
Flashback On
Di dalam Kamar Ibra
Ibrahim masih tidur dengan nyenyak nya seoalah ia sudah lama tidak tidur sehingga merasa sangat mengantuk, ia bahkan tidak bergerak ketika Sakti membuka pintu kamarnya, ini tidak seperti dirinya biasanya, ia biasanya langsung sadar jika ada sedikit pergerakan di sekitarnya bahkan ketika ia sedang tertidur.
"Tuan muda masih belum terbangun dari tidurnya, harap tidak membuatnya marah dan akan membahayakan kita semua nona, ini juga untuk keselamatan anda," jelas Sakti memberikan nasehat.
"Aku tau, pergi dan tutup pintunya, kau hanya membuat keributan di sini,'' ucapnya dengan rasa percaya diri bisa mendapatkan Ibra setelah ini.
Tanpa menunggu apa-apa lagi, Sakti menutup pintu itu perlahan sembari menunggu tidak jauh dari sana untuk berjaga-jaga, lebih tepatnya untuk mengetahui kejadian buruk apa yang akan terjadi pada wanita sombong itu.
"Semoga beruntung nona, semoga tuan muda tidak melempar anda keluar jendela, ha ha ha sudah lama sekali aku tidak melihat saat-saat seperti ini," ucapnya tidak sabar, pasalnya terakhir kali ada seorang wanita yang menerobos masuk ke kamar Ibra dan berakhir dengan banyak jahitan karena Ibra melemparnya dari jendela dan terjatuh di semak-semak.
Di dalam kamar, Wanita itu mulai berjalan perlahan ke arah Ibra, wajah tampan laki-laki di hadapannya ini benar-benar membuatnya terpesona, "ia sangat tampan bahkan ketika tidur seperti ini, aku benar-benar harus memilikinya, aku menginginkannya, dia harus menjadi milikku," ucapnya penuh ambisi.
"Bocah tadi bilang kalau Ibrahim kelelahan setelah melakukan olah raga ranjang bersamanya, mungkin kah dia masih tidak memakai .... " ucap wanita itu dengan pikiran yang sudah traveling kemana-mana.
"Tidak ada satu pun lelaki yang bisa mengabaikan pesona ku, apalagi hanya dia, mereka semua akan bertekuk lutut di bawah kakiku seperti kucing di beri ikan asin," ucapnya masih dengan keyakinan yang hanya ia yakini sendiri itu.
Dengan langkah pasti ia duduk tepat di ranjang sebelah Ibra tertidur, wanita itu mengamati dan menyentuh ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di depan matanya.
Namun Grepp, sebuah tangan menghentikan gerakan jari yang bergerak pelan di wajah Ibra, tangan tersebut sangat erat menggenggam hingga wanita itu merintih kesakitan.
"Awww... aw... sakit lepaskan," rintihnya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku hah?" bentak Ibra ketika membuka mata begitu mencium aroma parfum asing menyeruak masuk di rongga hidungnya beberapa saat yang lalu.
Dengan tenaga yang tidak main-main Ibra mendorong wanita itu hingga terjatuh di lantai, "kau pikir aku sesuatu yang bisa kau lihat dan kau sentuh sesuka hatimu, aku bukan pajangan yang bisa kau lihat dengan mata kotormu itu," bentak nya lagi dengan suara semakin keras, namun tidak bisa terdengar hingga keluar karena kamar tersebut memang sengaja di buat kedap suara.
__ADS_1
Sakti yang sejak tadi mengamati di balik pintu, segera masuk ketika ia mengamati jam di tangannya, "sepertinya sudah waktunya aku masuk ke dalam, sebelum tuan muda semakin tidak terkendali," gumamnya dengan cepat membuka pintu kamar.
Wanita yang tadi datang bersamanya sudah terjatuh di lantai yang posisinya cukup jauh dengan ranjang Ibra, di tambah dengan high heels yang patah sebelah semakin membuat wanita itu terlihat mengenaskan.
"Beraninya kau membawa sampah ini masuk ke kamarku hah? siapa yang mengizinkan mu bersikap selancang itu ?" teriaknya pada Sakti.
