Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ada apa El ?


__ADS_3

"Jangan berfikir yang aneh-aneh, aku tidak segila itu," ucap Ibra kemudian menatap bola mata milik Nadia.


"Uhmm, bagaimana om tau ? aku bahkan tidak mengatakannya, om dukun ya?" tanyanya.


"Diam dan jangan bergerak, kau terlalu banyak bicara," ucap Ibra lagi.


Dengan posisi Nadia masih duduk manis di pangkuan Ibra, Sakti dan Rafael tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Mending lu..... " ucapan Rafael terhenti ketika melihat posisi Ibra dan Nadia yang tidak biasa.


"Apa iya mereka beneran udah ngelakuin itu? Ibra sangat tidak suka di sentuh orang lain sebelumnya, jika benar lalu bagaimana kelanjutan hidupnya jika Ibra meninggalkannya setelah Anna kembali nanti, " batin Rafael.


Nadia semakin salah tingkah ketika ia terlihat di posisi ini di depan Sakti dan Rafael, ia hendak beranjak pergi namun di tahan oleh tangan kanan Ibra, tanda memintanya untuk diam. "Aku terlihat seperti ******* dengan duduk di posisi seperti ini," batinnya.


"Ada apa?"


"Kami minta maaf tuan muda, kami undur diri,"


"Kalian," ucap Rafael ketika lengannya di tarik paksa oleh Sakti.


"Dia sedang menetralkan tubuhku setelah di peluk perempuan itu, tubuhnya penuh dengan bau parfum laki-laki, berapa banyak laki-laki yang dia sentuh sebelum datang kesini, aku merasa jijik bahkan hanya membayangkannya,"


"Menetralkan ? aku terlalu percaya dia mengira mendapatkan cinta dari sosok pria sepertinya," tanya Nadia dalam hati, kemudian dia berusaha dengan keras melepaskan tangan Ibra yang semakin keras memegang tubuhnya.


Tangan Rafael terlihat mengepal, ada semburat kemarahan terlihat di matanya setelah mendengar perkataan Ibra barusan.


"Aku harus belajar om," ucapnya kemudian dengan lembut.


Ibra menatap kedua manik mata gadis kecil di depannya itu, belum puas Ibra memandang nya tapi tubuh gadis itu sudah di tarik oleh Rafael hingga berdiri.


"Ini udah waktunya, lu keluar dulu gih, udah tau ruangan gua kan, masih ada yg perlu gua omongin sama mereka berdua soalnya."


"Om, Nadia keluar dulu ya," pamitnya kemudian mencium punggung tangan Ibra.


"Nona muda bahkan tetap berpamitan pada tuan muda dengan sopan, padahal terlihat jelas di matanya bahwa ia terluka dengan apa yang baru saja di ucapkan tuan muda,"

__ADS_1


Klik


Suara pintu terdengar ketika Nadia sudah menghilang di baliknya, Sakti yang tadinya berada di dekat pintu kini mendekat ke arah Ibra dan Rafael. Terlihat tatapan yang sangat sulit di artikan di antara keduanya.


"Gua selalu dukung lu, gua nggak pernah nanyain apapun yang lu pengen, keputusan yang lu buat, apapun itu gua pasti hargai, tapi hari ini ada beberapa hal yang benar-benar


bikin ganjel hati gua,"


"El... " ucap Sakti berat. Firasat nya tiba-tiba buruk.


"Biarin dia ngomong,"


"Kalo lu ada rasa sama Nadia, mulai baik-baik, lu ngomong dan akui itu dengan jelas. Jangan ngasih harapan yang nggak pasti sama dia, dengan sikap lu kayak gitu, malah buat dia semakin sakit ati," ucapnya jelas.


"El, cukup," bentak Sakti lagi tak kalah keras.


"Kalian semua tau siapa yang aku inginkan, dia bukan termasuk orang yang masuk dalam standar perempuan yang bisa aku cintai," ucapnya tak kalah jelas.


"Kalo gitu lepasin dia, lu nggak perlu kungkung dia kayak gini, biarin dia bebas." ucapnya lagi.


"Aku hanya menggodanya, kau nggak perlu semarah itu, banyak wanita yang juga kau perlakukan dengan sama," tambah Ibra.


"Dia adikku," ucapnya tak kalah keras.


