Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ketahuan


__ADS_3

Pagi itu media sedang di hebohkan dengan berita keruntuhan IA entertainment, perusahaan besar yang di prediksi tidak bisa hancur sampai tujuh turunan itu kini sudah tidak bisa bertahan, alasan apa yang terjadi di baliknya masih belum di ketahui oleh media, namun beberapa orang beranggapan Ibrahim menyinggung orang yang memiliki kuasa lebih besar darinya, tapi itu hanya praduga dan tebakan saja.


Siapakah yang memiliki masalah dengan Ibrahim Muhammad Attar hingga berhasil menghancurkan perusahaan dengan ratusan ribu karyawan ini!!!


Siapakah yang berhasil mengakuisisi IA entertainment?


Jatuh miskin, Ibrahim Muhammad Attar kini tinggal di rumah kecil milik istrinya.


Alasan di balik bangkrut nya perusahaan raksasa


Berita-berita tentang runtuhnya kerajaan bisnis Ibra kini marak dan menjadi perbincangan di berbagai media, baik televisi, media sosial online maupun surat kabar, pasalnya perusahaan itu masih berdiri dengan gagahnya semalam, namun sudah di beritakan hancur keesokan paginya, benar-benar tidak masuk akal hanya dalam waktu semalam.


Tak hanya itu, berita tentang terluka nya Sakti dan Rafael sebagai tangan kanan Ibra juga terbuka ke media dengan di tambah bumbu-bumbu penyedap berita tentunya, apalagi dengan paparazi yang berhasil mendapatkan gambar Ibra yang datang ke rumah sakit dengan hanya memakai celana pendek dan kaos yang terlihat sederhana sehari sebelumnya, semakin membuat para nitizen semakin yakin dan percaya dengan berita kebangkrutan IA entertainment.


Sepasang mata melihat ke arah kerumunan orang di bawah sebuah bangunan yang ia tempati menggunakan sebuah alat kecil berwarna hitam di tangannya, tanpa sengaja terukir sebuah senyum simpul di bibirnya, "mereka benar-benar datang kemari di pagi buta, bekerja memang bukan hal yang mudah," ucap orang itu di balik kaca hitam itu.


"Semua sudah siap tuan muda," ucap seseorang berpakaian serba hitam itu.


Laki-laki itu menoleh, "kita tunggu beberapa waktu lagi, mereka di gaji bukan untuk mendapatkan informasi dengan mudah," ucapnya menunjuk pada kerumunan orang di bawah sana.


"Jangan menyusahkan orang lain om," ucap gadis belia yang baru sama keluar dari pintu kamar mandi di ruangan itu.


"Ini baik untuk mereka mencari pengalaman, hidup butuh hal-hal seperti ini untuk bisa menghargai sesuatu," jawabnya.


"Panggil Sakti dan Rafael kemari," perintah nya.


"Baik tuan muda," ucapnya kemudian pamit undur diri.


Nadia mendekat ke arah Ibra dan berdiri di sampingnya, menatap kerumunan orang yang berdiri di bawahnya dengan gelisah, ada yang sedang bercengkrama dengan sesama teman wartawan yang lain, ada yang sedang duduk bersila di atas rumput taman rumah sakit menghabiskan sarapannya, ada juga yang sudah memasang kuda-kuda dan siap untuk berlari kapan saja ketika target mereka datang.


"Kenapa om Ibra nggak turun aja dan ngasih penjelasan ke mereka sesuai yang om Ibra inginkan," tanya Nadia polos.


"Entertainment adalah duniaku Nadia, aku tau apa yang harus aku lakukan, mereka tidak akan puas jika aku cepat keluar dan menemui mereka kemudian memberikan sebuah klarifikasi, semakin mereka sulit mendapatkan berita, maka akan semakin eksklusif, dan yang paling penting bukan apa yang kita ucapkan, tapi apa yang mereka lihat, mengerti?" jelas Ibra mengacak-acak rambut kepala Nadia.


Nadia menganggukkan kepalanya tanda mengerti, "kau harus mulai belajar bahwa dunia ini keras, jadi jangan terlalu polos, oke" ucapnya memeluk Nadia dari belakang.


"Aku tau om, aku nggak se polos itu, duniaku lebih kejam dari yang om bayangkan," jawabnya membela diri.

__ADS_1


"Kau harus lebih kuat lagi, aku dan kedua abangmu itu tidak selalu ada untuk menjagamu," ucapnya pada Nadia.


"Kenapa om Ibra ini, dia bisa manja kayak gini juga ternyata," batin Nadia.


"Jangan membicarakan aku dalam hatimu Nadia, hati-hati nanti jadi candu," ucapnya tenang.


