
"Kalian sudah bosan bekerja disini ?" bentaknya.
Semuanya menunduk tanpa bisa menjawab perkataan Ibra, "segera duduk dan laporkan pekerjaan tuan muda dengan baik," ucap Sakti menengahi.
"Ini draftnya tuan muda," ucap Sakti memberikan beberapa lembar kertas di depan Ibra.
"Silahkan dimulai," ucap Sakti selanjutnya kemudian menarik kursi yang berada tepat di depan sebelah kiri Ibra.
Suasana ruang rapat benar-benar mencekam sesuai perkiraan Sakti, semua direktur di setiap lini benar-benar dibuat kelimpungan oleh Ibra, laki-laki itu benar-benar sangat cerdas, terlebih dalam perhitungan angka. Banyak sekali kesalahan-kesalahan angka yang beberapa kali di revisi olehnya tanpa menggunakan alat bantu hitung yang semakin membuat orang tercengang melihatnya.
"Tuan muda memang terbaik," batin Sakti.
"Lanjutkan saja akuisisinya, buktikan jika kalian benar-benar berguna," ucapnya kemudian pergi di ikuti oleh Sakti.
Saat Ibra benar-benar meninggalkan ruangan suara helaan nafas dan riuh lega para direktur terdengar jelas.
"Hah benar-benar menegangkan."
"Kenapa tuan muda bisa seserius itu."
"Lebih baik kita menunggu disini saja sebelum jam yang di tentukan."
"Aku bisa mati muda jika terus seperti ini."
Gunjingan-gunjingan itu keluar dari mulut direktur-direktur perusahaan yang kini bisa bernafas lega setelah kepergian Ibra dan Sakti, kehebatan dan ketelitian Ibra benar-benar tidak bisa di ragukan lagi.
Ibra berjalan dengan langkah panjang menuju ruangannya, rasa kesalnya benar-benar membuat ia ingin menghancurkan sesuatu.
"Saya akan meminta orang untuk menyiapkan sarapan anda tuan," ucap Sakti.
"Kau saja yang siapkan, aku tidak ingin orang lain," ucapnya dengan nada yang masih tidak bersahabat.
Sakti membuka pintu ruangan Ibra terlebih dahulu, benar saja kursi itu sudah benar-benar di ganti dengan yang baru, tak hanya itu saja, desainnya juga sangat sesuai dan serasi dengan desain ruangan Ibra.
Ibra berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya di sana, berbeda dengan Sakti yang terlebih dahulu menata dan menyiapkan sarapan tepat di depan Ibra.
"Gacil menyiapkan semua ini, dia pikir aku gentong bisa makan makanan sebanyak ini ?" ucapnya lagi.
"Nona ingin kita membagikan kepada beberapa karyawan juga tuan," jelas Sakti.
__ADS_1
"Dia bahkan harus meminjam uangku, tapi sangat murah hati kepada orang lain. Gadis itu benar-benar," ucap Ibra menggelengkan kepala.
"Kau sudah lakukan penyelidikan terhadap sikapnya yang sedikit aneh itu ?" tanya Ibra.
"Nona hanya bersikap seperti itu di hadapan kita berdua," jelas Sakti.
Ibra menatap makanan yang ada di hadapannya itu, "awas aja kalo nggak enak ya gacil," kemudian mulai memasukkan sedikit makanan ke dalam mulutnya.
"Lumayan, ini enak, rasanya kok bisa jadi seenak ini, eh kenapa aku jadi memujinya.Tapi ini benar-benar enak," batinnya yang terus memasukkan beberapa potong makanan ke dalam mulutnya.
"Makanlah di sini, dia juga membawakan ini untukmu bukan," ucap Ibra.
"Baik tuan"
"Lanjutkan laporan mu tentang Nadia, dia hanya bersikap seperti apa dihadapan kita ?" tanya Ibra sambil mengunyah makanan.
"Menurut informasi yang saya terima, nona sangat pintar membaca gerak gerik seseorang tuan, jadi nona tau bagaimana harus bersikap kepada orang lain. Itu sebagai bentuk pertahanan dirinya."
"Itu sebabnya terhadap kita dia bersikap biasa saja, bahkan menjadi sangat mudah menangis ketika bersamaku. karena dia tau kita bukan orang yang bisa membahayakannya ?" tanya Ibra memastikan.
