Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Hari H


__ADS_3

Sebuah tangisan bayi menghentikan semua aktifitas para orang tua itu, semuanya saling memandang penuh senyum.


Hingga tak lama, Ibrahim keluar dari balik pintu dan berlari memeluk Aisyah dengan mata lembab karena berair, "bagaimana Nadia?" tanya Asiyah mengelus lembut punggung putra kesayangan nya itu.


"Dia masih berada di dalam, Luna memintaku untuk keluar dan membersihkan Nadia sebentar," ucapnya dengan masih memeluk tubuh ibunya itu.


"Kau menangis?" tanya Aisyah yang sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan Ibra saat ini.


"Cucu daddy bagaimana?" tanya Attar dan Abrar bersamaan.


"Apakah seorang putra Ibra?" tanya Louis yang juga penasaran.


"Daddy ingin memiliki cucu seorang putri, tapi seandainya dia seorang putra juga tidak masalah," tambah Attar ketika Ibra tidak kunjung menjawab.


Ibra berbalik menatap Attar, "dia seorang putri," jawab Ibra pelan dengan senyum keluar dari bibirnya.


"Apakah cuma satu? benar-benar tidak ada yang nyelip ya? aku tetap masih menginginkan seorang cucu putra," ucap Abrar spontan begitu saja.


"Dan seorang putra untuk daddy Abrar," jawab Ibra.


"Yeay..... benarkah???" teriak Abrar dan Attar bersamaan lagi, keduanya bahkan saling berpelukan karena bahagia.


"Jangan khawatirkan soal biaya karena mereka lahir bersamaan, daddy akan membiayai seluruh kebutuhan putrimu sampai ia dewasa," ucap Attar begitu saja sangat senang.


"Daddy juga akan memberikan support biaya untuk jagoanku, cucu laki-laki ku akan ku ajarkan semua hal baik sedari kecil," tambah Abrar bangga.


"Aku masih bisa membiayai mereka meskipun aku memiliki 3 bayi kembar sekaligus," ucap Ibra tidak Terima.


Suara tawa sontak keluar dari mulut mereka semua mendengar ucapan Ibra itu.


"Kau bisa melakukannya, tapi kami juga ingin memberikan semua yang kami miliki untuk mereka, gunakan uangmu itu untuk anak anakmu yang berikutnya nak, keluarga ini harus memiliki banyak sekali keturunan nanti," tambah Aisyah yang juga ikut senang karena antusias semua orang di sana.


Sakti yang baru saja tiba segera mengurus semua berkas dan kebutuhan tuannya di rumah sakit, karena Ibra sudah bisa di pastikan akan selalu berada di sisi Nadia, jadi Sakti sedikit mengubah interior kamar rawat inap yang akan di tempati Nadia dan Ibra untuk sementara, agar tuan dan nona nya itu merasa nyaman.


"Hidungnya mirip Ibra, tapi bola matanya keduanya mirip Nadia, tapi lihat bentuk bibir jagoanku itu, dia nanti pasti akan menjadi pencium yang handal, bibirnya sangat sexy untuk seorang anak laki-laki,"

__ADS_1


"Daddyyyy..... '' seru semua orang yang ada di sana.


***


Setelah menyelesaikan semua hal, Luna meninggalkan semua orang di sana untuk menemui kekasihnya, "mumpung berada di rumah sakit," begitu pikirnya.


Selama ini Luna memang tidak begitu aktif di rumah sakit, tidak seperti di negara yang ia tempati sebelumnya, ia masih bisa bekerja dan menjadi dokter pribadi Ibra secara bersamaan.


Sejak Ibra mengalami kecelakaan dan sakit, ia harus terus mengawasi dan memantau langsung kondisinya, ditambah dengan kehamilan Nadia yang juga di pasrahkan padanya sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk bekerja di rumah sakit seperti sebelumnya yang tentunya juga tidak bisa bertemu kekasih nya yang juga berprofesi sebagai dokter.


"Apakah dokter William ada?" tanya Luna pada salah seorang perawat yang berdiri tidak jauh dari ruangan bertuliskan dr. william itu.