"Om kenapa? rumit banget ya masalah nya?" tanya Nadia lembut, gadis itu kini menggerakkan tubuhnya dan berbalik menatap Ibra.


"No, aku memilih buat nggak menyerah, serumit apapun," ucapnya.


Nadia menatap laki-laki di hadapannya beberapa detik, ada sesuatu aneh yang ada di hatinya saat ini ketika menatap Ibra dengan jarak dekat seperti ini.


"Kau baru tau bahwa suamimu ini sangat tampan,"


Nadia tersenyum, "om jauh lebih tampan sekarang," jawabnya.


"Haha, kau sudah berani menggodaku gacil,"


"Ah ah om.... " teriak Nadia saat Ibra menarik gemas hidungnya,


"Om Ibra bandel ya, bisa bisanya di kondisi kayak gini astaghfirullah,"


***


Tok tok tok


"Masuk.... "


Seorang laki-laki berpakaian hitam masuk kedalam ruangan ketika si empunya ruangan sudah mempersilahkan untuk masuk.


"Ada apa?" tanya Sakti.


"Lapor tuan, tuan muda ingin tuan berdua menemuinya segera," jawabnya.


"Pergilah, kami akan bersiap, siapkan tim yang akan mengawal kita keluar, keamanan tuan dan nyonya muda menjadi prioritas saat ini, jangan terlalu mencolok, jangan pakai baju seperti itu, ganti semua," jelas Rafael pada laki-laki yang ada di bawah perintahnya itu.


"Tuan muda ingin kita menunggu beberapa waktu tuan,"

__ADS_1


"Lakukan seperti yang diinginkan tuan muda, jangan lupa mengganti baju," perintahnya lagi.


Laki-laki berpakaian serba hitam itu segera keluar ruangan meninggalkan Rafael dan Sakti di dalamnya, "kau sudah menghubungi Louis?" tanya Sakti.


"Keuntungan kita adalah terbobolnya sistem keamanan Cyber, sehingga kita bisa membuyarkan organisasi itu dan mengalihkannya ke dalam sistem yang sudah aku buat,"


"Sudah tidak ada orang, bersikap lah seperti biasa El, kau selalu melakukan sesuatu yang aneh dan membuatku bekerja keras setelah kau bersikap kaku seperti ini, membayangkan saja aku sudah pusing untuk membereskan masalahmu," kesal Sakti.


"Ehem... ehem.... tes tes," cobanya pada suaranya sendiri.


"Oke, cus nemuin Ibra sekarang," ucapnya yang langsung berjalan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban dari Sakti.


"Aishh dasar kutu kupret....main tinggal-tinggal aja," gerutunya.


Sakti masih mengikuti langkah Rafael menuju kamar Ibra dengan masih bergumam pelan, entah apa yang ia gumam kan sepanjang jalan haha.


"Kenapa kau berhenti, buka pintunya, apa harus aku juga yang membukakan pintu untukmu hah?" ucap Sakti lagi.


"Hust... diamlah," jawab Rafael pelan, namun memberi kode agar Sakti berjalan mendekat kepadanya.


"Apa?" tanyanya kesal namun tetap menuruti ucapan Rafael.


"Sejak kapan mereka sedekat itu? lu pernah liat Ibra meluk cewek kayak gitu?" tanya Rafael pelan.


Sakti yang awalnya tidak terlalu tertarik dengan apa yang di ucapkan Rafael kini matanya membulat dengan sempurna, "wah ternyata tuan muda, ini pertama kalinya,"


"Kapan mereka deket dodol, lu belum jawab gua," ucap Rafael menoyor kepala Sakti karena tidak mendapat jawaban yang dia inginkan.


"Hampir satu tahun yang lalu," jawabnya acuh.


Rafael menatap Sakti kesal, "yang bikin gua nggak habis pikir, kok bisa orang dodol kayak lu jadi sekertaris pribadi Ibra, kalo gua di kasih orang kayak lu sepuluh juga gua ogah," kesalnya.


Sakti tidak terima dan hendak memukul Rafael karena ucapannya, namun tiba-tiba pintu ruangan di depannya terbuka dan muncullah sosok Ibra di sana.


"Kalian yang ngintip tapi kalian juga yang ribut ?" tanya Ibra dengan wajah yang benar-benar tidak bisa di tebak apa yang ia rasakan saat ini.


Kedua laki-laki itu hanya meringis menggaruk tengkuk yang tidak gatal, "kita hanya tidak ingin mengganggu anda tuan muda, itu sebabnya kami menunggu di sini,"

__ADS_1


__ADS_2