Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Aku Tidak Bersedia


__ADS_3

Pagi itu ketika matahari mulai bergerak naik dengan cahaya yang masih samar-samar berusaha menerobos awan putih yang terbentang luas menghalangi nya, pada jam setengah enam pagi sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah berada di depan sebuah pintu gerbang raksasa dengan halaman yang terbentang luas di pandang mata.


"Wah ini rumah oma mas?" tanya Nadia mengedipkan mata tidak percaya, rumah besar yang berdiri di lahan yang sangat luas dengan tiang-tiang tinggi berdiri dengan gagah di depannya, perpaduan warna dan desain klasik modern benar-benar membuat rumah itu seperti istana, "bukan seperti, ini benar-benar istana,"


"Kau menginginkannya? aku akan membuatkan satu untukmu dengan desain yang seperti ini nanti," ucap Ibra seolah faham dengan tatapan mata Nadia yang berkedip-kedip sejak tadi.


"Mas ngomong kayak nawarin Nadia permen aja,"


"Ini tidak ada separuh dari apa yang dimiliki tuanku nyonya, anda bisa meminta apapun yang Anda inginkan, katakan dan atas perintah dari tuanku saya akan melakukannya,"


Nadia melongo, "astaghfirullah mas, sudah sudah, aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jalan pikiran kalian berdua, aku tidak menginginkan apapun, itu hanya kagum," ucapnya singkat, ia tidak ingin memperpanjang masalah ini.


"Ada perlu apa? sudah membuat janji sebelumnya? pemilik rumah tidak bisa di temui tanpa undangan," tanya seorang satpam yang bertugas menjaga pintu gerbang utama.


"Saya datang mengantarkan tuanku datang untuk menemui pemilik rumah ini, jangan menghalangi atau kalian akan menyesal, kami tidak perlu izin dari siapapun jika ingin datang, termasuk kalian," ucapnya ketika ia melihat beberapa orang penjaga yang lain mulai mendekati mobil mereka.


"Tidak ada yang bisa bertamu dan menemui pemilik rumah ini hari ini," tegas penjaga yang baru datang itu percaya diri, ia hanya fokus terhadap aga yang duduk di depan, hingga tidak melihat Ibrahim yang duduk tepat di belakang kursi kemudi Aga.


"Lalu mereka?" sahut Nadia yang melihat beberapa mobil di persilahkan masuk setelah menunjukkan sebuah kertas seperti undangan di gerbang yang lain, namun tepat di sebelah pintu gerbang tempat ia berada saat ini.


"Ada rapat penting, beliau yang datang adalah tamu kehormatan yang sengaja di undang secara khusus oleh pemilik rumah .... "


"Sepagi ini...? apa yang terjadi hingga ada rapat pagi buta seperti ini, mereka bahkan bangun lebih dahulu di bandingkan ayam," skak Nadia berikutnya.


"Pergilah, kami tidak menerima tamu hari ini dan di waktu sepagi ini, jangan membuat kami marah dengan bersikap memaksa, dan juga jaga bicaramu itu, atau kau akan menyesal nanti," ancam petugas itu karena sudah mulai naik darah.


"Bahkan jika itu aku? sembrono!!!! " bentak Ibra dengan menurunkan kaca mobil yang menghalangi wajahnya sejak tadi.


Sosok pria muda dengan wajah putih khas dan kharisma yang terpancar sempurna di wajahnya terlihat di balik kaca mobil, yang mana membuat semua petugas di sana terkejut.


"T-tu-tuann muda... " ucap petugas itu terbata, beberapa petugas jaga yang lain berlari mendekat untuk memastikan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Kau melarang ku masuk, bahkan kau berani berbicara dengan nada tinggi kepada istriku, tepat di depan mataku," bentak Ibra tak kalah mengerikan.


