
Seorang pria paruh baya kini berada di salah satu rumah sakit ternama di sebuah kota, Luois laki-laki itu dibawa kesana oleh Luna setelah Ibra dan Sakti pergi begitu saja meninggalkannya berlumuran darah di atas lantai. Tentu saja ada beberapa kesulitan ketika Luna membawanya dengan baju yang sudah terkena noda darah seorang diri menuju rumah sakit. Namun bukan Luna jika tidak memiliki cara, karena dia menjadi dokter pribadi Ibra karena alasan seperti ini.
"Apa yang baru saja anda lakukan hingga membuat Ibra berbuat memegang benda-benda terkutuk itu lagi ?" tanya Luna yang kini melihat apakah ada luka infeksi di pisau itu.
"Bukan urusanmu,"
"Dia bahkan hampir memutus salah satu urat nadi anda, meleset sedikit saja anda sudah ada di pemakaman sekarang," ucap Luna dengan memperagakan tangannya namun tidak ada respon apapun dari laki-laki bernama Louis itu.
"Aku hanya ingin memberikan saran sekaligus peringatan untuk anda, jangan pernah menyentuh Ibra jika anda ingin hidup dengan tenang, kedua bayang-bayangnya akan mengincar kemanapun anda pergi dan tidak akan melepaskan anda jika anda masih bermain-main dengan Ibra, jadi bersiap-siaplah,"
Louis menatap Luna yang masih memeriksa lehernya, "dia bisa saja membunuhku tadi, tapi tidak ia lakukan, berarti masih ada yang ia inginkan dariku."
"Jangan terlalu percaya diri, bagaimana kalau dia tidak ingin mengotori tangannya dengan darah sehingga ia tidak membunuh anda hari ini ?" tanya Luna lagi.
"Pernah dengar istilah keluar kandang singa masuk kandang buaya ?" jelas Luna lagi, ia melihat kening Louis sedikit berkerut.
"Mungkin dia melepaskan anda dan memberikannya pada dua bayang-bayang yang aku sebutkan di awal tadi." tambah Luna yang kini menarik tangannnya dan mengakhiri pemeriksaannya pada luka Louis.
Louis menelan salivanya berkali-kali setelah mendapat pesan dari Luna, gadis itu seperti tau banyak tentang Ibra, "Apa yang sebenarnya aku lewatkan di masa pertumbuhan Ibra, dia memakai cara apa sampai bisa menjadi orang seperti ini sekarang,"
***
"Om sebaiknya pergi saja dari rumah ini, mumpung rumah ini belum lepas dari tanah karena kekacauan yang om timbulkan, udah dewasa masih aja kayak bocah, bener kata om Ibra, " gerutu Nadia kesal sambil memungut pecahan beling yang berserakan dimana-mana.
Rafael yang mendengar ucapan Nadia mulai mendekat dan mencengkram tangan gadis kecil itu, "Awww" pekik Nadia pelan.
"Sekarang bahkan ada yang berani menggerutu terhadap sesuatu yang aku lakukan selain Ibra." ucap Rafael sambil mengeratkan cengkramannya pada pergelangan tangan Nadia.
"Nggak salah kalo om Ibra menggerutu dengan sikap om yang kayak gini. Om, om kan udah dewasa, nggak lucu dong kalo harus Nadia yang masih delapan belas tahun ini yang membereskan semua masalah yang sudah om buat di rumah ini, jadi tolong bersikap baik selagi tinggal di sini," ucap Nadia tegas kemudian melepaskan pergelangan tangannya dengan tenaga yang tak kalah keras.
Ketiga laki-laki itu terkejut melihat keberanian Nadia terhadap Rafael, pasalnya jika Ibra adalah kepalanya maka Sakti dan Rafael adalah kedua tangan yang menjadi penggeraknya, Ibra memang tidak pernah berurusan dengan hal-hal yang mengusik hidupnya secara langsung karena sebelum masalah itu melewati Ibra, akan dihadang terlebih dahulu oleh Sakti dan Rafael.
