
"Kau menyebutku hantu," ucap Ibra kelepasan.
Nadia melirik Ibra yang masih menatap nya tanpa dosa, "dasar om om genit....nyebelin, ngaku juga kan kalo om yang buka, " ucapnya kesal.
"Kau berani memanggilku seperti itu lagi..... " kesal Ibra mengejar Nadia yang lebih dulu berhasil melarikan diri.
"Nadia... kau mau melarikan diri lagi hah?" teriaknya terdengar di penjuru rumah.
"Dia selalu meninggalkan ku ketika aku hendak marah, awas aja ntar kalo ketemu, aku tidak akan membiarkan nya pergi dari pelukanku," gumam Ibra.
Begitu tersadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan, Ibra menepuk mulutnya pelan, "istighfar Ibra, sabar... sabar.... harus bisa kendaliin pikiran setan itu,"
Huft... huft... huft... Ibra menarik nafas berkali-kali untuk menenangkan dirinya.
"Pelayan..... pelayan..... " teriak Ibra kemudian di depan pintu kamar.
Beberapa pelayan datang dengan segera begitu mendengar teriakan Ibra di lantai dasar, "ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya salah seorang di antara nya dengan kepala menunduk.
"Bersihkan kamar ini, jangan biarkan istriku membersihkan sendiri, jangan buat nyonya melakukan pekerjaan sedikitpun," jelasnya memberi peringatan.
Tetap dengan pakaian rumah yangg biasa ia kenakan, Ibra berjalan ke ruang tengah dengan menggunakan kaos dan celana hitam panjang.
Semua orang yang bertemu dengannya menghentikan aktifitas sembari menundukkan badan, ini adalah kali pertama Ibra berada di rumah ini, sehingga Sakti sedikit memberikan materi kepada semua orang yang tinggal di rumah itu tentang bagaimana cara bersikap di depan Ibra.
Tentu saja hal itu untuk menghindari kemarahan Ibra dan menjaga emosinya, Ibra sangat tidak suka ketika di lihat seperti sebuah pajangan, hal ini membuat Sakti meminta seluruh orang untuk menundukkan kepala ketika ada Ibra di hadapan mereka.
"Tuan ku... " panggil Aga yang sudah berada di belakang Ibra.
Ibra menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Aga, "ada apa?"
"Saya hendak pamit, tuan Sakti dan tuan Rafael sudah berada di sisi anda, saya tidak perlu khawatir tentang keselamatan anda jika beliau berdua sudah datang," jelasnya.
__ADS_1
"Aku lapar, kita makan saja dulu," ucapnya pada Aga.
"Saya minta maaf tuanku," ucapnya penuh sesal karena berbicara dengan Ibra dalam keadaan lapar.
***
Ruang Makan
Sakti menenangkan Rafael yang sejak tadi mengucapkan sumpah serampah tiada henti kepada Ibra, ia kesal bukan main, tapi ia tidak bisa kesal karena dirinyalah yang memberikan obat itu kepada Ibra.
"Sudahlah El, tuan dan nona muda sudah menikah, jangan seperti ini, tenangkan dirimu, "
"Tapi gua ngasih dia obat karena gua belum tau kalo Nadia adek gua,"
"Sebelumnya dia adik kita berdua, kita melakukan itu karena dia adik kita, kita ingin dia bahagia dan jadi adik kita selamanya dengan tetap menjadi istri tuan muda, karena itu kita harus membantu mereka dengan memberi tuan muda obat malam itu," jelas Sakti mengingatkan kembali.
"Huft... "
"Kenapa kalo Nadia adik abang? Nadia nggak boleh melakukannya dengan suami Nadia sendiri?" tanya Nadia yang mendengar pembicaraan kedua laki-laki itu di balik dinding.
"Sini dek," ajak Rafael.
Nadia mendekati Rafael dan berdiri di tengah-tengah antara Sakti dan Rafael, "abang nggak bisa tenang sejak tadi, ini nggak seperti abang yang biasanya, tenang abang..." ucap Nadia mengelus punggung Ibra pelan.
