
"Bagaimana jika bang El tidak tertarik dengan yang lebih baik mas, bagaimana jika nanti dia berjodoh dengan pelayan ta... "
"Hus... jangan berbicara yang tidak-tidak, bagaimana jika benar-benar menjadi nyata,"
"Tidak apa-apa mas, hihi... "
"Jika benar begitu maka aku juga akan membuat. mereka bahagia di bawah kuasaku,"
Nadia melihat suami yang duduk di sampingnya itu, "kenapa mas Ibra terobsesi untuk membahagiakan semua orang ?"
"Uhm... karena aku pasti juga akan terluka jika mereka tidak bahagia, dan jika aku tidak bahagia maka akan berpengaruh pada mu, jika sesuatu terjadi padamu maka kebahagiaan anak-anak kita juga akan terganggu,"
"Jadi... " ucap Nadia masih menunggu penjelasan suaminya ini.
"Jadi... aku harus membuat semua orang yang ada disisi ku bahagia agar aku juga bisa bahagia dengan tenang, aku sangat menyayangi diriku karena itu aku tidak ingin membuat semua orang di sisi ku terluka yang mana... sudah pasti akan membuatku terluka juga," jelas Ibra.
"Ooh... " ucap Nadia manggut-manggut.
"Sudah jelas nyonya Ibrahim," ucap Ibra membuat istri kecilnya ini tersenyum.
"Sudah.... ayo... kau masih harus banyak istirahat," ucap Ibra kemudian. menggendong Nadia dan membaringkan perempuan kecilnya ini di ranjang besar milik mereka.
"Tapi temenin... hehe... " ucapnya menggenggam erat lengan Ibra begitu meletakkannya agar tidak pergi.
"Aku tetap di sini... tapi biarkan aku berganti baju dulu," ucapnya lembut mengecup kening Nadia.
"Dia sudah seribu persen berubah, aku tidak pernah menyesal dengan apa yang ku pertahankan saat itu, terimakasih sudah membuatku yakin padanya Tuhan,"
***
Setelah beberapa hari berlalu, namun Rafael masih tetap mendiamkan semua orang, ia hanya keluar ketika hendak berangkat bekerja, dan kembali langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Rafael.... makan dulu nak,"
"El nggak lapar mom, nanti El makan di kamar," teriaknya tanpa melihat semua orang yang tengah berkumpul di sana.
Laki-laki itu hanya datang ke kamar ponakannya dan menghabiskan semua waktunya di sana tanpa mengizinkan siapapun masuk ketika dirinya sedang berada di dalam sana.
"Apakah abang El masih di dalam?" tanya Nadia.
"Tuan Rafael masih berada di dalam nyonya," jelas perawat itu.
"Abang tidak pernah ingin bertemu kami semua dan banyak menghabiskan waktu di sini, apakah cintanya dengan kak Luna sudah se buta itu?"
__ADS_1
"Anda di sini nyonya," sapa Aga yang kebetulan lewat di sebelah sana.
"Pak Aga...ikuti aku," ucapnya meninggal kan ruangan itu.
Aga masih mengikuti Nadia yang ada sudah lebih dulu berjalan di depannya ke dalam sebuah ruangan, ruangan kerja milik Nadia menghabiskan waktu dan membantu pekerjaan Rafael.
"Laporkan semua tentang bang El,"
"Hah?" jawab Aga bingung.
"Ayo cepat, laporkan saja, nanti aku yang akan membicarakan ini dengan mas Ibra," ucapnya.
"Tapi apa yang harus saya bicarakan nyonya, tuan Rafael baik-baik saja, tidak ada masalah apapun yang terjadi pada beliau, beliau bekerja seperti biasa dan kembali ke rumah ini seperti biasa juga, tidak ada sesuatu hal yang merusak moodnya dan membuat beliau marah akhir-akhir ini, tapi memang tuan Rafael menjadi sedikit pendiam dari biasanya nyonya, seperti laut yang tenang tanpa ombak dan gelombang," ucapnya.
"Dia tidak berkata apapun ?" tanya Nadia lagi.
