Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Astaga.... apa ini?


__ADS_3

Rafael memeluk tubuh kecil Nadia yang masih memberontak hendak mengejar Ibra, "tenang Nadia... calm... calm..." ucapnya menenangkan, meskipun perasaanya sendiri saat ini sedang kacau.


Nadia masih tetap meronta hendak ikut bersama Ibra, terlebih ketika Sakti sudah menutup pintu dan hendak menerbangkan helikopter, hingga tiba-tiba gadis kecil itu kehilangan kesadaran di pelukan Rafael.


Angin kencang karena baling-baling helikopter sedikit membuat riuh semua area, Rafael memeluk erat tubuh adiknya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Nadia... Nadia.... Nadia denger abang nggak?" tanya Rafael sedikit menggoyangkan tubuh adiknya itu.


"Nadia... "


"Aga...bawa Nadia pulang sekarang, jaga dia dengan hati-hati, dan panggil dokter yang memeriksa kandungannya," perintah Rafael tegas, terlihat sekali gurat kemarahan di wajah tampan dan bersih itu.


"Iya tuan," jawab Aga mengambil alih Nadia dari pelukan Rafael sebelum laki-laki itu pergi.


Rafael tidak menghiraukan sakit di punggungnya meskipun ada bercak darah di sana, perasaan ngilu di hatinya melebihi apapun saat ini.


Aga teringat Ibra dan Sakti pernah berkata padanya, "Hati-hati dengan Rafael, topengnya bisa terlepas begitu saja ketika marah, dan kau atau siapapun nggak akan pernah bisa mengendalikannya, cukup lakukan tugasmu dengan baik dan jangan mengusiknya sementara waktu sampai ia datang mendekatimu, karena ketika ia sudah memegang senjata, hanya tinggal tunggu waktu kematian musuh," ucapan Ibra yang di setujui oleh Sakti saat itu tidak pernah ia percayai karena melihat Rafael sehari-hari dengan gaya santai dan non formal diantara anak buah Ibra yang lain.


Meskipun Rafael bersikap seolah memisahkan Ibra dan Nadia, tapi perasaan kasih sayang tetap terlihat di mata sosok baru yang ia layani kini, namun melihat kepergian Rafael barusan membuat ia yakin bahwa apa yang pernah diucapkan oleh Ibra dan Sakti memang benar.


"Hawa membunuh yang sama seperti saat aku berada di sisi tuan Ibrahim, ah... aku jadi merinding dan merasa tidak tenang," gumamnya yang kemudian tersadar ia harus membawa Nadia pergi agar aman terlebih dulu.


Aga menerima kunci mobil yang ia terima dari orang berbaju hitam sebelum membawa Nadia yang berada di dalam gendongannya untuk masuk ke dalam mobil meninggalkan Rafael yang entah berada di mana.


Setelah kepergian Aga, area tersebut di bersihkan dengan cepat, semua rekaman satelit sengaja di hapus dan di kembalikan seperti semula seperti sebelum terjadi kejadian saat ini.


Itu adalah perintah Rafael sebelum ia pergi dengan beberapa orang yang sudah mengawalnya di mobil lain.


***


Rafael menghampiri drone milik Ibra yang sejak tadi berputar-putar di udara, drone ini adalah salah satu karya buatannya, hanya dirinya, Ibra dan juga Sakti yang memilikinya.


Setelah masuk ke dalam mobil ia membuka rekaman itu dan melihat apa yang terjadi, "hanya sebuah mobil biasa yang sedang dalam kondisi rem blong rupanya, tapi aku tidak sebodoh itu Luke," ucapnya dengan segera meletakkan benda yang sebelumnya berada di tangannya.


Rafael dengan kecepatan penuh mengendarai mobil menuju mansion milik Luke, saingan bisnis ayahnya sejak dulu, "ternyata masih nggak terima kalau Harbank kembali bangkit dan jaya," ucapnya dengan nada formal karena di penuhi amarah.

__ADS_1


Hanya butuh waktu lima belas menit saja, Rafael sudah tiba di sebuah bangunan besar dan gagah di depan matanya, ia langsung masuk begitu saja seorang diri tanpa takut apapun, meninggalkan pengawalnya yang melihat dari jauh.


Prok prok prok


"Wah... wah... ternyata dewa masih memberkati mu dengan banyak nyawa, bahkan kecelakaan tidak bisa membunuh keturunan Adiwijaya, ini hebat," ucap Luke yang baru membuka pintu hendak keluar dengan pakaian rapi.


