
"Biarkan yang panas semakin panas Nadia, cepat, ganti baju yang cantik dan bantai saja mereka dengan kata-kata mu yang tidak bisa di kalahkan itu, jangan menggangguku," ucapnya yang semakin erat memeluk guling di pelukan nya.
Dengan bibir cemberut Nadia menghela nafas berat, ia hanya melihat Ibra yang masih setia memejamkan mata.
"Huft, nasib punya suami gantengnya kebangetan, sabar, sabar, udah punya istri masih aja ada yang pengen jadi istri kedua, itu bapaknya bodoh apa gila sih?" ucap Nadia pelan.
Akhirnya ia berbalik dan memutuskan mandi dengan cepat, kemudian memakai baju yang sudah ada di dalam lemari pakaian.
"Aku pakai yang mana ? ini sangat banyak, aku bingung memilihnya," ucap Nadia pada dirinya sendiri.
Dengan sedikit berfikir, akhirnya ia mengambil sebuah dress berwarna hijau tosca pastel, di padu dengan kalung permata kecil di lehernya, meskipun kecil kalung itu di beli dengan harga yang sangat fantastis karena termasuk dalam daftar produk limited edition.
Gadis itu menata sedikit rambutnya di depan cermin, setelah di rasa penampilannya sudah cukup pantas untuk menemui tamu yang datang, ia segera keluar dari kamar dengan anggun.
Karena kamar Ibra dan Nadia berada di lantai dasar, tidak membutuhkan waktu lama bagi Nadia untuk sampai di ruang tamu.
Beberapa pelayan menunduk hormat ketika Nadia lewat di depannya, tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka, tidak ada bisik-bisik atau gerakan sembrono, semuanya diam tanpa kata hingga Nadia melewati mereka, semuanya takut setelah mendapat peringatan disiplin yang langsung di ucapkan oleh Aga.
Nadia melihat sepasang suami istri sudah duduk di ruang tamu rumah ini, keduanya terlihat sangat elegan, "dilihat dari sudut manapun mereka semua sangat percaya diri, tapi aku merasa kekayaan mereka tidak ada apa-apa nya dengan milik suamiku, ah mungkin hanya orang kaya baru, hihihi,"
Namun bukan Nadia jika bisa di intimidasi dengan mudah, dengan senyum yang tidak kalah percaya diri ia mendekati mereka dengan gerakan anggun.
Sakti dan Rafael sudah lebih dulu berada di sana dengan wajah yang tidak bersahabat untuk berjaga-jaga jika ada hal buruk yang terjadi.
"Maaf sudah membuat Anda semua menunggu," ucapnya dengan senyum kepada semua orang.
"Ini... " ucap seorang laki-laki berusia paruh baya dengan beberapa rambut berwarna putih.
"Beliau adalah istri tuan Ibrahim, nona Nadia," jelas Sakti.
"Dia tidak begitu cantik, tubuhnya tidak proporsional, dia bahkan cenderung pendek, orang sepertinya ingin bersaing denganku untuk mendapatkan Ibra, jangan mimpi," batin seorang wanita berwajah cantik di balut busana berwarna merah menyala, wanita itu cukup cantik, tubuhnya tinggi dan memiliki badan bagus namun cenderung kurus.
"Oh... kami datang untuk menemui tuan Ibrahim, bukan istrinya, bagaimana mungkin Ibrahim tidak profesional seperti ini." ucapnya dengan nada mulai naik.
"Bisa di jelaskan suami saya tidak profesional dalam hal apa?"
"Ini masalah bisnis, seharusnya dia tidak bersembunyi di balik bahu istrinya dan membiarkan kami menunggu lama,"
"Abang, kerjasama apa yang di buat suami ku bersama dengan keluarga mereka ?" tanya Nadia masih dengan tenang.
"Tidak ada nona,"
Nadia tersenyum dan melihat ke arah tiga orang asing di sampingnya, "Lalu dari sudut pandang apa anda mengatakan suami saya tidak profesional ketika Anda tidak pernah bekerja sama dengannya," ucapnya tegas.
__ADS_1
"Kami hendak mengajukan kerjasama dengannya, tapi jika sikapnya seperti ini, lebih baik tidak jadi saja," ucapnya mengancam, yang pak Ruby tau Nadia hanyalah lulusan SMA yang di nikahi Ibra secara mendadak.
"Gadis polos dan bodoh sepertinya pasti akan ketakutan mendengar ucapanku," batin pak Ruby.
"Kontrak kerjasama yang hendak anda ajukan itu bisa langsung anda kirimkan ke perusahaan bukan di rumah kami, dan di sini ada dua orang wakil suami sama di perusahaan yang berbeda, anda bisa berbincang dengan mereka lebih lanjut, masalah profesional atau tidak, bukankah anda jauh tidak profesional, anda hendak membicarakan bisnis namun datang bersama istri dan anak anda, ini tentang bisnis atau tentang menginginkan suamiku menjadi menantu anda," ucap Nadia mendominasi.
Pak Ruby tidak menyangka Nadia akan membalas ucapnya seperti ini, namun ia juga tidak ingin di kalahkan oleh seorang bocah kecil, "Kami harus membicarakan masalah ini dengan pemilik perusahaan, bukan dengan wakilnya, dan masalah mereka....." ucapnya lagi.
"Perusahaan yang mana?'' tanya Nadia.
''Harbank Group," jawabnya spontan.