"Betul tuan, jelas sangat berbeda nona yang sekarang dengan nona yang kita temui pertama kali di restoran bukan," senyum Sakti.
"Itu adalah nona muda yang sebenarnya tuan, dia sangat baik, ramah dan mudah sekali tersenyum, topeng angkuh dan tegar yang ia pasang hanya ketika ia merasa dirinya dalam bahaya, seperti di hadapan tuan dan nyonya besar, juga di hadapan kita ketika pertama kali kita bertemu"
"Tentang keluarganya bagaimana ?" mulut Ibra masih saja mengunyah tanpa henti.
"Ini sudah delapan belas tahun tuan, saya butuh lebih banyak waktu untuk menemukan buktinya," jelas Sakti.
Ibra mendengar penjelasan Sakti dengan mulut yang masih mengunyah, ia tidak sadar jika beberapa kotak bahkan sudah habis di lahapnya, "cepatlah makan, apa kau tidak lapar ?" tanya Ibra.
"Tuan apa yang harus saya makan ?" tanya Sakti kembali sambil menunjuk beberapa kotak lauk yang sudah kosong.
Ibra pun melihat ke arah tangan Sakti, "Lah, kemana perginya semua lauk itu ?" tanyanya.
"Anda sudah memakan semuanya tuan," ucap Sakti sedih.
"Pasti bukan aku, aku tidak mungkin makan sebanyak ini, aku hanya mendengar mu berbicara sejak tadi, Bagaimana bisa habis ?" ucapnya lagi.
"Mulut anda bahkan tidak berhenti mengunyah sejak tadi tuan muda," batinnya sedih karena tidak memiliki kesempatan untuk makan makanan yang dibuat oleh Nadia.
__ADS_1
"Sudahlah itu masih ada makanan yang bisa kau makan, kau makan itu saja oke," ucapnya enteng sambil menunjuk pada kotak yang berisi sayur.
"Itu hanya tinggal sayuran saja, anda benar-benar konsisten untuk tidak makan rumput tuan," ucapnya dalam hati namun tetap mengambil sayuran tersebut dan memakannya.
Ibra terlihat membolak-balik berkas di mejanya, ada dua tumpuk berkas yang harus ia pelajari hari ini, "aku hanya tidak masuk selama dua hari tapi berkas nya sudah sebanyak ini, kau urus saja semuanya. Aku ingin semuanya berjalan dengan lancar," perintahnya.
"Baik tuan,"
Sakti hendak membersihkan meja yang ia tempati makan pagi ini, lebih tepatnya pagi menjelang siang, hehe. Namun suara ketukan pintu terpaksa harus menghentikan kegiatannya.
Tok tok tok
"Masuk" ucap Sakti.
Muncul salah seorang karyawan wanita yang sengaja di tugaskan Sakti di depan untuk memandu tamu atau orang yang sudah ada janji temu dengan Ibra, "Ada apa ?"
"Ada seseorang bernama Louis ada di ruang tunggu pak Sakti, beliau berkata sudah ada janji dengan Presdir," jelas wanita itu.
Sakti menatap Ibra terlebih dahulu untuk meminta persetujuan, "biarkan dia masuk," ucap Ibra.
"Buatkan minuman," ucap Sakti lagi.
Tak selang berapa lama, seorang laki-laki dengan tubuh tegap berisi berjalan memasuki ruangan Ibra, tubuh tinggi dengan wajah tampannya itu datang dengan senyum sumringah di bibirnya. Sungguh usia benar-benar tidak memudarkan aura dan ketampanan laki-laki itu.
"Lama tak berjumpa tuan Ibra,"
"Suara ini..?" ucap Ibra kemudian mengangkat kepalanya yang sejak tadi menatap berkas di atas meja.
Ada sedikit kerutan di dahinya, "Louis ?" ucapnya lagi.
"Sebuah kehormatan jika anda masih mengenali saya," ucap laki-laki itu tersenyum.
"Paman, anda ?" Ibra menggerakkan tubuhnya untuk mendekati Louis.
"Bagaimana kabarmu ?, kamu menjadi semakin tampan sekarang," puji nya tulus.
"Cyber ?" tanya Ibra yang semakin mengerutkan keningnya.
"Orang di balik layar Cyber yang selama ini di cari semua orang itu paman ?" tanya Ibra lagi.
__ADS_1
Laki-laki itu hanya tersenyum.