
Hingga matahari tenggelam Nadia dan Ibra masih betah berada di dalam kamar, keduanya memilih tidak keluar, lebih tepatnya Nadia menahan Ibra agar tidak keluar dari kamar terlebih dahulu.
Sejak tragedi yang terjadi hari ini, tidak ada yang bertegur sapa satu sama lain, baik Sakti, Rafael maupun Aga.
Semuanya memilih beraktifitas secara diam, tanpa suara yang mengundang kegaduhan, suasana rumah itu benar-benar mencekam seolah di selimuti aura gelap.
Aga yang sebelumnya berpamitan hendak kembali mengurus perusahaan memilih menetap dan memantau langsung semua hal yang terjadi di rumah ini seperti perintah Nadia.
Aga memantau semua hal yang terjadi di rumah ini, ia mengumpulkan seluruh karyawan dan melakukan pendisiplinan kinerja secara langsung di ruang bawah tanah, Sakti fokus pada draft dan laporan yang berbondong-bondong masuk di emailnya, sejak kepergian Ibra beberapa hari, ia lah yang mengurus semua yang terjadi di perusahaan keamanan.
Dan Rafael, laki-laki itu berada di dalam arena menembak dan memanah yang sengaja di buat Ibra untuk tempat latihannya, dengan perasaan yang tidak bisa di deskripsi kan, ia berkali-kali menarik anak panah namun tidak kunjung mengenai sasaran yang ia targetkan, bayang-bayang ingatan akan ucapan yang baru saja hari ini ia dengar berputar-putar di kepalanya.
"Entah Aga atau kau yang mengurusnya sendiri El, tapi aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi,"
"aku tidak tau hubungan apa yang sudah terjalin antara anda dan keluarga yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, tapi aku, tanpa suamiku, aku tidak ada di sini sekarang, tanpanya aku juga tidak akan mengenal bang El dan semua fakta ini tidak akan terungkap, "
Sembari melesatkan anak panah, laki-laki itu sedang berada dalam dilema dan kebimbangan, itu yang membuatnya tidak bisa berhenti menarik anak panah hingga waktu yang tidak ia sadari sudah berjalan cukup cepat.
"Nadia tidak kenal keluarganya sendiri? sebuta itukah cinta?"
"Aish... gimana caranya biar Nadia bisa bebas dari semua ini dan gua bisa ngasih tau seperti apa mommy dan daddy sebelum meninggal, kita bahkan bisa berjalan-jalan ke tempat liburan orang tua kita sewaktu kecil, "
Hampir tengah malam, namun Rafael masih tetap bermain dengan busur dan anak panahnya, ia sampai tidak sadar bahwa ada sesorang yang masuk dan memperhatikan nya.
"Nadia... seperti aku ingin menjaganya, aku yakin sebagai saudara kau juga ingin hal yang sama El, jangan sakit hati dengan perkataan nya,"
Rafael hanya menoleh, Ibra sudah berdiri dengan bersandar pada dinding menghadap Rafael, "lu dateng ? ada apa? " tanya Rafael dengan masih sibuk melesatkan anak panah.
"Mau bertanding denganku?" ajak Ibra yang sudah berada di samping Rafael dengan busur dan panah di tangannya.
"Kalo gua menang?"
"Apapun yang kau minta, aku akan menghubungi Sakti dan Aga sebagai juri, bagaimana ?," tanya Ibra kemudian.
Sedikit berfikir, hingga kemudian Rafael mengiyakan ucapan Ibra, Ibra hanya menatap sosok yang selama ini ada di sisiNya dengan sendu, seolah tau apa yang di inginkan Rafael.
Tanpa lama Ibra meraih ponsel di sakunya, dan mencari nama Sakti di sana, tak berapa lama Sakti menerima panggilan ponsel dari majikannya itu.
"Iya tuan muda?"
"Kau belum tidur?" tanya Ibra ketika mendengar nada suara Sakti yang tidak terdengar seperti orang baru bangun tidur.
"Ada yang bisa saya bantu tuan muda ?"
"Datang ke arena menembak dan memanah bersama Aga, bawa semua data yang kuinginkan nanti," perintahnya.
"Baik tuan muda, saya segera datang," ucap Sakti sebelum Ibra menutup panggilan ponselnya.
__ADS_1
"Nadia?"
"Dia sudah tidur seperti bayi, jangan khawatir,"
Sakti dan Aga sudah berada di dalam arena dengan beberapa draft di tangan mereka, setelah mendengar penjelasan dari Ibra mereka berdua siap memperhatikan permainan dengan serius.
"Lu udah siap buat kalah? lu emang nggak ada tandingan dalam hal menembak, tapi memanah nggak sama dengan menembak Ibra, " tanya Rafael.
"Kau salah El, sebelum menembak, aku sendiri yang belajar memanah bersama tuan muda, kemampuanmu tidak ada apa-apa nya di banding tuan muda,"
"Kita coba saja," jawab Ibra.
Kedua orang itu berfokus pada target yang ada di depan mereka masing-masing, meskipun sudah tengah malam, pencahayaan di ruangan ini cukup terang.
"1.... 2....3!"
