
"Saya akan mengurusnya tuan muda,"
"Makanlah dulu, kalian juga, duduk dan makanlah," ucapnya dengan menarik pergelangan tangan Nadia.
"Ibra marah... dia diam karena menghormati hubungan gua sama bu Ani, gua udah bilang bu Ani sebelumnya," batin Rafael menatap bu Ani sedikit kesal.
Terlihat jelas kemarahan di wajah bu Ani ketika Ibra tanpa menghiraukan perkataannya lngsung duduk di kursi itu, meskipun hanyalah sebuah kursi, namun ada perasaan sakit di hati bu Ani ketika bukan Rafael yang duduk di sana.
Namun tanpa ambil pusing dengan reaksi bu Ani, Nadia segera duduk di kursi tepat di samping Ibra seperti biasa dan mengambilkan makanan, "mas mau makan apa?" ucapnya berusaha menyenangkan hati suaminya itu.
"Roti selain kacang," jawabnya datar.
"Biar saya saja nona, anda tidak pantas melakukan nya, anda hanya cukup duduk dan makan dengan nyaman," ucap bu Ani yang sudah merebut roti dan pisau dari tangan Nadia.
Ibra melirik bu Ani tajam, "tidak pantas?" ucapnya dengan nada penuh amarah, Ibra hendak berdiri namun tangan Nadia menahannya, mata gadis itu menatap lembut bola mata Ibra berharap Ibra bisa lebih tenang.
Tak lama, Nadia berganti menatap bu Ani yang berdiri di antara dirinya dengan Ibra, "Selain aku, tidak ada yang pantas melayaninya seperti ini bu, dia suamiku, bukan suami pembantu, jadi aku yang harus melayaninya, aku tidak tau hubungan apa yang sudah terjalin antara anda dan keluarga yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, tapi aku, tanpa suamiku, aku tidak ada di sini sekarang, tanpanya aku juga tidak akan mengenal bang El dan semua fakta ini tidak akan terungkap, " tegas Nadia.
"Tapi dia penyebab kehancuran keluarga anda nona, dia harus membayar semua yang terjadi di keluarga ini,"
"Membayar? dengan cara apa? apa aku harus membunuh nya, atau harus menghancurkan keluarganya?" cerca Nadia dengan banyak pertanyaan.
''Dia juga hanya korban bu, apakah pantas kita meminta keadilan kepada seseorang yang jauh lebih banyak menerima ketidakadilan?" tanyanya lagi.
''Dek.... ''
"Nona terlihat sangat marah, ini sangat fatal"
"Pak Aga, perusahaan dan rumah ini ada di bawah kendali anda, aku sebagai nyonya Ibrahim menyerahkan semua masalah ini kepadamu," tambahnya pada Aga.
"Saya akan mengurusnya nona," jawab Aga dengan cepat, menyesal atas apa yang terjadi hari ini.
Ibra menatap Nadia, "untuk pertama kalinya ada yang membelaku sampai seperti ini, dari mana dia mendapatkan keberanian itu," batin Ibra yang diam-diam bahagia meskipun masih menampilkan wajah datar tanpa ekspresi.
"Mbak.... mbak.... " teriak Nadia hendak memanggil seorang pelayan.
"Saya akan meminta untuk membawakan makanan anda berdua ke dalam kamar nona," jelas Sakti.
"Mas, kita makan di kamar," ucap Nadia lembut.
"Nona.... saya... " ucap bu Ani hendak memberi pengertian.
"Cukup bu, jangan bicara apapun lagi," tarik Rafael pada lengan bu Ani.
__ADS_1
Ibrahim bangkit dari duduknya, menggenggam tangan Nadia dan berjalan pergi meninggalkan ruang makan tanpa bersuara.
"Pelayan..... "
Tanpa membutuhkan waktu lama, semua pelayan sudah mendekat berdatangan dengan kepala menunduk, tidak ada yang memulai pembicaraan, percakapan di ruangan itu sedikit banyak terdengar oleh beberapa pelayan yang sengaja mencuri dengar atas apa yang terjadi.
"Kau..., bawakan makanan untuk tuan dan nyonya," tunjuk Sakti pada salah seorang pelayan yang menurutnya paling bisa di percaya.
"Siap tuan," jawabnya berlalu pergi menyiapkan makanan yang di perintahkan Sakti.
"Entah Aga atau kau yang mengurusnya sendiri El, tapi aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi,"
***
Di dalam kamar
Nadia masih mengikuti langkah kaki Ibra, ia tidak menyangka akan semarah tadi, ia hanya merasa tidak terima atas ucapan bu Ani kepada suaminya.
