu pergi.
Anna meronta saat Sakti menarik paksa pergelangan tangan putihnya, "Sakti cukup !! lepasin aku, aku udah muak dengan sikap kamu kayak gini," ucap Anna kasar menarik paksa genggaman tangan Sakti ketika mereka sudah sampai di sebuah ruangan sepi di ujung rumah.
Sakti menatap wanita yang ada di depannya ini dengan seksama, betul wanita yang pernah ia cintai kini sudah ada di depan matanya, dengan penampilan dan aura yang sudah seratus persen berubah dari sebelumnya.
"Kita berdua sama-sama mencintai kamu, aku yakin kamu juga tau itu."
"Aku nggak butuh cinta kamu itu Sakti, yang aku mau sekarang cuma Ibra," tegas Anna dengan mata berkilat-kilat antara kesal dan marah.
__ADS_1
"Alasan aku mundur karena Ibra, karena aku tau Ibra bukan orang brengsek yang bisa sia-siain kamu kapan aja, tapi kalau justru semua pengorbanan aku ini malah nyakitin kehidupan Ibra kedepannya, nggak peduli bahkan kalau itu kamu, aku bisa habisi kalian semua," ancam nya tegas.
"Jangan sombong, pendukung ku jauh lebih kuat sekarang, aku bukan orang yang bisa kalian singkirkan dengan mudah, dalam waktu tidak sampai dua puluh empat jam, kalian akan membutuhkanku untuk membantu Ibra di perusahaan," yakin Anna.
"Lakukan saja apa yang jadi bagian mu, aku juga akan melakukan bagian ku sendiri, yang jelas mulai saat ini aku tidak akan memperhitungkan masa lalu kita jika sudah mengangkut Ibra," ucap Sakti kemudian pergi.
"Dia bukan Ibra, tuan muda itu adalah sebutan yang pantas untuk memanggilnya sekarang," teriak Anna ketika Sakti tetap tidak menghiraukan nya.
Anna masih berdiri di sudut ruangan, sebuah senyum kecil terlihat samar muncul di bibirnya setelah Sakti menghilang dari pandangannya, entah apa lagi yang ia rencanakan untuk menjungkirbalikkan dunia Ibra.
Tak berselang lama, beberapa pemegang saham dalam jumlah besar menarik saham yang sudah mereka tanamkan di IA entertainment.
Semua terjadi sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Anna, hanya beberapa menit saja berkali-kali ponsel miliknya berdering karena keadaan darurat di perusahaan, seorang diri Sakti berusaha memperbaiki keadaan agar sesuai dengan apa yang Ibra harapkan.
Flashback Off
Nadia terlihat memotong beberapa sayuran dengan wajah yang masih cemberut karena perkataan Ibra di dalam mobil tadi, padahal Rafael sangat tau seperti apa Ibra, dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.
Rafael masih menjaga jarak agar kehadirannya tidak tertangkap kornea mata Nadia yang sedang mondar mandir dengan leluasa di dalam dapur, Rafael sangat menyukai pemandangan yang ada di depannya saat ini, hal ini mengingatkan nya pada sosok ibu yang setiap hari tidak pernah terlambat memasak untuknya.
Tanpa sengaja mata Nadia melihat bayangan tubuh Rafael di lantai, tubuh gadis itu berbalik perlahan, "abang.... " ucapnya melihat laki-laki yang tengah tersenyum kini.
"Hay.... masak apa hari ini ?" tanya Rafael kemudian.
"Pengen makan cumi bang," ucapnya datar.
Rafael tersenyum ketika melihat Nadia masih cemberut menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Masih cemberut aja, Ibra nggak mungkin sampek pergi cari cewek lain dek, percaya deh sama gua," ucapnya ringan dengan mengacak-acak rambut Nadia.
"Ish, males bahas om Ibra," tambah Nadia kemudian memalingkan wajahnya ke arah penggorengan.
"Ibra sampek nyuruh semua orang-orang gua buat turun lapangan waktu dia tau lu udah ada di pasar, harusnya tadi gua rekam wajah paniknya biar lu tau," jelasnya pada Nadia.
"Iya iya bang,"
Nadia menatap raut wajah Rafael, ada sedikit ketenangan ketika tidak ada kebohongan di sana, namun tiba-tiba wajah itu redup seketika.
"Kenapa bang ?" tanyanya pada Rafael.
"Huft, Perusahaan sedang goyah karena pemegang saham sedang kacau setelah berita di angkatnya Ibra menjadi penerus sah Delta Internasional setelah kepulangan Anna,"
Kening Nadia mengkerut, mencoba mencerna apa maksud yang akan di katakan abangnya itu.
"Siapkan diri untuk apapun yang terjadi kedepannya, yang harus lu ingat, jika tentang Ibra lu wajib tanya sendiri ke orangnya, jangan percaya apapun yang lu denger dari mulut orang lain, terlebih lagi media, bahkan jangan percaya sekalipun apa yang lu lihat dengan mata kepala lu sendiri," ucapnya panjang lebar yang bukannya mengerti, tapi malah membuat Nadia terlihat semakin mumet.
"Abang ngomong apa sih, Nadia nggak faham," ucapnya dengan masih mencacah sayuran.
Suara pisau yang menyatu dengan talenan terdengar bersahut-sahutan dengan ucapan Nadia.
"Terima kasih udah khawatir bang," ucapnya dalam hati.
***
Seperti hari-hari sebelumnya ketika semua orang sudah berangkat bekerja, Nadia masih menekuni pelajarannya dengan dosen dan pelajaran-pelajaran yang di pilih oleh Ibra untuk nya, selain itu ia juga mengotak atik komputer milik Rafael yang sudah dia ketahui password nya di ruangan rahasia, tentunya di sela-sela proses belajar yang di ikutinya.
__ADS_1
Agar tidak di ketahui oleh Ibra, Sakti dan juga Rafael, ia hanya membuka beberapa informasi secara acak dan umum kemudian melacak lebih lanjut ke dalam handphone yang sudah ia pastikan tidak di sadap oleh siapapun. Karena Nadia yakin semua yang terjadi di ruangan ini sudah di rekam dan dapat di ketahui oleh Rafael dengan mudah.