__ADS_1
Karena menjadi orang kepercayaan dan tangan kanan Ibra secara langsung, otomatis keduanya juga menduduki posisi tertinggi setelah Ibra, tidak akan ada orang yang meragukan apapun yang mereka ucapkan dan lakukan. Tapi saat ini gadis kecil berusia delapan belas tahun berani menaikkan suaranya pada Rafael, itu merupakan suatu kejutan yang sangat jarang di temukan.
"Apa om liat-liat Nadia, bukan bantuin cuma ngeliatain aja," ucap Nadia lagi semakin ketus.
"Lu nggak ngasih dia pembantu, sampai dia harus turun tangan sendiri kayak gini," tanya Rafael pada Ibra yang sejak tadi hanya berdiri diam disana melihat Nadia memarahi Rafael.
"Gak ada pembantu-pembantu, om jangan ngabisin uang om Ibra terus udah untung di kasih tempat tinggal, sekarang om ambil sapu dan bersihkan area sana, pak Sakti juga." perintahnya.
"Aku bahkan bisa menyuruh orang untuk memebersihkannya, kenapa aku harus membersihkan sendiri," balas Rafael tak kalah sengit.
"Belajarlah bertanggung jawab om, om yang membuat kekacauan ini jadi om yang harus membersihkannya juga,"
"Gua nggak butuh belajar tanggung jawab sama anak yang usianya aja masih delapan belas tahun," tukas Rafael.
"Saya juga harus membersihkannya nona ?" tanya Sakti menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau bukan bapak siapa lagi ?" jawab Nadia lagi.
"Lalu siapa yang membuat semua kekacauan ini ?" tanya Nadia yang mengedarkan matanya di seluruh ruangan yang benar-benar berantakan.
"Siapa ?" tanyanya lagi.
Sakti dan Rafael hanya diam mendengar pertanyaan menyudutkan dari Nadia itu, memang mereka berdualah pelakunya, "nona benar-benar sangat kesal, mulutnya benar-benar sangat menakutkan ketika berbicara, sangat mirip dengan tuan muda." batin Sakti.
"Gila nih cewek, mimpi apa gue semalam bisa di perintah bocah kayak gini, gue tarik ucapan gue yang mau dijodohin sama cewek modelan kayak dia, amit-amit jabang bayi," gerutu Rafael dalam hati.
Ibra yang sudah kebal dengan tingkah kedua orang itu kini lebih memilih pergi, "Hey Ibra, lu bantuin kita juga dong, enak banget main pergi aja," teriak Rafael.
"Ngapain om Ibra harus bantu, kan dari tadi dia nggak ngapa-ngapain, orang om Ibra diem aja dari tadi." ucap Nadia semakin ketus.
"Justru dia pembuat onar yang sebenarnya adik kecil," ucap Rafael lagi.
__ADS_1
"Om terlalu banyak bicara, apa harus aku menutup mulut om dulu dengan lakban baru om bisa mulai membersihkannya ?" ucap Nadia lagi.
"Hah, tapi kan..."
"Dia istriku, dia akan menggantikanku untuk menghukum kalian, lakukan saja yang ia katakan, hari ini sangat panas dan aku ingin segera mandi," ucap Ibra kemudian meninggalkan mereka.
"Biar Nadia saja yang mengurus kalian, aku sudah pusing jika berada di sekeliling kalian berdua," batin Ibra, ia tertawa dalam hati sebelum meninggalkan mereka.
"Aku adalah pemimpin organisasi rahasia terhebat, tapi harus bertekuk lutut di hadapan bocah kecil istri Ibra ini, nasib nasib malang sekali nasibku,"
Sebenarnya Nadia bisa saja membersihkan rumah itu sendiri, tapi setelah Ibra berkata kedua laki-laki itu akan tinggal di rumahnya maka dia berfikir harus mulai mendisiplinkan mereka berdua agar rumah ini tidak menjadi semakin kacau dan mereka lebih menghargai makanan, "Hahaha rasain, siapa suruh kalian nakal,"
***
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri rate, dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
Karena Author juga harus bekerja jadi akan di usahakan konsisten Update setiap hari satu episode.
__ADS_1