Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Drama 2


__ADS_3

Ibrahim dan Rafael, dua orang dengan kepribadian dan masa lalu berbeda, seperti mata uang yang memiliki dua sisi berlawanan, kedua orang ini juga memilikinya.


Ibrahim di bentuk dengan banyaknya duka dan kehilangan sejak kecil, berada di lingkungan keluarga yang menganggap suci garis keturunan murni sehingga membuatnya harus mampu bertahan di atas tubuh dan darah saudaranya yang lain.


Harapan dan pengorbanan dari semua orang yang lebih dulu pergi dari sisinya membuatnya sangat menghargai sebuah hubungan, ia terkungkung oleh rasa bersalah karena hanya dia yang bertahan seorang diri.


Pemarah, workaholic, ambisius dan tidak terkalahkan adalah sosok baru yang sengaja ia bentuk agar tidak lagi ada yang mengusiknya, keluarganya, temannya dan orang-orang yang ia cintai.


Ia ingin menjadi kuat agar bisa menumbangkan orang yang hendak menghancurkan nya, membunuh orang yang hendak mengusiknya dan melindungi semua orang di sisinya.


Berbeda dengan Rafael yang setiap hari selalu ceria dengan gaya santai dan hangat, namun justru semakin berbahaya.


Sisi kaku dan arogan yang ia miliki sejak lahir sengaja ia sembunyikan dalam-dalam, karena kesombongan atas kecerdasan dan kemampuan yang ia miliki sudah berhasil merenggut keluarganya.


Seperti Ibra, Rafael juga membentuk karakter baru, namun sangat menghanyutkan dan berbahaya dalam beberapa hal tertentu.


Selama ini sisi tersebut tidak pernah tampak karena memang tidak ada sosok yang harus ia jaga dan lindungi, ia tidak memiliki alasan untuk ikut berdebat atau terlalu berambisi dengan apapun, karena itu bersama Ibra sangat menguntungkan baginya.


Rafael tidak perlu tampil di depan umum, ia hanya menjadi sosok di balik layar kesuksesan IIbra dan menikmati semua yang Ibra miliki.


Ibra dan Sakti mengetahui ini semua, itu sebabnya ia melakukan semua ini sebelum sifat alami yang ada pada diri Rafael keluar yang mungkin akan membahayakan dirinya, terlebih Nadia.


"Kau meninggalkan menantu mommy?"


"No mom, aku tidak meninggalkan nya, aku hanya ingin memberi Rafael sedikit pelajaran, dia tidak akan bisa melihat duka adiknya seperti ini, mommy ingin lihat bagaimana responnya bukan," ucap Ibra yang baru saja duduk di meja makan rumah besar keluarganya pagi itu.


"Dia selalu menyayangi keluarganya nak, dia pasti akan memaafkanmu,"


"Aku tau Rafael mom, dia tidak semudah yang mommy pikirkan,"


Aisyah sedikit berfikir, "huft... pada akhirnya putraku cuma Ibra," ucapnya dengan tersenyum miris.


"Morning sayang," ucap Attar yang baru saja datang dan bergabung bersama mereka dengan memberikan kecupan pagi di dahi Aisyah.


"Hoek... hoek... "

__ADS_1


Ibra berlari ke dalam kamar mandi karena tidak tahan dengan gejolak yang tiba-tiba saja ia rasakan.


"Ibra... kau kenapa?" tanya Aisyah yang mengikuti putranya dari belakang.


Wanita paruh baya itu memijit tengkuk Ibra dari belakang, Ibra tiba-tiba merasa mual namun tidak bisa mengeluarkan apapun dari mulutnya, yang mana semakin membuat perutnya merasa tidak enak.


"Sakti..... Sakti..... " teriak Attar yang masih berada di meja makan.


"Iya tuan besar,"


"Kenapa Ibra? apa dia makan sesuatu yang berbahaya? tidak biasanya ia muntah-muntah seperti ini, bukankah dia selalu berolahraga dan makan dengan teratur, lalu... " tanya Attar tanpa henti karena panik.


"Aku hanya lelah dad... daddy tidak perlu khawatir," sahut Ibra yang baru saja muncul dari dalam kamar mandi.


Namun baru berjalan beberapa langkah mendekati Attar, dirinya kembali merasa mual, "daddy... kenapa daddy sangat bau... apa yang daddy pakai, perutku merasa tidak enak karena daddy datang, hoek.... hoe..... " ucapnya yang kembali berlari ke dalam kamar mandi.


Attar yang tidak tau apa-apa menjadi bingung, "apa aku bau? aku sudah memakai parfum terbaik yang baru ku beli di negara Z, bagaimana bisa bau? apa kau mencium bau aneh dari tubuhku Sakti?" tanyanya yang masih tidak percaya jika dirinya bau.


