
Gadis itu menunduk, "belajar saja yang baik mulai besok, dan jangan menguncir rambutmu seperti itu, kau terlihat seperti anak TK," cibir Ibra.
"Iya om,"
"Jangan iya iya aja, dengerin kalo orang tua ngomong,"
Sorot mata Nadia melihat Ibra, "Om udah ngaku tua ya, hihi"
"Kau...."
"Om yang bilang, haha," ucap gadis itu sembari menjulurkan lidahnya mengejek Ibra.
"Aku memang lebih tua darimu !"
"Iya, om memang tua, haha," gadis itu masih saja menggoda Ibra sambil tertawa.
"Benar-benar tidak kenal takut bocah ini, berani sekali menertawakan ku," pikir Ibra.
"Berani tertawa sekali lagi, ku masukkan dalam koper dan ku buang ke laut," ancamnya.
"Sadis bener om, nanti biar aku makan yang banyak, biar kopernya gak muat dong, wkwkwkw," ucapnya kemudian.
"Receh, nggak jelas, dasar bocah," gerutu Ibra kesal dengan Nadia yang masih saja tertawa.
***
Flashback On
Setelah kepulangan Louis dari rumah sakit, laki-laki itu lebih banyak merenung dan berhenti menelusuri kehidupan Ibra, ia bahkan meminta anak buahnya di dalam Cyber untuk tidak mengganggu Ibra sementara waktu, termasuk menghentikan gerakan pengintaian Abrar secara terang-terangan, salah satu orang yang menginginkan nyawa Ibra.
"Tuan leher anda ?"
Louis memegang lehernya yang masih dibalut oleh perban tanpa menjawab pertanyaan laki-laki di hadapannya itu.
"Apakah tuan muda Ibra yang melakukannya tuan ?" tanyanya lagi.
"Iya." jawabnya singkat seolah tidak ingin membicarakan hal ini.
"Jika seseorang seperti tuan Louis saja bisa dikalahkan dengan mudah oleh tuan muda Ibra, jelas sekali beliau bukan orang sembarangan, pantas saja namanya berkali-kali muncul dalam program," batin laki-laki itu.
__ADS_1
"Sesuai dengan apa yang sedang ada di pikiranmu saat ini, sehebat itulah Ibrahim Muhammad Attar. Hentikan semua yang berhubungan dengan tuan muda, beliau sangat pantas dan layak memimpin organisasi kita, jadi jangan membuatnya seolah-olah tidak layak dengan kita yang masih saja ingin mencari tahu tentang kehidupannya,"
"Siap tuan," ucapnya lantang tak kalah tegas
"Dan untuk Abrar, hentikan saja gerakan kalian sampai tuan muda yang menginginkan laki-laki itu, tapi tetap awasi dan jangan sampai kehilangan jejaknya." jelas Louis dengan memijit pangkal hidungnya yang tidak sakit.
"Tuan, apa anda tidak cemas jika harus menghabisi Abrar, anda dengannya bukankah saudara ?" ucap laki-laki yang selalu berada di samping Louis. Laki-laki itu memang sejak awal sudah tau bagaimana hubungan tuannya dengan Abrar dan Attar, meskipun tidak secara detail.
"Yang menganggap ku saudara hanya Attar dan tuan besar, Abrar sama angkuhnya dengan wanita gila harta hingga membunuh cucunya sendiri itu," jelasnya terlihat sedikit naik darah.
Flashback Off
Louis terlihat bersantai sambil menonton televisi di ruangannya pagi itu, dengan menyesap secangkir kopi pahit favoritnya ia duduk di atas sebuah sofa berukuran sedang dengan kaki kanan di atas paha kaki kirinya, luka yang di buat oleh Ibra tepat di leher laki-laki itu sudah berangsur-angsur membaik, namun kemungkinan besar akan memiliki sebuah bekas di leher putihnya.
Kali ini sorot mata laki-laki paruh baya itu tidak seseram biasanya, sejak pertemuannya dengan Ibra kemaren sedikit membuka jalan pikirannya,
"Tuan ..." teriak salah seorang laki-laki dengan langkah cepat (sedikit berlari), laki-laki itu masuk tanpa mengetuk pintu dengan nafas yang menderu.