Rafael menatap mata adik perempuan satu-satunya itu, "diantara kita bertiga, gua yang paling sering main sama cewek-cewek di luar sana, uhmm bukan paling sering deh, lebih tepatnya emang hanya gua, hanya gua yang main sama mereka,"
Nadia dan Sakti masih setia mendengar kelanjutan penjelasan dari Rafael, "tapi yaudah lah, Ibra nggak akan ninggalin lu kayak gua ninggalin mereka semua setelah gua tidurin, meskipun gua tetep nggak tenang," tambahnya.
"Seandainya nanti mas Ibra ninggalin Nadia, Nadia kan masih punya abang yang bakal selalu ada bagaimanapun kondisinya, iya kan?" tanyanya memastikan.
"Dan berita bahagianya, abang Nadia nggak cuma bang El, tapi ada bang Sakti, kalian berdua... "
__ADS_1
"Saya minta maaf nona, tapi... jika itu benar-benar terjadi, saya minta maaf tidak bisa mendampingi anda, karena saya harus mendampingi tuan muda, saya yakin, saat itu tuan muda juga pasti sedang hancur-hancurnya, seperti anda yang butuh seseorang di sisi anda, tuan muda juga butuh seseorang di sisinya," jelas Sakti memotong ucapan Nadia.
"Abang bisa jaga kamu seorang diri, don't worry... " ucap Rafael tersenyum memeluk pelan tubuh kecil di sampingnya, ia faham dengan apa yang di rasakan Sakti hingga bicara seperti itu.
"Oke cukup, sekarang kita di sini lagi kumpul bareng, kita harus bahagia, nikmati liburan kita di sini, jadi jangan mikir yang belum terjadi, abang jangan terlalu parno,"
"Banyak banget soalnya cewek yang gua tinggal, gua takut sama karma tau nggak," jawab Rafael dengan nada yang kembali pecicilan seperti biasa.
***
Bersama Aga, Ibrahim sudah sampai di depan meja makan yang sudah full dengan makanan, matanya fokus dengan tiga orang yang sangat di kenalinya sedang duduk di mini bar rumah ini.
Sreett, suara Aga menarik kursi untuk tempat duduk Ibra membuyarkan pembicaraan Nadia, Sakti dan Rafael.
"Anda sudah datang tuan muda.. " ucap Sakti yang segera bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Ibra di ikuti oleh Nadia dan Rafael.
"Silahkan tuanku," ucap Aga mempersilahkan kursi utama di meja makan itu.
Ibra hendak mendaratkan tubuhnya di atas kursi itu, namun suara seseorang menghentikan nya, "maaf tuan... tapi kursi itu milik kepala keluarga di rumah ini, dan itu adalah tuan Rafael, jadi anda tidak punya hak duduk di sana," jelas bu Ani yang baru saja datang.
"Tapi mas Ibra suami Nadia bu, sudah seharusnya suamiku duduk di sana, rumah ini miliknya," jelas Nadia.
"Maaf nona, anda hanyalah adik dari tuan Rafael, artinya tuan Rafael adalah saudara tertua anda, jadi kursi itu miliknya, tuan Ibra hanya orang luar yang masuk ke dalam anggota keluarga ini," jelasnya.
"Tutup mulutmu," bentuk Aga yang tidak Terima dengan ucapan yang keluar dari mulut bu Ani.
"Bu Ani... Ibra adalah kepala keluarga di sini, jadi jaga bicara ibu kedepannya," tegas Rafael.
Tanpa menghiraukan ucapan dari bu Ani, Ibra tetap mendaratkan tubuhnya di atas kursi itu, "saya menghormati anda karena waktu yang sudah anda habiskan bersama keluarga Rafael, jadi tolong jangan membuat keributan yang akan membahayakan hidup anda sendiri,"
"Saya akan mengurusnya tuan muda,"
__ADS_1
"Makanlah dulu, kalian juga, duduk dan makanlah," ucapnya dengan menarik pergelangan tangan Nadia.
"Ibra marah... dia diam karena menghormati hubungan gua sama bu Ani, gua udah bilang bu Ani sebelumnya," batin Rafael menatap bu Ani sedikit kesal