"Saya tidak mencium bau apapun selain parfum wangi dari tubuh anda tuan besar," jawab Sakti jujur.


Aisyah semakin khawatir karena wajah Ibra semakin pucat dan tubuhnya terlihat lemas, "Ibra... apa kau salah makan, atau ada obat berbahaya yang sudah masuk ke dalam tubuhmu tanpa kau ketahui?"


"No mom, aku hanya ingin naik helikopter saja, tapi Sakti malah membawaku naik jet pribadi semalam, mungkin karena itu," jawab Ibra yang jelas-jelas tidak nyambung.


"Kenapa Ibra ini, apa hubungannya dia mual dengan jet pribadi?" pikir Aisyah.


***


Nadia masih menunggu Ibra dengan khawatir, ia tidak tenang sejak pagi dan mondar-mandir di ruang tamu dengan mata bengkak.


"Dek.... " panggil Rafael yang sejak tau tidak tau harus apa dengan sikap Nadia yang mendiamkannya seperti ini.


Bukannya menjawab, gadis berusia hampir sembilan belas tahun itu malah berlari ke kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam.


"Nadia.... Nadia buka pintunya, gua mau ngomong sama lu, buka pintunya Nadia," ucapnya di depan pintu kamar Nadia.

__ADS_1


Masih tidak ada sahutan dari Nadia, gadis kecil itu benar-benar tidak ingin bicara dengan siapapun hari ini, ia hanya ingin Ibra, hanya Ibra, namun sayangnya ia tidak bisa menghubungi laki-laki yang sangat ia cintai itu.


"Mas kemana sih? kenapa kayak gini," ucapnya sedih, entah sudah keberapa kali air mata itu mengalir hari ini.


Hampir empat hari Nadia menunggu Ibra yang masih belum ada kabar, ia tidak keluar kamar dan tidak ingin berbicara dengan siapapun, ia memilih duduk di depan banyak layar yang berada di ruangan pribadinya menunggu pesan dari laki-laki yang ia cintai itu, yang ada di pikiran dan hatinya saat ini hanya Ibra, Ibra dan Ibra lagi.


Ia bahkan mengenakan pakaian yang biasa di pakai Ibra, ia tidak tau apa yang terjadi padanya, namun pengaruh Ibra benar-benar sangat besar di hidupnya hingga ia sampai seperti ini.


Di tengah keputusasaan itu, sebuah nada peringatan panggilan masuk ke dalam sistem komputer nya menyala.


"Nona muda... " sebuah suara yang sangat di kenal Nadia keluar dari dalam sana.


"Bang Sakti... " lirih Nadia dengan mengangkat kepala yang sebelumnya menunduk di bawah meja.


Rona bahagia langsung terpancar ketika ia melihat wajah Sakti di sana, "abang... abang kemana? kenapa pergi nggak bilang-bilang, mana mas Ibra,"


"Saya minta maaf nona, tapi tuan muda khawatir semakin berat untuk pergi ketika melihat anda," jelas Sakti.


"Lalu di mana mas Ibra bang? kenapa nggak hubungin Nadia sampai selama ini," tanyanya to the point.


Sakti tersenyum melihat kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah istri tuannya itu, "tuan muda sedang sakit dan tidak bisa bangun dari tidur karena dehidrasi nona,"


"Lal... lalu sekarang bagaimana kondisinya bang, kok bisa mas Ibra... " ucap Nadia tidak percaya.


"Tuan sudah lebih membaik nona, kami sudah melakukan tes darah dan tes tes lain untuk melakukan deteksi dini dari gejala yang di alami oleh tuan muda, tapi hasilnya tidak ada masalah pada tubuh tuan muda, Luna akan terus berusaha yang terbaik agar tuan muda tidak terlalu sensitif terhadap bau yang membuatnya muntah hingga mengeluarkan isi perutnya setiap pagi," jelas Sakti.


"Ya Allah mas Ibra," ucap Nadia sedih.


"Nona, tuan sangat merindukan anda,"


"Mas Ibra yang bilang?" tanya Nadia.


"Saya tau bahkan jika tuan tidak mengatakan nya, beliau menanyakan kabar anda setiap pagi," ucap Sakti dengan tersenyum, yang mana juga membuat sebuah senyum merekah di bibir ranum itu.


"Nadia..... Nadia buka pintunya.... " teriak Rafael dari luar pintu kamar.

__ADS_1


"Bang, nanti lagi ya, abang El teriak-teriak mulu,"


__ADS_2