
"Tidur lah, Sakti akan mencarikan sebuah kamar," ucap Ibra saat itu.
Bukannya menjawab, Nadia hanya menggeleng, "ini sebagai ganti rugi karena mas Ibra meninggalkan kami berdua sendirian saat ini, jadi Nadia akan ikut kemanapun mas Ibra pergi sekarang,"
"Tapi perutmu semakin membesar, kau pasti akan mudah lelah bukan,"
"Tidak apa-apa, dia juga suka di samping ayahnya," jawabnya dengan senyum.
"Jangan menggodaku saat kita sedang di luar Nadia," bisik Ibra yang sudah sangat gemas sekali dengan istri kecilnya ini.
Sakti yang saat itu mendengar ucapan Nadia segera mengosongkan tempat pertemuan ini, agar Nadia bisa leluasa berada di samping Ibra dengan nyaman.
"Kita sudah menunggu berapa lama?" tanya Ibra yang sudah mulai kesal karena klien yang tidak kunjung datang.
"Sudah empat puluh lima menit tuan muda,"
"Mereka membicarakan perihal keterlambatan?" tanyanya lagi.
"Ponsel mereka tidak ada yang bisa di hubungi tuan muda, bisa jadi karena delay," jelas Sakti.
Tapi bukan Ibra namanya jika bisa bersabar, laki-laki itu sudah cukup bersabar mau menunggu empat puluh lima menit, tapi tidak jika lebih dari itu.
"Kita pergi," ucapnya.
"Baik tuan muda,"
"Kita pergi sekarang Nadia," ucapnya.
Namun tidak ada sahutan dari gadis yang baru saja tertidur lelap, Ibra hanya melihatnya dengan senyum, "bagaimana bisa dia tertidur dengan posisi seperti ini," ucap Ibra tersenyum.
Nadia tertidur dengan kepala berada di atas meja tepat menghadap Ibra, ia bahkan tidak sadar ketika Ibra sengaja menyentuh hidungnya beberapa kali.
"Saya akan membangunkan nona muda tuan," ucap Sakti pada Ibra, karena dia yakin bahwa Ibra akan marah jika Sakti berkata akan menggendong Nadia seperti sebelumnya.
"Biarkan saja, dia sudah menemaniku berhari-hari sampai malam, dia juga pasti lelah, aku masih kuat menggendongnya, kakiku sudah lebih kuat dari sebelumnya."
Sakti tersenyum, "baik tuan, saya siapkan mobilnya," ucapnya kemudian dan pergi lebih dahulu.
Beberapa minggu yang lalu.
Pasca kembalinya Ibra, beberapa hal yang tidak urgent masih di handle secara bergantian oleh Attar, Abrar, Sakti dan juga Rafael.
__ADS_1
Setelah melalui banyak upaya dari semua orang, akhirnya Ibra memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap kondisinya, agar bisa dilakukan penanganan sejak dini.
Hingga suatu hari Luna datang membawa sebuah berkas catatan medis Ibra setelah melakukan banyak sekali cek kesehatan.
"Bagaimana Lun? apa ada masalah yang perlu di tangani dengan serius,"
"Nggak ada kok tan, semuanya normal," jelas Luna sangat yakin.
"Lalu dengan kaki mas Ibra kak?" tanya Nadia tidak kalah gugup.
Luna tersenyum, "dia hanya butuh belajar berjalan perlahan, dan fungsi tubuhnya bisa kembali normal seperti biasa Nadia."
Gurat kecemasan benar-benar masih terlihat di wajah gadis kecil dengan perut yang belut terlihat itu, "jika ada yang belum jelas, kak Luna bisa memeriksa mas Ibra lagi, Nadia tidak ingin ada apapun di kemudian hari," ucap Nadia.
"Aku tidak apa-apa, aku merasa aku baik-baik saja, jangan terlalu khawatir," ucapnya lembut menggenggam jari jemari Nadia.
Sejak saat itu, agar semua orang tidak khawatir dengan keadaanya, ia memaksakan diri lebih keras untuk berlatih, tentunya agar semua sikap protektif yang Nadia dan keluarganya berikan bisa sedikit berkurang.