"Jelek banget nasib bapak hari ini, singa ngamuk di bangunin, dari tadi aku bahkan tidak berani mengganggu suamiku, tapi kalian membuat gara-gara tepat di depan matanya, mereka akan tau siapa suamiku sebenarnya,"


Nadia tersenyum, melihat ke arah orang-orang yang sudah berkeringat di luar mobil, "selamat... " ucapnya.


"un-untuk apa nyonya.. " tanyanya memberanikan diri.


Nadia kembali tersenyum, "selamat menikmati neraka yang di buat suamiku di hidup kalian setelah ini," tegasnya dengan senyuman mematikan.


"Matilah, istri tuan muda tidak sebaik yang di beritakan media, senyumnya bahkan sama menakutkannya dengan milik tuan muda, apa yang harus aku lakukan untuk menghindari neraka ini," batin penjaga itu dalam hati.


"Kau masih tetap membiarkanku menunggu di sini tanpa membuka pintu gerbang hah?" bentaknya lagi yang membuat para petugas di sana kaget.


"Ba.... baik tuan muda... "


"Aku akan masuk ke dalam seorang diri, jangan sampai ada orang yang tau jika aku datang atau kalian akan segera berakhir di tangan istriku," ucap Ibra dengan wajah datar seolah itu adalah hal mudah baginya.


Begitu pintu pagar terbuka, mobil yang di kendarai Aga melesat masuk dengan lenggangnya di tengah-tengah taman bunga yang menjadi akses jalan menuju pintu rumah utama.


"Kau sudah melakukan dengan baik, I am here with you, stay confident and don't be afraid of anything, because I will always protect you, are you ready?" tanyanya pada Nadia.


Nadia mengangguk pasti, "aku selalu mempercayaimu mas, lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, Nadia bisa jaga diri sendiri," jawabnya memberi ketenangan pada Ibra agar tidak merasa khawatir.


Ibra turun dari mobil setelah Aga membuka pintu mobil untuknya, dan dengan kerennya ia memutari mobil dan membukakan pintu untuk Nadia.


Dengan jari Nadia yang memenuhi jarinya, Ibra masuk ke dalam istana itu, riuh kaget para pelayan berhenti ketika Ibra meletakkan jari telunjuk di mulutnya, meminta mereka agar tidak berisik.


"Di mana Anna?"


"Kenapa tante Anna harus ia tanyakan pertama kali setelah sampai di sini,"

__ADS_1


"Nyonya muda berada di dalam kamar yang seharusnya anda tempati tuan muda,"


"Diam dan jangan membuat keributan, jika ada yang melapor, kalian akan berhadapan denganku secara langsung," ancam nya.


Dengan tetap menggenggam tangan Nadia, ia melangkah menuju sebuah kamar yang sudah di siapkan untuknya di rumah ini.


"Mas... "


"Diam saja Nadia, kau hanya perlu mengikuti ku," ucapnya.


Ceklik.


Daun pintu sebuah kamar sedikit terbuka, Ibra dengan yakin melangkahkan kakinya masuk di ikuti Nadia.


"Tidak ada hal baik dengan semua yang di ajarkan oma, aku tidak pernah salah menilai sesuatu," ucapnya.


"Hari ini banyak banget kejutan di hidupku mas,"


"Masih ada banyak kejutan yang lain, kau harus siap kan jantungmu itu agar tetap berdetak dengan kejutan-kejutan yang akan datang," ucap Ibra.


Prang.


Ibra dengan sengaja menjatuhkan sebuah meja hingga pecah dan membangunkan Anna yang sedang tertidur pulas di dalam pelukan seorang pria.


"Apa yang kalian lakukan sepagi ini?" bentak Anna karena merasa tidurnya terganggu.


"Aku hanya ingin melihat apa yang ingin ku pastikan," ucap Ibra.


Anna yang mendengar ucapan Ibra langsung terbangun dan menutupi tubuhnya yang tidak memakai apapun dengan selimut, "I... ini tidak seperti yang kau lakukan Ibra... aku bisa jelaskan,"


"Sudah terlambat, aku tidak bersedia,"

__ADS_1


__ADS_2