"Tuan Rafael tidak berkata apapun selain pekerjaan kepada saya nyonya, tapi bukankah baik jika tuan Rafael tenang seperti ini nyonya,"
"Bahkan laut yang surut tanpa gelombang bisa menyebabkan tsunami yang begitu besar, Hati-hati jika berbicara pak, tenang tidak sepenuhnya baik,"
"Huft... abang kalo cemburu serem juga sih, mas Ibra aja kalah serem," ucapnya masih bingung harus bagaimana membuat Rafael. kembali ceria seperti dulu.
"Baiklah pak, bapak bisa pergi,"
"Uhmm... tapi memang ada sesuatu hal sedikit aneh nyonya,"
"Hah... apa apa?" tanya Nadia penasaran.
"Tuan Rafael beberapa hari ini sudah menolak hampir delapan puluh dua wanita yang dikirim tuan Ibra,"
"Mas Ibra mengirimnya?" tanya Nadia lagi tidak percaya.
"Bapak yakin semuanya delapan puluh lima?" tanya Nadia lagi mengulang dengan mata melotot tak percaya, "bagaimana mas Ibra mengenal semua wanita sebanyak itu dalam beberapa hari," pikirnya.
"Delapan puluh dua nyonya, itu bukan delapan puluh lima," ucap Aga membenarkan.
"Mas Ibra mungkin juga prihatin dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh bang El, dia bahkan mendiamkan kak Luna," batinnya.
"Kenapa abang El menolaknya ?" tanya Nadia lirih.
"Tuan muda hanya berkata sedang lelah nyonya, apa saya harus memberinya kuning telur dan madu agar beliau kembali kuat nyonya," ucap Aga dengan polos yang langsung mendapat sebuah lemparan buku kecil.
***
__ADS_1
Rafael baru saja keluar dari kamar milih Kanaka dan Kanaya, laki-laki itu keluar ketika kedua keponakan kecilnya itu tertidur.
"Abang... " panggil Nadia dengan manja dan bergelayut di tangan kanan abangnya itu.
"Ada maunya ya, apa yang Ibra nggak bisa kasih ke lu?" tanya Rafael yang sudah merangkul adik kecilnya ini.
"Lu nggak malu gelendotan gini sama gua, lu udah punya bayi," ucapnya lembut pada Nadia dengan tetap membiarkan adiknya ini bertumpu di badannya.
"Abang... ajarin Nadia dong, ada ide game baru yang pengen Nadia kembangkan, sama mas Ibra nggak boleh karena Nadia masih baru melahirkan,"
"Nunggu mereka sedikit besar oke," ucap Rafael.
Nadia membawa Rafael ke sebuah taman dengan kebun bunga dengan luas yang Nadia sendiri tidak bisa mengukur seberapa luasnya.
Disela-sela keheningan di antara mereka, "Nadia nggak nyangka abang bisa secinta ini sama kak Luna," ucap Nadia menyandarkan kepalanya di pundak Rafael.
Rafael masih diam, seolah enggan menjawab ucapan adik perempuan nya ini.
"Meskipun nggak bilang, mas Ibra juga pasti khawatir dengan semua ini, dia pasti bingung akan membela siapa jika abang dan bang Sakti saling memperebutkan kak Luna," ucap Nadia sengaja memancing dan memprovokasi.
"Siapa yang saling memperebutkan? nggak ada rebut-rebut, kalo Sakti mau yaudah biar dia bahagia sama Sakti, nggak ada kompetisi dek," ucap Rafael sedikit keras.
"Jika seperti itu maka jangan mendiamkan semua orang,"
"Aku tidak diam,"
"Bersikap saja seperti biasa bang, berteriak saja... cari keributan dengan semua orang yang abang temui bahkan jika itu daddy Abrar, lakukan saja semua yang abang mau, jangan diam dan membuat rumah ini menjadi sepi," ucap Nadia sedih.
"Huft.... "
"Abang... "
"Nadia... uhm... gua alay ya?"
"No... jika itu mas Ibra mungkin aku juga akan membunuh wanita itu, tapi sayangnya abang El tidak bisa membunuh laki-laki itu karena laki-laki itu bang Sakti kan?"
Rafael yang setuju dengan ucapan Nadia mengangguk tanpa sadar, "tapi gua bisa bunuh Sakti kalo gua mau,"
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
__ADS_1
Salam sayang semua.