Nadia semakin tersenyum riang, "baiklah, katakan," ucap Nadia yang tadinya hendak berdiri namun ia urungkan ketika pak Ruby menyebut nama Harbank.
Ketiga orang di depannya semakin bingung dengan tingkah Nadia yang seperti ini, "kenapa wanita ini mengganggu sekali, aku ingin sekali melihat Ibrahim, aku ingin memeluknya, kenapa wanita ini sangat sulit di ajak bicara baik-baik sejak tadi,"
"Apa maksudmu, kami ingin menemui Ibrahim pemilik Harbank groub, bukan bocah sepertimu," bentak laki-laki itu pada Nadia sampai berdiri saking emosinya.
"Cukup," sela Rafael yang sudah tidak sabar dengan kelakuan orang di hadapannya itu.
"Dia bukan bocah... dia adalah pemilik Harbank groub, dan sebelum kepadanya semua hal harus melewati ku terlebih dahulu," jelas Rafael.
"Aga.... " teriak Rafael.
"Iya tuan,"
"Blacklist perusahaan nya dari Harbank, kita tidak butuh bekerja sama dengan orang tidak punya sopan santun seperti mereka," tegas Rafael yang mana membuat semua orang yang ada di sana terperangah tidak percaya.
Rafael sudah beranjak dari kursi hendak pergi dari sana, namun langkahnya terhenti ketika Nadia memegang lengannya, "tenang abang, duduklah dulu," ucapnya lembut, ucapan itu mau tidak mau membuat Rafael kembali duduk.
"Papa... " panggil bu Ruby pada suaminya.
"Baik, aku datang hendak menemui Ibrahim karena putriku menginginkannya, dan apapun yang di inginkan oleh putriku, ia pasti akan mendapatkannya,"
"Wah, aku juga ingin memiliki ayah sepertimu,'' sindir Nadia.
"Uhm, begini saja, saat ini suami ku sedang tidur karena kelelahan dengan olah raga ranjang yang kita lakukan pagi ini, masuk saja ke kamarnya, jika ia tergoda aku akan mengizinkanmu menikah dengannya, tapi jika tidak.....bersiaplah kehilangan," ucapnya penuh keyakinan.
''Nona sangat cerdas, pertama tuan muda paling tidak suka di ganggu ketika tidur, kedua tuan muda benci wanita asing di dalam kamarnya, terlebih di atas ranjang," batin Sakti bahagia.
"Baik, aku pasti bisa membuat Ibra jatuh cinta padaku," ucapnya percaya diri kemudian bangkit dari sofa bersiap hendak menemui Ibra.
"Pilihan yang bodoh, dia memilih masuk ke kandang singa dengan semangatnya," senyum Rafael.
__ADS_1
"Saya akan mengantarkan anda nona," ucap Sakti.
Keduanya sudah berjalan dan menghilang dari pandangan semua orang, saat ini hanya ada bapak dan bu Ruby di sana.
"Anda tidak khawatir dengan putri anda di dalam sana, perlukah kita menunggunya di luar pintu kamar," ucap Nadia memberi saran.
"Aku percaya pada putriku, kau yang bodoh karena sudah memberinya kesempatan, karena nanti hanya putriku yang akan menjadi nyonya Ibrahim," ucap bu Ruby mulai membalas ucapan Nadia.
''Baiklah, itu pilihan kalian," ucapnya lagi.
***
10 menit berlalu
Seorang wanita dengan Sakti di belakang nya sedang berjalan pincang ke arah ruang tamu, ada air mata membekas di matanya.
"Nak, apa yang terjadi... kenapa ini?"
"Boleh kuberi saran?" ucap Nadia yang tidak mendapat jawaban dari semua orang yang ada di sana.
"Suamiku menyukai wanita pendek dan tidak terlalu cantik sepertuiku, ia tidak menyukai wanita yang terlalu tinggi dan kurus seperti putri anda, itu hanya seperti tiang bambu menurutnya, ahh... begini saja, aku akan membantu untuk memotong sedikit kakinya, agar tinggi kita sama, bagaimana?"
Semua orang yang mendengar itu membelalak tak percaya, memotong kaki, bagaimana itu mungkin.
Sakti, Rafael dan Aga yang berada di sana tertawa dalam hati mendengar ucapan Nadia dan ekspresi semua orang yang ada di sana.
"Rafael sangat ahli dalam hal memotong dan menyambung nona, mungkin ia bisa membantu memotong dan menyambungkan kakinya lagi," tambah Sakti.
"Wah ide bagus itu, silahkan anda.... "
"Cukup, kami tidak pantas di perlakukan seperti ini," ucapnya kesal penuh amarah.
Nadia tersenyum namun senyum kali ini juga di penuhi amarah, "dan aku, aku juga tidak pantas kalian pandang sebelah mata seperti tadi, merebut suamiku? jangan mimpi, karena aku bukan orang yang bisa kalian injak dengan mudah,"
"Kau.... "
"Seberapa besar perusahaan nya?" tanya Nadia pada ketiga orang kepercayaan Ibra.
"Tidak ada separuh milik anda nona,"
"Hancurkan dan bawa mereka semua pergi, aku tidak ingin melihatnya lagi," ucap Nadia kemudian pergi meninggalkan mereka semua.
"Dia udah ketularan Ibra nih keknya, bisa badas gitu, wkwkwkwk," batin Rafael riang
__ADS_1