Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Kode Ibra


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, kehidupan Nadia berjalan seperti biasanya, bedanya saat ini Sakti dan Rafael sudah tidak tinggal di rumah kecilnya, lebih tepatnya sudah jarang pulang ke rumah, entah apa yang menjadi alasan mereka, "mungkin mereka berdua sibuk," itu satu-satunya alasan terlogis yang bisa di pikirkan Nadia.


Sakti hanya mengantarkan Ibra di depan pintu rumah, bahkan tidak masuk untuk sekedar menyapanya.


Ibra masih tinggal di rumah bersama nya, dengan seorang pembantu rumah tangga dan seorang tukang kebun sekaligus penjaga rumah yang tiba-tiba datang beberapa hari yang lalu atas perintah Ibra.


Setiap harinya Ibra pulang sangat larut dan berangkat pagi-pagi sekali, ia bahkan selalu melewatkan sarapan sehingga membuat Nadia selalu menyiapkan bekal makanan untuk suami dan abang-abangnya setiap hari, meskipun tanpa di minta oleh siapapun.


Sejak Rafael berkata tempo hari, sebenar nya dirinya seperti sudah mendapat sinyal kalau akan terjadi sesuatu, seperti kode rahasia yang sengaja Rafael tunjukkan padanya, meskipun masih penuh dengan teka-teki.


Tapi Nadia berusaha tidak bertanya apapun kepada ketiganya, "kita masih harus saling memiliki privasi satu sama lain, aku tidak boleh terlalu banyak bicara, pada akhirnya aku juga akan meninggalkan mereka," batin Nadia ketika di rumah seorang diri.


"Nadia.... " teriak Ibra.


Yups, ini sudah pukul 23.00 malam, beberapa menit yang lalu Ibra baru saja datang di antar sopir yang Nadia sendiri tidak kenal siapa.


"Apa om....?" teriak Nadia kemudian berlari dengan terburu-buru ketika mendengar teriakan Ibra.


"Cepat kemari," ucapnya lagi.


"Bukannya aku sudah menyiapkan baju untuknya, kenapa om Ibra masih teriak-teriak,"


Gadis dengan rambut di kuncir kuda itu berlari menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, beberapa kali kaki kecilnya melangkahi dua anak tangga sekaligus.


Tepat berada di depan pintu kamar, ia mengatur nafasnya yang memburu kemudian membuka pintu kamar perlahan.


"Om ini bukan hutan... " ucapnya meniru ucapan Ibra ketika dirinya teriak-teriak sebelumnya.


Tatapan matanya berhenti ketika melihat Ibra berdiri dengan handuk putih melingkar di pinggangnya, tubuh putih bersih dengan rambut basah itu benar-benar sangat mempesona, di tambah roti sobek di perutnya, "ahh benar-benar pemandangan yang langka, sangat jarang melihat om Ibra seperti ini..... " batin Nadia.


"Astaghfirullah Nadia, ini otak jadi gini amat astagfirullah astagfirullah," sadar Nadia.


"Terpesona..?" tanya Ibra yang semakin memperlihatkan senyum nakal ketika melihat reaksi Nadia.


"Memang sangat mempesona," ucap Nadia jujur, mau jaim juga udah keliatan banget, haha.


Ibra tersenyum mendengar ucapan jujur yang keluar dari mulut gadis kecilnya itu, "kau tidak malu mengatakan itu padaku hah gadis kecil ?"

__ADS_1


Nadia menggeleng, "om Ibra memang mempesona, yakin 1000 persen," ucapnya kemudian menaikkan jempol kanannya ke udara.


"Perasaan dulu ada tuh yang bilang kalo ada yang pengen menikah dengan ku dia hanya ingin hartaku saja," jelas Ibra pura-pura marah, Laki-laki itu kemudian duduk di atas sofa dengan kaki kiri naik di atas kaki yang lain dengan gagahnya.


Sekali lagi Nadia tersenyum sembari menatap Ibra, gadis itu tersenyum tanpa dosa, ia teringat ucapannya pada Attar dulu ketika hendak menandatangi perjanjian pernikahan dengan Ibra, "Jika dia adalah suami impian setiap orang, apa mungkin anda perlu memaksa saya menikahinya dengan cara seperti ini." jawab Nadia saat itu.


"Mungkin banyak yang ingin menikahi harta putra anda tuan, tapi saya ragu jika benar-benar ada yang menginginkan putra anda, bukankah itu juga alasan anda membuat perjanjian ini ?"


