Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Cabe Ijo


__ADS_3

"Yakin lu itu nona muda ? masih bening dan imut-imut gitu selera Ibra?" tanya Rafael pada Sakti dengan mata melotot.


"Bukan selera bodoh, itu pilihan nyonya dan tuan besar," ucapnya sembari mengetuk kepala Rafael.


"Gila bener, Ibra dapet daun muda gitu. Gue juga mau deh kalo dijodohin sama yang model begituan," ucap Rafael tersenyum membayangkan jika dirinya di jodohkan dengan gadis muda.


Pletak


"Dasar somplak lu Sak, gue doain lu ntar nikah sama tante-tante girang," ucapnya mengelus kepala bagian belakang yang ditimpuk Sakti oleh asbak rokok yang tepat berada di atas meja.


Sakti hanya diam tidak menjawab ucapan Rafael dan sibuk memainkan ponselnya di samping Rafael. Kemudian laki-laki itu mulai berjalan ke arah sofa, "aku akan menikahi nona muda setelah lima tahun pernikahannya dengan tuan,"


Rafael yang mendengar langsung melotot kaget, "menginginkan apa yang diinginkan Ibra sama dengan bunuh diri, apalagi yang sudah menjadi miliknya, kau ingin bunuh diri nak ?" ucap Rafael sembari menepuk-nepuk pundak Sakti seolah-olah putranya.


"Nggak mungkin ya ?" tanya Sakti dengan kepala terangkat menatap Rafael.


"Harusnya lu sadar bro, jangan pernah bermimpi memiliki sesuatu yang sudah menjadi milik Ibra, itu nggak akan mungkin," ucapnya tegas.


"Huftt lupakan saja, aku hanya kasian dengan nona, kau sudah makan ? masakan nona sangat enak, coba dan makanlah," ucap Sakti kembali dengan wajah datar menatap layar ponselnya.


Rafael menatap Sakti dengan tatapan penuh heran, "lu nggak bisa membahagiakan semua wanita yang abis dinikahi Ibra hanya karena kasihan, lu mau nikahin mereka semua," ucap Rafael ngegas.


"Lu kira tuan bakal nikah sebanyak apa hah ?" ucap Sakti nggak kalah ngegas.


"Santai aja, nggak usah hujan tropis juga," ucap Rafael semakin kesal.


"Mangkanya sono jauh-jauh, gak usah deket-deket,"


"Lagian udah keliatan kalo Ibra bakal bertekuk lutut sama istrinya ntar, gua yakin." ucap Rafael yakin seratus persen dengan pendapatnya.


"Tuan hanya mencintai nona anna,"


"Astaga, wanita itu lagi," ucap Rafael menggelengkan kepalanya, "gua bakal ngasih lu kapal pesiar gua kalo Ibra nanti beneran nggak bakal jatuh cinta sama istrinya yang imut-imut kaya cabe ijo itu,"


"Oke, kau bisa pilih salah satu mobil yang ada di Italia."

__ADS_1


"Pelit amat lu, gua kasih kapal pesiar lu cuma kasih mobil, gua juga bisa beli kalo mobil, males main sama lu, gak asik."


''Terserah,"


"Mending lu nonton ini deh, lu butuh nih nonton Sponge Bob atau Tom and Jerry, biar hidup lu nggak datar-datar amat. Ah apa kita langsung main aja, lu jadi tikus biar gue jadi orang yang bunuh lu, gimana?" goda Rafael yang sengaja ingin membuat Sakti marah.


"Kauuu... " geram Sakti yang sudah naik darah mendengar ucapan-ucapan Rafael.


"Hahahaha, ayo kejar gue, lu udah makin tua sekarang, gue yakin lu gak akan bisa ngejar gue" ucap Rafael yang kini sudah berlari-lari mengelilingi sofa mengindari Sakti.


Kedua laki-laki itu terus berlari-lari mengelilingi rumah, adu jotos bahkan sampai berguling-guling di lantai seperti merebutkan sesuatu. Hingga tak sengaja Rafael menjatuhkan sesuatu.