"Ada apa ? kau bisa melaporkan semuanya dengan tenang, tidak ada yang mengejar mu, membuatku terkejut saja !" ucapnya.
"Huft huft huft, maaf tuan," ucap laki-laki itu berusaha mengatur nafasnya.
Louis melangkahkan kakinya menuju meja kerja miliknya di ujung ruangan berukuran lumayan besar itu, kemudian mendudukkan diri di sebuah kursi putar.
"Tuan muda Ibra tuan,"
Louis berusaha tenang meskipun ada banyak kekhawatiran di hatinya, "Kenapa tuan muda ?" tanyanya lagi.
"Beliau mempublikasikan ke media tentang berita pernikahannya dengan nona Nadia," jelasnya.
"Alasannya ?"
"Tidak ada yang tau tuan, kami tidak berani menembus pertahanan yang dibuat tuan muda, juga sangat sulit untuk mengakses berita di dalam IA entertainment," jelasnya kemudian.
Louis terdiam dengan dahi berkerut dan tangan masih mengurut pangkal hidungnya, laki-laki paruh baya itu tengah berfikir dan berusaha memposisikan dirinya di posisi Ibra untuk mengetahui alasan di balik berita yang di sampaikan bawahannya itu.
"Sementara jaga nona muda dari jauh, baik di dalam rumah atau kemanapun nona berada, tapi jangan terlalu mencolok agar tidak membuatnya takut, setelah ini para musuh akan berdatangan dengan berbagai macam cara untuk mencari kelemahan tuan muda, salah satunya dengan mencoba menyakiti nona Nadia," jelasnya masih meraba-raba alasan Ibra mempublikasikan berita pernikahannya.
"Ada laki-laki lain yang kami konfirmasi juga tinggal di rumah itu tadi malam tuan,"
__ADS_1
Louis menatap geram laki-laki yang saat ini ada di hadapannya, "Aku sudah bilang jangan mengusik Ibra lagi, dia bukan orang yang bisa kita sentuh dengan mudah !" ucapnya dengan nada tinggi seolah tidak menghiraukan rasa sakit di lehernya.
"Maafkan saya tuan, saya hanya ingin memastikan apa yang saya lihat hari itu tuan," ucapnya memberikan alasan yang tepat agar terhindar dari kemarahan Louis.
"Apa yang ingin kau pastikan sampai berani melawan perintahku," ucapnya dengan nada yang semakin tidak bersahabat.
"Rafael."
"Iya kenapa dengan Rafael, aku tidak pernah mengenalnya, dia bahkan bukan putra presiden," ucapnya ketus dengan kening semakin berkerut.
"Rafael Adiwijaya,"
Mata Louis terbuka lebar seketika seolah ingin keluar dari kelopak matanya, "Rafael ? dia ?" ucapnya menggantung.
"Iya tuan, beliau menjadi salah satu tangan kanan tuan muda Ibra," jelasnya.
"Pantas saja kiprah Ibra sangat luar biasa dalam waktu singkat, dia di dampingi oleh orang-orang hebat seperti Sakti dan Rafael," ucap Louis menggelengkan kepala.
"Tanpa kita tau dia juga berkecimpung di bisnis yang tuan muda Ibra geluti saat ini tuan, mereka sangat pandai bersembunyi hingga kita tidak tau bahwa dia sudah ada di depan mata kepala kita sendiri sejak dulu,"
Laki-laki paruh baya yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya kini menyentuh kepalanya yang sama sekali tidak pusing sebenarnya, namun otaknya masih merasa belum bisa menerima apa yang ia dengar hari ini.
***
"Daddy ? kenapa dia ada di rumah lagi hari ini ? dia selalu santai dengan pekerjaannya," pikir Aisyah yang melihat suaminya hanya duduk-duduk santai di taman belakang.
Attar yang melihat Aisyah sedang menatapnya semakin merekah kan senyuman kepada wanita yang sangat di cintai nya itu, "Kemari dan lihatlah ini," ucapnya riang.
Aisyah hanya mendekat dan menuruti permintaan suaminya itu, "Apa yang ingin daddy perlihatkan ?" tanyanya.
"Ini, Seperti yang kau inginkan," ucapnya dengan senyum sembari memberikan ponsel kepada istrinya.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.