Rafael terlihat sangat marah dengan raut wajah kasar seperti saat ia berhadapan dengan musuh-musuh nya selama ini.


Ibra menelisik jauh bola mata sahabat serta orang yang sangat ia andalkan itu, "dia terlihat sama terlukanya seperti kali pertama aku menemukannya, apa yang sebenarnya terjadi, dia benar-benar sangat marah,"


"Rafael, udah cukup kita pergi sekarang, kita semua tau kamu sudah menganggap nona muda sebagai adik perempuanmu," ucap Sakti lagi.


"Kita semua udah kayak keluarga pada umumnya lu tau nggak, semua itu berkat dia, sejak dia datang di kehidupan kita, dan gua nggak mau kehilangan momen-momen kayak gini cuma karena rasa penyesalan sialan lu itu sama Anna,"


"Ngomong soal ana ini apa? kalian udah main rahasia berdua hah ?" ucap Ibra tak kalah keras, laki-laki itu melempar sebuah berkas di atas meja, tepat di depan mata Sakti dan Rafael.


"Gua udah males ngomong sama orang bucin kayak lu," ucap Rafael kemudian pergi begitu saja.

__ADS_1


"Argghhh.... " ucap Ibra kasar membanting semua benda yang ada di hadapannya.


"Reaksi El benar-benar di luar dugaan tuan muda, mohon anda lebih sabar, El sudah benar-benar mengganggap nona muda adiknya," ucap Sakti menenangkan.


"Sejujurnya, ketidak jelasan tuan muda memang salah, jika tuan memanglah masih mencintai nona Anna lebih baik bersikap acuh seperti biasanya, bukan menyakiti nona terus-terusan dengan bersikap labil seperti ini,"


"Jelaskan !!" bentak Ibra setelah menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


"Delta Internasional sudah melepaskan nona Anna sejak tuan Abrar mendeklarasikan dirinya sebagai pewaris dan hendak membunuh anda, laki-laki yang bersamanya adalah salah seorang pelayan yang membantunya kabur dari Delta dan membawanya kembali ke Indonesia."


"Kau pikir seorang pelayan bisa membawanya kembali ke Indonesia dengan mudah hah ? kau pikir aku tidak tau semua informasi yang sudah kau jelaskan tadi ?" ucap Ibra dengan emosi semakin tidak terkendali.


"Maaf tuan muda,"


"Yang aku inginkan adalah alasan kenapa kalian tidak melaporkan masalah ini denganku, bukan sebuah permintaan maaf," bentak Ibra lagi.


Sakti sungguh tidak bisa menjawab dan hanya menunduk merasa bersalah, ia sangat ingin memberitahu pada Ibra, namun ia tidak ingin Ibra kehilangan senyum dan kebahagiaan yang beberapa bulan ini terlihat saat bersama Nadia.


"Ini untuk anda tuan muda, kami melakukannya karena merasa ini yang terbaik untuk anda, " batin Sakti.


"Pergilah, kalian berdua membuatku kecewa," ucapnya kemudian.


***


Rafael melihat Nadia yang sedang melihat ke arah sudut kota di balik layar kaca besar di ruang kerjanya, ini adalah spot favorit milik Nadia di perusahaan Ibra.


"Masih suka liat kota?"


"Uhm, mereka terlihat kecil, Nadia merasa masalah yang Nadia hadapi sangat kecil ketika melihat sesuatu dari ketinggian seperti ini,"


"Ini hanya lantai tujuh belas, masih ada yang lebih tinggi dari ini,"


"Ini udah cukup tinggi bang, ini sudah cukup," jawabnya dengan senyum.


Rafael mendekat dan berdiri tepat di samping Nadia, "Suatu hari nanti, kalo lu udah mutusin buat pergi dari hidup Ibra dan lu nggak tau kemana lu harus pergi, pintu rumah gua selalu terbuka buat lu, kapan-kapan kita main ke sana," ucap Rafael tulus sembari menepuk-nepuk kepala Nadia.

__ADS_1


"Aku masih punya waktu beberapa bulan lagi bang, apa yang abang khawatirkan, sampai saat itu tiba aku sudah menjadi orang yang mandiri," ucapnya penuh semangat.


Rafael melihat ke arahnya dengan senyum, "yang gua takut semua terjadi di luar kendali sebelum lu siap nerima semuanya,"


__ADS_2