Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Bantuan 2


__ADS_3

Ibra tersenyum, "Sakti, siapkan ruangan Rafael, pastikan tidak ada satupun kamera yang on di sana," tambahnya.


"Sudah siap tuan muda, anda bisa langsung kesana,"


"Aku akan membantumu menyelesaikan nya di ruangan Rafael, sekarang lepaskan dulu, kita harus berjalan kesana bukan ?" ucap Ibra.


Nadia masih menggelengkan kepala, "gendong mas.... " ucapnya manja.


"Baiklah, aku baik karena kau istriku," tambahnya.


"Memang mas Ibra hanya boleh baik padaku," ucap Nadia lagi dengan tidak memberi ruang sedikit pun untuk Ibra bergerak.


"Tuan memang hanya baik kepada Anda nona muda," tambah Sakti yang turut bahagia dengan kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah dua orang di depannya.


"U uhm, harus seperti itu," gumamnya pelan.


Ibra menunduk dan membawa Nadia di pelukannya ke ruangan Rafael yang tidak jauh dari sana, dengan pelan Ibra mendudukkan Nadia di sebuah sofa panjang berwarna abu-abu tua, namun anehnya gadis itu tidak juga melepaskan Ibra.


"Hey... kau ingin terus memelukku seperti ini atau bagaimana ?" ucap Ibra lagi.


"Takut ilang kayak kemaren," ucap Nadia yang semakin mengeratkan pelukannya.


Ibra menghela nafas tidak tau harus apa, ini pertama kalinya Nadia seperti ini, "Astaga.....Sakti keluarlah dulu cari makanan, buang saja makanan tidak bergizi yang ada di mejanya itu," perintah Ibra agar Sakti keluar dan Nadia bisa bicara apa yang dia inginkan.


"Baik tuan muda," ucapnya kemudian pergi dari sana.


"Sakti sudah pergi, katakan kau ingin apa ?" tanyanya pada Nadia.


Nadia sedikit melonggarkan lengannya pada leher Ibra, kemudian melihat mata suaminya itu dengan lembut.


"Hehe, Nadia.... boleh makan KFCe nggak?" ucapnya.


Ibra mengerutkan dahinya aneh, "kenapa tidak bilang tadi saja saat ada Sakti, toh dia juga akan membelikanmu makanan,"


"Aku nggak tau mau makan menu apa, belum pernah kesana mas, tapi pengen makan makanan di sana gara-gara liat orang-orang posting di status kemaren hehe,"


"Harus aku yang beli atau cukup Sakti saja," tambahnya.


"Cukup bang Sakti kok, mas disini nemenin aku," ucapnya sedikit malu.


"Oke, kupikir.... "


"Kupikir apa mas?" tanya Nadia melepaskan tubuhnya dari tubuh Ibra.


Ibra mulai memposisikan duduknya dengan nyaman di samping Nadia, "aku tidak percaya saja kalau milikku gagal membuatmu hamil sampai selama ini," ucapnya jujur sambil mengambil ponselnya dan menghubungi Sakti.


"Halo tuan muda,"


"Istriku minta KFCe, belikan semua menu di sana dengan semua ukuran," pintanya.


"Siap laksanakan tuan muda,"


Ibra langsung menutup telfonnya dan melihat ke arah Nadia yang sejak tadi menunggu penjelasan yang baru saja dia ucapkan.

__ADS_1


"Mas ingin bayi?" tanya Nadia polos yang langsung faham dengan maksud ucapan Ibra tadi.


"Dulu tidak, tapi sekarang ingin,"


"Kenapa?"


"Uhm.... mungkin agar aku tidak khawatir kau kesepian ketika harus menungguku pulang kerja seharian,"


"Itu saja?"


"Kalau kau?"


"Aku.... oh iya mas, tadi aku menelfon kak Luna,"


"Luna?"


Nadia menceritakan pembicaraannya dengan Luna pagi tadi tanpa menghilangkan satu kata pun kepada Ibra, sejujurnya ia juga tidak ingin memberikan harapan palsu pada Ibra, tapi dirinya juga takut menghadapi kenyataan jika prediksi Luna salah.


"Aku juga berharap ada bayi di dalam sini," ujar Nadia.


"Aku takut kecewa jika mengeceknya sendiri," tambahnya lagi.


Ibra tersenyum senang kemudian menundukkan kepalanya tepat di perut Nadia, "bayi, jika kau ada di dalam sana, aku ingin berterima kasih karena aku yang merasakan perasaan tidak nyaman untuk menunjukkan kau ada di dunia bersama kami, jika istriku yang merasakannya aku mungkin tidak akan memaafkanmu," guraunya sembari mengelus pelan perut Nadia.