Nadia tersenyum mengingat perkataannya yang terlalu sembrono saat itu, alhamdulillah nya Attar dan Aisyah adalah orang baik, jika tidak, mungkin dia sudah di lempar ke tebing hutan dan di makan oleh hewan liar.


"Mommy dan daddy nggak akan sampai hati buat buang kamu jauh-jauh ke hutan, jangan mikir yang aneh-aneh tentang mereka setelah ini," ucap Ibra yang saat ini mendekat dan menyentil kening kepala Nadia.


"Hehe om tau aja pikiran Nadia, om tadi kenapa teriak-teriak gitu," tanyanya lagi.


"Kemari... '' ajak Ibra lagi, laki-laki itu berjalan menuju ruang kerja di ikuti Nadia di belakangnya.


Ibra sudah duduk di meja kerjanya dengan Nadia berdiri di sampingnya, " kenapa om? lama nggak? aku ambil kursi dulu," ucapnya.


"Kemari," ucap Ibra menarik tubuh Nadia tiba-tiba di pangkuannya.


Nadia yang mendapat gerakan tiba-tiba itupun menegang seketika, di tambah Ibra masih hanya memakai handuk dengan dada terbuka, "ini posisi yang benar-benar tidak menguntungkan," pikir nya.


Nadia berusaha tenang ketika seluruh tubuhnya sudah berkeringat dingin dan hampir tidak bisa bergerak, "tenang Nadia tenang," dengan sedikit memaksa ia memutar kepalanya menghadap sesuatu yang di tunjuk oleh Ibra.


"Perjanjian pra nikah ?"


Kening Nadia berkerut, kemudian manik mata itu menatap Ibra sendu seolah bertanya, "ada apa?"


"Kau sudah memiliki rencana setelah perjanjian ini selesai gacil ?" tanya Ibra tenang.


Nadia terdiam, sejujurnya ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan secepat ini dari Ibra, pasalnya kehidupan yang ia jalani saat ini benar-benar membuatnya berada di zona nyaman, sehingga membuatnya berat untuk melangkah pergi, namun sekali lagi gadis kecil itu memaksa senyum manis keluar dari bibir kecilnya, "Pelajaran ku hampir selesai om, aku akan pergi setelahnya," ucap Nadia.


"Kau sudah punya tujuan ? aku bahkan belum menepati janji untuk menemukan keluargamu,"


"Aku punya rencana sendiri om," senyumnya.


Ibra melihat gadis di depan matanya ini dengan tulus, kemudian tangannya bergerak menarik hidung Nadia gemas.

__ADS_1


"Kau bahkan tidak berencana membagi rencana mu dengan ku hah?" ucap Ibra kemudian.


"Tidak ada yang istimewa om, beneran," ucap Nadia dengan tangan membentuk huruf V di udara.


"Aku masih nggak rela kalau gadis kecil abang ini di miliki orang lain nanti," ucap Ibra memeluk Nadia gemas.


"Ini sudah cukup Nadia, om Ibra seperti ini sudah lebih dari cukup, terlalu serakah hanya akan membunuh diri sendiri," hiburnya pada diri sendiri.


"Satu bulan ini mau main nggak ?" ucap Ibra.


"Main apa om?"


"Main sandiwara suami istri,"


"Emang suami istri om Ibra... " jawab Nadia.


"Sandiwara aja,"


"Untuk ?"


"Uhmm, Kita harus membuat kenangan Nadia,"


"Itu hanya untuk orang yang saling mencintai om,"


"Hanya pura-pura, aku rindu rasanya memiliki hubungan seperti pasangan pada umumnya, kamu mau aku memiliki hubungan dengan wanita lain yang jelas-jelas haram ku sentuh hahhhh?" ucap Ibra tegas.


"Iya iya, ish om emang nomor satu kalo ngomong," ketus Nadia kemudian berdiri dari pangkuan Ibra.


Gadis kecil itu melangkah keluar tanpa sadar Ibra sedang memperhatikan dari belakang, rambut kuncir kuda itu terlihat bergoyang ke sana kemari mengikuti gerakan tubuh Nadia yang berjalan.


Sudut bibir laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan, "dia memang selucu itu, pipinya bahkan sangat merah ketika aku bicara dengannya,"


***


Note


Alasan Author jarang update sekarang karena ada beberapa hal yang membuat author harus lembur kerja sampai malam, pulang kerja udah langsung pengen istirahat dan nggak bisa menemukan inspirasi untuk menulis.

__ADS_1


Author minta maaf buat yang merasa kecewa karena updatenya lama, bisa juga di skip bacanya, agar tidak menambah kekecewaan di hati kalian dan author juga.


Semangat semua, sehat selalu.


__ADS_2