Kedua anak panah melesat dengan kecepatan beberapa detik saja, anak panah Rafael sedikit lebih mendekati target di bandingkan anak panah milik Ibra.
"Haha, apa gua bilang, nggak ada yang bisa ngalahin gua di bidang ini," bangga Rafael.
"Anda mengalah tuan muda, anda membiarkan Rafael untuk menang," batin Sakti mulai khawatir.
"Cih, kau masih seperti bocah, jadi apa yang kau inginkan?" tanya Ibra tanpa basa basi.
"Kebebasan," jawabnya singkat.
Sakti yang mengerti arah pembicaraan itu segera menyela, "tuan muda tidak pernah meminta mu untuk berada di sisinya El, kau bisa pergi kemanapun kau mau, lalu kebebasan seperti apa... "
"Rafael... " bentak Sakti.
Ibra berjalan ke arah sebuah sofa yang sudah di siapkan di sana, "duduk dan jelaskan," ucap Ibra mulai serius.
"Aku ingin kehidupanku, keluargaku, dan rumah ini, " jelasnya.
"Keluarga yang mana?"
"Nadia, adikku, dan bu Ani, kami bertiga di rumah ini," jelasnya.
Sakti sudah geregetan hendak bicara, namun Ibra mengangkat tangan sebelah kiri memberi tanda agar Sakti diam.
"Lalu? "
"Awalnya gua udah nyaman sama hidup gua yang sekarang Ibra, tapi yang di ucapin Nadia hari ini bener-bener ganggu pikiran gua, jadi gua pengen Nadia juga ngerasain dan kenal siapa keluarganya,"
"Kau bisa mengenalkan nya sekarang, itu mudah El,"
"Ibra, gua minta maaf, tapi Nadia masih sangat kecil, dia cuma seorang gadis berusia hampir sembilan belas tahun, ada banyak banget yang seharusnya bisa dia lakukan di usia ini,"
__ADS_1
"To the point El,"
"Ceraikan dia," tegas El.
Ibrahim tersenyum pahit, ia sudah menduga hal ini akan terjadi, terlihat jelas sekali kebimbangan di wajah orang yang selalu berada di sisiNya itu.
"Sudahlah, naikkan kepalamu, aku juga sudah tidak memiliki apapun lagi untuk membayar semua rasa sakit yang sudah kuberikan di hidup kalian,"
"Tuan muda, kenapa anda tidak memikirkan kebahagiaan anda sendiri lebih dulu,"
"Mana berkas yang tadi ku minta," pinta Ibra pada Aga.
"Ini tuanku,"
Ibra melihat berkas yang baru saja di letakkan Aga di depannya, kemudian memberikan berkas itu pada Rafael, "rumah dan perusahaan kukembalikan padamu, untuk perusahaan sengaja ku tulis menjadi nama Nadia, karena aku takut kau akan memberikan perusahaan itu kepada sembarang orang saat sedang mabuk atau saat bersama perempuan yang berhasil naik ke ranjangmu,"
"Dan Nadia, aku butuh waktu untuk meninggalkan nya, setidaknya beri aku waktu agar bisa membuatnya membenciku terlebih dulu, itu akan mengurangi rasa sakitnya,"
"Ibra gua minta maaf,"
Ibra hanya tersenyum, "aku mengerti," ucapnya kemudian berdiri dari duduknya.
"Aga, mulai saat ini, tuanmu adalah Rafael dan Nadia, mereka berdua pemilik Harbank groub yang kau layani."
" Saya bukan melayani Harbank tuan, tapi melayani anda, sampai kapanpun anda adalah tuanku,"
"Baik tuanku,"
Ibra lebih dulu pergi meninggalkan ruangan itu dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Rafael masih tetap menunduk, ia tidak tau apa yang baru saja ia ucapkan, itu seolah keluar langsung dari mulutnya, sejak dulu ia memang ingin membawa Nadia pergi jika Ibra tidak memperlakukan nya dengan baik, "semoga ini adalah yang terbaik buat kita semua dek,"
"Gua kecewa sama lu El, lu minta keluarga tapi yang hancurin keluarga kita itu justru lu sendiri," tegas Sakti dengan nada bicara tidak formal seperti biasa.
***
Di dalam Kamar Ibrahim dan Nadia.
Ibra masuk ke dalam kamar dengan Nadia yang masih tidur nyenyak di atas ranjang besar berseprei abu-abu.
Ibra berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara, ia sangat menjaga agar Nadia tidak bangun, dengan pelan ia naik ke atas ranjang dan memasukkan kakinya ke dalam selimut tebal.
"Mas... "
"Loh, bangun? "
Nadia menggerakkan tubuhnya mendekati Ibra dan meletakkan kepalanya di lengan suaminya itu, "mas, Nadia masih antuk, ayo tidur, hoammm," ucapnya dengan nada suara setengah sadar dan menguap.
__ADS_1
Ibra menatap istrinya lembut, "iya ayo tidur, hari ini melelahkan," ucapnya memeluk Nadia lebih erat, bukannya terhimpit, Nadia malah menggerakkan kepalanya mencari tempat ternyaman di dada suaminya.
"Mungkin aku sudah mencintamu, rasanya sakit sekali mendengar permintaan Rafael."