Pyar


***


Kamar Nadia


Nadia berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Ibra yang masih mengikutinya, gadis itu mengemasi barang-barangnya yang memang tidak banyak dengan cepat.


"Bukankah sudah seharusnya aku mengikuti ucapan suamiku, aku hanya melakukannya, jadi tidak perlu menatap heran padaku seperti itu om,"


Ibra mendekat ke arah Nadia, "tetap jadi istri yang cerdas kayak gini ya, dan jangan jadi perempuan yang nakal dan menjengkelkan," ucapnya sambil menepuk-nepuk kepala Nadia.


"Siap bos,"


"Yang tadi itu siapa om ?" tanya Nadia.


"Yang agak somplak itu ?" tanya Ibra pada Nadia dan di jawab anggukan kepala oleh gadis itu.


"Rafael, panggil saja dia El, usianya sama dengan Sakti, dia dan Sakti akan tinggal disini sementara waktu agar kejadian seperti hari ini tidak terjadi lagi." terangnya.


"Om juga ?" Tanyanya.


"Kau yakin berani tinggal hanya dengan mereka berdua di dalam rumah ini,"

__ADS_1


Nadia menggelengkan kepala pelan, dia masih terbilang remaja, tapi sebagai perempuan dia tau batasan-batasan ketika seorang wanita sudah berumah tangga. Memasukkan laki-laki di dalam rumah ketika Ibra tidak ada di dalam rumah bersamanya benar-benar ia hindari, terlepas dari surat perjanjian yang sudah ia tanda tangani sebelumnya dengan Ibra, saat ini ia sudah benar-benar menjadi istri bukan, jadi ia pikir harus melakukannya.


"Enggak om, haha ?" ucap Nadia.


Pyar


"Suara apa itu om ?"


"Kedua bocah itu benar-benar tidak bisa di tinggal sendiri, mereka mirip seperti bocah jika ditinggal berdua saja."


"Hah, om yakin pak Sakti ? dia kan sangat berhati-hati," bela Nadia.


"Sudah pasti Rafael pelakunya," ucap Ibra kemudian berjalan cepat menuju area kekacauan yang di buat oleh kedua anak buah kesayangannya itu.


Benar saja, ruangan yang semula sudah di tata rapi oleh Nadia sebelum terjadinya tragedi Bella benar-benar hancur berantakan saat ini, banyak sayur yang sudah porak poranda di semua sudut ruangan.


Bulu-bulu bantal juga menjadi senjata permainan kali ini, dan yang paling penting adalah makanan yang sudah di siapkan Nadia untuknya makan siang dan makan malam hari ini sudah tercampur dengan pecahan beling piring di lantai.


"Makananku ?" ucap Nadia sedih menatap makanannya yang terlihat tidak berbentuk di lantai.


"Ah nona," ucap Sakti.


Rafael dan Sakti kini sudah berhadapan dengan Ibra dan Nadia dengan jarak yang lumayan jauh, Nadia masih tidak memindahkan tatapan matanya pada makanan yang sudah benar-benar hancur di lantai.


"Aku bisa membelikan makanan yang jauh lebih enak untukmu nanti adik kecil, jangan menangis,'' ucap Rafael yang sepertinya tau ketika Nadia terus melihat ke arah makanan yang tadi tidak sengaja ia jatuhkan.


" Kau mengacaukan rumahku lagi El ?'' ucap Ibra mendelik kesal melihat rumahnya yang sudah seperti kapal pecah.


Laki-laki berwajah asing dengan mata hitam itu hanya meringis tidak bersalah, "benar-benar tidak tahu malu," batin Nadia.


"Om sebaiknya pergi saja dari rumah ini, mumpung rumah ini belum lepas dari tanah karena kekacauan yang om timbulkan, udah dewasa masih aja kayak bocah, bener kata om Ibra, " gerutu Nadia kesal sambil memungut pecahan beling yang berserakan dimana-mana.


Rafael yang mendengar ucapan Nadia mulai mendekat dan mencengkram tangan gadis kecil itu, "Awww" pekik Nadia pelan.


"Sekarang bahkan ada yang berani menggerutu terhadap sesuatu yang aku lakukan selain Ibra."

__ADS_1


__ADS_2