Contoh 1 :
"Ibra... ayo makan," teriak mommy.
"No mom, Ibra masih harus menandatangani ini," ucap Ibra dengan berteriak juga.
Contoh 2 :
Pagi itu adalah rapat pertama Ibra dengan para tetua perusahaan, ia sudah tampil percaya diri dengan setelan jas yang sudah di siapkan Nadia sesuai dengan request nya semalam, meskipun dengan kaki yang masih sering kesemutan dan ngilu, tapi ia yakin bisa melewati ini semua dengan baik seperti biasanya.
Namun begitu ia membuka pintu kamar, semua orang sudah menunggunya dengan sebuah kursi roda yang siap mengantar Ibra kemanapun ia pergi.
"Apa ini??? "
"Ayo naik, gua yang spesial bawa lu kali ini," jawab Rafael yang mana membuat mata Ibra melotot sempurna.
"Nggak usah gila," jawab Ibra kemudian.
"Udah ayok, lu duduk atau daddy yang bakal gantiin lu," ucapnya menunjuk kepada Attar.
"Daddy come on, ini rapat pertama Ibra dengan para tetua, nggak sopan dong kalo Ibra ke sana pakai kursi roda seperti ini,"
"Ini baik, semua orang di negara ini juga sudah tau bahwa pemilik Delta sedang dalam masa perawatan pasca kecelakaan,"
__ADS_1
"Tapi itu hanya akan membuat seluruh dunia tau kelemahan Ibra dad,"
"Rafael yang akan menjagamu,"
"Aish... terserah terserah... " ucapnya kesal, ia benar-benar tidak suka di atur.
Baru ia mulai berjalan menuju kursi roda, namun langkahnya terhenti dengan Nadia yang juga mengikutinya menuju kursi roda, "kenapa mengikuti Nadia?" tanyanya.
"Ikut... " ucapnya polos dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Hah? kita tidak sedang bermain Nadia," ucapnya masih dengan nada biasa saja.
"Iya.. Nadia tetep mau ikut mas Ibra," ucapnya lagi.
"Mommy juga," ucap Aisyah tidak mau kalah.
Kepala Ibra mendadak pusing saat itu juga, ia reflek melihat pada Sakti yang berdiri di balik dinding karena takut dengan amukan Ibra.
"Apa ini???" ucapnya dengan kode mata.
"Maaf tuan muda, ini di luar kendali saya," balasnya saat itu dengan bahasa tubuh tanpa suara, namun terlihat sekali wajah perasaan bersalah di wajahnya saat itu.
Ibra meremas rambutnya pelan, melupakan rambut yang sudah tertata rapi sebelumnya.
"Huft... terserah terserah... " ucapnya pasrah dan duduk di kursi roda itu.
***
Ibrahim yang terbiasa hidup mandiri dan bebas benar-benar merasa tertekan dengan semua hal yang terjadi selama ia dalam masa pemulihan.
Dengan sekuat tenaga dan tentunya juga atas saran dan petunjuk dari Luna, ia bisa hampir 75 persen kembali seperti semula dan bisa sampai pada tahap ini.
Namun seperti di awal, Nadia tetap mengikuti Ibra kemanapun Ibra pergi, tanpa kecuali seperti saat ini.
Ibra segera menegakkan tubuh Nadia sebelum kemudian menggendongnya dan membawanya keluar, tentunya dengan Sakti yang sudah berdiri di samping mobil berwarna putih mutiara favorit istrinya.
"Hati-hati tuan muda," ucap Sakti.
"Tubuhnya seperti kapas, jangan khawatir," jawabnya pada Sakti setelah berhasil meletakkan tubuh Nadia di atas jok mobil.
Ibra hendak masuk kedalam mobil dengan pintu di sisi mobil yang lain, "Tuan Ibrahim... " sebuah suara menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Urus saja Sakti, aku juga lelah menunggu, ini sudah larut," itu adalah ucapan yang terbaca oleh Sakti dari tatapan mata Ibra.