"Tidak mempersilahkan masuk?"


"Masuk lah, makan dan minumlah sesuatu, ada banyak sekali makanan di mansion ini yang tidak akan ada di rumahmu," ejeknya halus.


Tanpa menanggapi ucapan Luke, Rafael langsung duduk begitu saja di atas sofa coklat di tengah ruangan, "kupikir kau akan membutuhkan waktu untuk menemukanku, tapi kau cepat sekali datang, pantas saja Delta langsung menghancurkan keluargamu dulu, mereka tau jika Adiwijaya akan memiliki putra cekatan sepertimu rupanya,"


"Ku anggap itu sebagai pujian, aku tidak berfikir kau akan mengakuinya dengan cepat,"


"Tujuanmu datang ?"


"Memberimu peringatan,"


"Kau hanya bocah," teriak Luke tidak terima dengan ucapan Rafael.


Rafael hanya datar melihat tawa yang memenuhi pendengaran nya, ia menatap Luke dengan tanpa rasa takut sedikitpun.


"Pergilah, aku sedang baik," usir nya kemudian.


"Jangan menyesal," ucap Rafael kemudian bangkit dan keluar dari rumah meninggalkan Luke dengan tawa yang terdengar sangat bahagia.


Bumm.... Bummm.... Bumm....


Mansion mewah itu runtuh bersamaan dengan hilangnya tawa Luke di dalam sana, mansion megah di belakang Rafael runtuh begitu saja ketika ledakan sudah tersebar di seluruh penjuru mansion.


Dengan tenang Rafael masuk ke dalam mobil tanpa melihat ke belakang, mobil itu dengan santai nya bergerak meninggalkan mansion yang sudah menjadi tumpukan batu.


"Semoga senang dengan hadiah ku Luke," lirih nya dengan rokok yang baru saja ia hisap.


***

__ADS_1


Nadia masih belum sadarkan diri, Rafael juga masih belum datang, hal ini membuat Aga mondar-mandir di ruang tamu sejak tadi.


"Bagaimana dok?"


"Anda wali nona Nadia? kemana suaminya?" tanya dokter tersebut ketika selesai memeriksa kondisi Nadia.


"Saya sekertaris pribadinya nyonya, anda bisa mengatakan kepada saya, apa yang terjadi dengan nyonya muda," tanya Aga tidak sabar, ia benar-benar sangat khawatir.


"Saya hanya bisa mengatakan kondisi pasien kepada keluarganya tuan,"


"Tapi... "


"Saya walinya, apa yang terjadi dengan adik saya dok?"


"Ah.. tuan Rafael... dokter Luna sudah menceritakan tentang anda tadi," ucap dokter tersebut.


"Bagaimana?"


"Saya tidak tau apa yang terjadi, tapi nona Nadia sedang shock berat, kondisi ini harus segera di atasi agar tidak membahayakan janin, mengingat usia kandungan yang masih sangat muda, kondisi psikis ibunya sangat berpengaruh besar pada anak yang di kandung tuan," jelasnya.


"Tidak adakah obat yang bisa membantu?" tanya Rafael lagi.


"Yang bisa membantu hanya diri nona Nadia sendiri dan orang-orang di sekelilingnya," ucap dokter tersebut.


"Dia sedang tidur sekarang?"


"Tidak akan lama lagi mungkin akan terbangun, anda harus berada di sisiNya agar nona tidak merasa sendiri," ucapnya.


"Baik, terimakasih sudah datang, sekertaris saya yang akan mengantar anda," ucap Rafael.


Aga menemani dokter tersebut hingga mobil biru royal itu keluar dari pagar raksasa rumah ini, setelahnya Aga berlari mencari Rafael yang sudah pasti berada di kamar Nadia.


"Tuan... anda yang membuat Luke..."


"Ssstt.... jangan berisik, agar dia tidak bangun, tugasmu mencari ruang rahasia yang disembunyikan Ibra dan Nadia di kamar ini, itu kunci agar kita bisa tau keadaan Ibra saat ini," ucap Rafael seolah tau apa yang ada di pikiran Ibra saat ini.

__ADS_1


"Kenapa tuan Rafael berubah, dia sangat bodoh dalam bisnis di perusahaan, tapi kecerdasan nya naik berkali-kali lipat di kondisi saat ini, dia bahkan menghilangkan lu gua lu gua, bahkan sampai menghancurkan semua orang yang ada di mansion Luke....astaga...apa ini?" ucap Aga yang ketir-ketir sendiri.


__ADS_2