Keduanya sudah sampai di dalam kamar, Ibra duduk di atas ranjang di ikuti oleh Nadia, namun Ibra kembali beranjak untuk mengambil minum yang selalu ada di meja kamar itu.
"Minumlah, kenapa kau sampai marah seperti itu," ucapnya dengan mengarahkan segelas air minum yang baru saja di ambilnya.
"Mas Ibra pasti lebih marah sekarang, harusnya mas yang minum,"
"Raut wajahnya, ekspresi nya, udah jelas banget kalo mas marah, lagian aku juga gemesss banget sama bu Anniiii, hiii rasanya pengen ku...." ucap Nadia meremas tangannya gemas.
"Sabar," ucap Ibra menepuk-nepuk punggung Nadia pelan.
"Kok sabar?"
"Lah terus apa?"
"Harusnya Nadia yang bilang kayak gitu mas, sabar mas Ibra gitu... " ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung Ibra.
"Haha, sini... kemarilah... "
''Kemana? Nadia udah di sini," ucapnya yang tanpa sadar mendekatkan tubuhnya pada tubuh Ibra.
"Duduk lah di sini,'' ucapnya sembari menepun paha sebelah kanannya.
"Nggak mau... pasti mas Ibra mau nakal, mesum," ucapnya tanpa basa basi.
Namun bukan Ibra namanya jika ia tidak bisa mendapatkan Nadia, Laki-laki itu menarik tubuh kecil di sampingnya dan membuat Nadia duduk di pangkuannya.
__ADS_1
''Mas... "
Bukannya menjawab, Ibra hanya menatap Nadia dalam, "terimakasih sudah membelaku tadi, kau berperan sangat sempurna sebagai nyonyaku,"
"Aku memang nyonya Ibrahim, aku tidak berperan,'' ucap Nadia berpura-pura kesal dan berusaha melepaskan diri dari tubuh Ibra.
"Iya iya, kau memang nyonyaku, istriku, jadi kau berhak mengatur semua hal yang berhubungan dengan ku, sekarang katakan, apa yang kau inginkan sebagai hadiah karena sudah membahagiakanku hari ini,'' tanya Ibra mengelus rambut Nadia pelan.
Tok tok tok
" Permisi tuan, saya datang membawa makanan yang anda pesan," ucap salah seorang pelayan di balik pintu.
"Mas lepasin dulu, ada mbak mbak mau nyiapin makanan kita, malu kalo kayak gini, " ucap Nadia.
"Sudah biarkan saja, jangan menganggap serius hal sepele seperti ini," ucap Ibra semakin mengeratkan pelukannya atas tubuh Nadia.
"Masuk... " perintah Ibra.
Seorang pelayan membuka pintu pelan dengan sebuah troli yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan.
Pelayan sedikit terkejut dengan posisi Nadia yang berada di pangkuan Ibra, namun tidak berani menatap nya lebih lama, "saya minta maaf sudah mengganggu waktu anda berdua tuan nyonya, makananya... " tanya pelayan itu.
"Tinggalkan saja di sana, aku akan menyiapkan sendiri makanan untuk suamiku,"
"Biarkan dia yang menata makanan itu di sana, kau harus menghemat tenaga mu untuk urusan kita yang lain nanti malam Nadia,"
Nadia membelalakkan matanya mendengar ucapan Ibra, lengannya dengan cepat mencubit perut Ibra.
"Aww apaan sih...? " kesalnya
"Mas jaga bicara dong, gimana kalo mbaknya salah faham,"
"Ya biarin, orang kamu punya suami, kalo yang ngomong selingkuhanmu baru takut,"
Nadia hanya cemberut mendengar ucapan Ibra, "sama mas Ibra pasti salah mulu kalo adu argumen, hmmm,"
"Letakkan di sana, jangan buat istriku menunggu, perutnya sudah berbunyi sejak tadi," goda Ibra.
"Mas Ibra..... " teriak Nadia semakin kesal.
"Wk wk wk wk," tawa Ibra memenuhi seluruh ruangan melihat kekesalan Nadia, sangat jelas sekali di wajahnya seolah mengatakan, yeay aku sudah berhasil menggodanya.
"Tertawa lah seperti ini selamanya mas, kamu juga punya hak untuk bahagia, sangat menenangkan melihat mas Ibra tertawa seperti ini, ini jauh dari apa yang aku pikirkan,"
__ADS_1
"Tuan dan nyonya sangat manis, ihh jadi pengen nikah juga kayak mereka," batin pelayan yang diam-diam memperhatikan Ibra dan Nadia.