"Ah... anda siapa? apakah sudah ada janji, dokter william sedang ada tamu,"


"Ah aku akan menunggunya, aku tau menjadi dokter adalah pekerjaan yang sibuk," ucapnya yang memang faham seperti apa sibuknya menjadi dokter.


"Uhm... aku akan menunggunya di lobby depan sebelah sana, tolong jangan bilang jika ada yang mencarinya, aku ingin memberi kejutan, " ucap Luna saat itu yang mendapat anggukan dengan senyum.


"Baik nona," jawabnya.


Sepuluh menit Luna menunggu, tak lama ia melihat kekasihnya itu berjalan bersama seorang wanita, tidak terfikir apapun, Luna dengan riangnya bangkit dari duduknya dan memeluk William dari belakang.


"William... " ucapnya dengan senang.


Namun sebuah tangan menarik dan mendorongnya dengan kasar, "apa yang kau lakukan dengan lelakiku, berani kau menyentuhnya?" teriak wanita di sampingnya itu kalap.


"Lelakiku?"


Semua orang kini menatap sumber keributan di lobby rumah sakit, untungnya hari ini rumah sakit tidak sepadat hari biasanya, sehingga hanya beberapa orang saja yang melihat kejadian itu.


Luna terdiam di tempatnya, ia menatap pemandangan di depannya dengan tidak biasa, "inikah rapat yang selalu kau sebutkan? apa dia juga dokter di rumah sakit ini? atau pasien yang sering kau ceritakan itu?" tanya Luna.


Luna memang sedikit lebih kuat dari wanita pada umumnya, meskipun terlihat jelas sayatan luka di matanya, namun tidak sedikitpun air mata menetes saat itu, ia bahkan masih berbicara dengan nada suara terkontrol, tidak menggila di saat saat seperti ini saja sudah bagus, begitu pikirnya.


"Apakah sekarang memang sedang lagi trend perebut laki-laki orang bertindak seolah-olah yang tersakiti," tambah Luna.

__ADS_1


"Diam Luna, kita bicara lain kali, terlalu banyak orang di sini," ucap laki-laki bernama William.


"Pilih aku atau dia?" tanya Luna lagi.


"Kau masih bertanya? tidak akan ada seorang pun yang akan menjadikan dokter tidak kompeten sepertimu menjadi istri, kau dokter gagal, tidak ada yang bisa ku harapkan dari mu tentang hubungan ini kedepannya," ucap William tidak peduli lagi saat semua orang semakin memperhatikan mereka.


"Aku dokter bedah jantung dan paru yang paling kompeten di sini, masa depannya bersamaku akan lebih jelas dan cemerlang di bandingkan dengan dokter kampung yang selalu berpindah-pindah sepertimu," ucap wanita di sampingnya dengan bangga.


"Aku dokter kampung?" ucap Luna mengkerutkan dahinya.


"Lagi pula kau pasti juga sudah menjadi simpanan temanmu Ibra itu, kau selalu bepergian ke sisinya, bahkan saat kita hendak menghabiskan malam panjang penuh gairah, semua terhenti karena panggilan ponsel dari teman-teman mu itu kan, dasar tidak berguna,"


Plak


Sebuah tamparan jatuh begitu saja ketika William berucap buruk tentang Ibra, "Kau.... "


Plak


Rafael yang saat itu tengah berlari terburu-buru hendak melihat adik dan keponakannya terhenti karena riuh bisik-bisik orang mengalihkan perhatiannya.


"Ada apa tuan?"


Rafael masih mengamati apa yang menjadi icon dan memicu keributan di rumah sakit seperti ini, "Luna...? kenapa dia di sana di depan banyak orang begitu," ucap Rafael.


"Berani menyentuhnya, jangan pernah menyentuh lelakiku seperti itu dokter gadungan." ucap wanita itu dengan tangan yang sudah terangkat di udara.


"Ho.. ho..kau tidak ingin dia menyentuh lelakimu ? aku juga tidak suka kau menyentuh wanitaku,"


***


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.


Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe


Salam sayang semua.

__ADS_1


__ADS_2