"Saya minta maaf tuan muda, dia memaksa untuk datang menemui anda, jadi nona..." ucap Sakti.
"Jangan menyebut nama istriku, namanya tidak pantas di sebut untuk membela wanita sepertinya," ucapnya dengan tegas.
"Tapi istrimu yang membuat kesepakatan bahwa dia akan mengizinkan ku untuk menikah denganmu jika aku berhasil menggodamu hari ini,"
Ibra tertawa, "Jelas dia bukan tandinganmu, kau bahkan sudah di bodohi dengan mudahnya,"
"Ini pertama kalinya tuan muda bersikap seperti ini lagi, syukurlah, tuan muda masih seperti dulu, tidak mendengar amarahnya ketika berada di rumah ini benar-benar membuatku takut, aku bisa tenang sekarang," batinnya penuh kelegaan.
"Kau hanya perlu tidur dengan Rafael jika itu tujuanmu datang, bukan aku, keluar sekarang!!!!" teriaknya lagi yang mana semakin mambuat wanita itu bergetar ketakutan.
"Ku bilang keluar, kau tuli hah?" bentak nya lagi.
"Saya akan membawanya keluar tuan muda,"
"Aish, seluruh ruangan ini menjadi bau busuk," kesalnya melempar semua benda di sekitarnya karena kesal kemudian beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
Flashback Off
***
Nadia pergi meninggalkan mereka semua, tiga orang tamu yang datang berteriak sumpah serapah beberapa kali karena di seret paksa keluar oleh petugas keamanan yang bertugas.
__ADS_1
Di depan pintu kamar, Nadia terduduk lemas dengan kaki gemetar, nafasnya terlihat tidak beraturan, ini pertama kalinya ia bersikap seperti itu kepada orang yang lebih tua darinya.
"Ah... apa aku tadi keterlaluan," pikirnya dengan tubuh masih terduduk di depan pintu kamar nya.
Rafael yang tidak sengaja melihat Nadia melakukan itu segera bergerak mendekatinya, "dek, kenapa kayak gitu ?" tanyanya tanpa basa-basi dengan apel yang di gigitnya.
"Abang, bantu Nadia berdiri, kakiku tiba-tiba tidak bertenaga, apa mungkin aku tadi keterlaluan? ini pertama kalinya bagiku bicara seperti itu," ucapnya pada Rafael berterus terang.
Rafael dengan pelan membantu Nadia berdiri dan memapah tubuhnya masuk ke dalam kamar, "hiii merinding, pasti tadi tuh orang kena dorong mas Ibra, kamar sampai berantakan kayak gini," ucapnya lagi begitu melihat kondisi kamar yang sudah tidak karu-karuan, bantal guling dan selimut sudah berserakan di mana-mana.
Bahkan seprei yang tadinya masih terpasang ketika ia meninggalkan kamar, kini sudah berada di sudut ruangan.
"Mbak.... mbak.... " panggil Nadia kepada pelayan.
"Iya nyonya... "
"Bersihkan semuanya, dan jangan biarkan ada bau apapun yang tertinggal, ganti aroma ruangan dengan yang parfum yang biasa aku pakai, jangan membuat kesalahan dan membuat suamiku semakin marah," ucapnya pada pelayan itu.
"Kenapa pake parfum lu dek? gua nggak yakin Ibra bakal sebucin itu," ucap Rafael tidak percaya.
"Nadia juga nggak yakin bang, ha ha ha ha ha ha...... " teriaknya lepas hingga memenuhi seluruh ruangan.
"Woooo.....dasar lu," ucap Rafael gemas dengan mengacak-acak rambut Nadia yang sudah tertata rapi.
"Ini mangkanya di coba, kalo mas Ibra nggak komen, berarti mas Ibra emang bisa bucin,"
"Hallah, ngomong opo, gak jelas" ucap Rafael yang tidak menanggapi serius perataan Nadia di tambah menarik sebagian rambut setengah panjang Nadia sebelum berlari.
"Abang...... kumat kan jahilnya..... awas aja kalo dapet ya..... "ucapnya berlarian mengejar Rafael yang sudah lebih dulu keluar kamar.
__ADS_1