"Besok pagi, izin pulang lebih awal ya, aku akan membawamu periksa," tambahnya menatap Nadia yang juga tengah Menatapnya.


Gadis itu mengangguk mantap merasa bahagia karena ada Ibra bersamanya nanti.


"Oke sekarang kita kerjakan ini dulu," tambah Ibra.


"Ngerti sampek sini? semua polanya sama Nadia, tapi nggak semua orang bisa menemukan solusi untuk menemukan penyelesaian masalah seperti ini,"


Nadia hanya mengangguk, "aku hanya ingin membuat virus baru yang mengalahkan virus bikinan abang El, tapi aku justru terjebak dengan kertas-kertas ini hiks, bang El juga nggak akan tau kalo aku yang mengerjakannya," ucapnya kemudian.


"Besok dia akan tau, percaya padaku,"


"Caranya?"


"Kerjakan ini dengan baik, maka dia akan tau,"


"Mas... ini... " ucap Nadia merasa itu tidak mungkin.


"Ada aku yang mengajarimu secara langsung, apa lagi yang kau khawatirkan, dalam sekali lihat saja dia pasti akan tau kalau kau yang mengerjakannya,"


Cukup lama keduanya tenggelam dengan berkas-berkas, tak lama kemudian Sakti datang dengan banyak sekali makanan, "ini makanan anda nona," ucapnya menaruh itu dan hendak pergi.


"Wahh.... makanannya datang, ye ye la la la," ucapnya riang dengan menggulung-gulung lengannya memutar.


"Hey abang mau kemana ?" ucapnya ketika Sakti hendak melangkah pergi.


"Saya akan menunggu di luar nona,"


"Makan saja disini, sudah lama kita nggak makan bareng kan?" ucap Ibra yang masih fokus dengan pekerjaanya.

__ADS_1


"Anda letakkan saja tuan, saya yang akan mengerjakannya,"


"Kita makan dulu saja mas, ayok,"


"Tuan muda... "


"Aku harus mengerjakan hal kecil ini sendiri, Aga harus kuberikan bonus karena tidak memperhatikan istriku sampai aku harus mengerjakan ini,"


"Mas Ibra nggak pernah ngerjain ini? aku melihat bang El juga punya banyak sekali berkas di mejanya, dia terlihat sangat pusing setiap hari,"


"Tuan memiliki tim ahli di masing-masing bidang nona, beliau tidak melakukan semuanya sendiri, hal seperti ini tidak pernah di tangani langsung oleh tuan muda," jelas Sakti.


Nadia mendengarkan sembari mengunyah makanan cepat-cepat, ia sangat lapar, benar-benar lapar.


"Tuan meminta membuang makanan di meja nona karena itu tidak sehat, tetapi menuruti nona ketika nona hendak memakan makananan tidak sehat yang lain, cinta memang lucu,"


***


Rafael masuk kedalam ruangan nya bersama dengan Aga dibelakangnya, kedua orang itu terhenti ketika melihat Nadia tidur dengan nyenyak di atas sofa nya.


"Nyonya benar-benar tidur disini semalam? apa yang sebenernya beliau kerjakan," ucap Aga penasaran.


"Kita lihat saja rapat nanti, pasti berkaitan dengan rapat pagi ini," jelas Rafael.


"Baik tuan,"


Suara bisik-bisik di dekatnya membuat Nadia terbangun dari tidurnya, mata itu terbuka perlahan, "a... abang... " ucapnya dengan suara serak.


"Minum dulu nyonya," ucap Aga yang segera mengambilkan minum yang sebelumnya ada di atas meja.


"Aku terlambat bangun ya,"


"Ada baju di sana, lu bisa pake,"


"Uhm.... pak Aga, aku akan pulang setelah rapat pagi ini ya, tolong atur agar orang-orang itu tidak mempersulit aku nanti,"


"Mau kemana?"tanya Rafael.


"Pengen tidur," ucapnya bohong.


"Baiklah, atur saja Aga,"


"Siap tuan,"


"Hoammm... aku masih mengantuk sekarang," ucapnya yang malas beranjak dari sofa.


Tok tok tok


Mata yang masih redup itu membulat ketika ada orang yang hendak masuk ke dalam ruangan Rafael.


"Hah.... siapa lagi yang datang," ucapnya yang segera berlari untuk sembunyi di balik sofa.


"Tuan, persiapan rapat sudah siap, kita akan mulai sepuluh menit lagi,"

__ADS_1


"Tunda sampai tiga puluh menit kedepan, masih ada beberapa hal yang harus tuan selesaikan," jawab Aga.


"Huf... selamet selamet... " lega Nadia


__ADS_2