
"Mereka sudah ku anggap putraku, tidak ada anak yang mengganggu orang tuanya," balas Aisyah tak kalah tegas.
"Mommy love you... " tambah Rafael dengan simbol hati pada jari kanannya.
Aisyah tersenyum, ia memang sudah menganggap Sakti dan Rafael seperti putranya sendiri, meskipun Sakti masih saja kaku dan sangat setia terhadap Ibra, sangat berbeda dengan Rafael yang memang suka bermanja-manja dengan Aisyah.
"Ayo masuk, kalian sudah lama tidak pulang, Ibra pasti memberi kalian banyak sekali pekerjaan," ucap Aisyah dengan senyum menenangkan khas seorang ibu.
Rafael berjalan di belakang Aisyah, mengikuti wanita paruh baya itu dengan senangnya, sesekali Rafael memegang tangan Aisyah seperti seorang bocah takut kehilangan ibunya.
"Aku menghargai mu karena tuan dan nyonya besar adalah orang tua tuan muda yang aku layani, jika tidak melihat beliau bertiga, aku adalah orang pertama yang akan membuat kalian berdua membayar apa yang sudah kalian lakukan pada tuan muda," tegas Sakti sebelum pergi.
"Aku hanya mematuhi perintah, kau salah kalau menaruh dendam itu padaku," ucap Lusy tak kalah ketus.
"Itu bukan urusanku, yang aku tau kau selalu mengganggu kebahagiaan tuan muda yang ku layani," tambah Sakti kemudian menyusul Rafael ke dalam, meninggalkan Lusy seorang diri di sana.
"Orang-orang di sekeliling tuan muda sangat bisa di andalkan, terlebih kedua orang itu, benar-benar menjaga tuan muda dengan baik," lirihnya dalam hati.
***
Nadia masih berada di pelukan Ibra dengan selimut menutupi seluruh tubuh mereka berdua, seperti biasa, Nadia menggerakkan jari telunjuk nya membuat simbol bulatan bulatan kecil di dada Ibra.
"Kau mau lagi?" tanya Ibra.
"Hah? enggak om udah cukup kok, aku hanya mengantuk," ucap Nadia meringis.
"Gila aja om Ibra kalo sampek minta lagi," batin Nadia.
"Aku sudah bilang jangan memanggilku om Nadia, usiaku bahkan sama dengan Sakti dan Rafael, tapi kenapa hanya aku yang kau panggil om, dan mereka kau panggil abang, menjengkelkan," ucap Ibra.
"Apa dong ? abang juga ? " tanya Nadia yang kini sudah menatap Ibra.
Ibra masih diam, "abang? abangnya dia kan ada Sakti dan Rafael juga, terus pas kita lagi main? nggak rela kalo dia harus teriak nama abang," pikirnya.
"Nggak boleh,"
"Terus apa dong?"
"Terserah,"
"Ya maunya di panggil apa suamiku....??? " tanya Nadia gemas sembari menarik pipi Ibra cukup lama dengan tertawa riang.
"Udah berani ya sekarang, hah? udah berani cubit-cubit ya sekarang Nadia?" ucap Ibra dengan tangan yang sudah bergerak menggelitik seluruh tubuh Nadia.
"Ha ha... om Ibra... ge.. li.... " ucap Nadia berusaha menjauh dari jangkauan tangan Ibra.
__ADS_1
Nadia tidak tinggal diam, ia juga berusaha menggapai tubuh Ibra dan berusaha menggelitik balik tubuh laki-laki itu.
"Ha ha Nadia.... awas kamu ya.... " ucap Ibra yang merasa geli karena Nadia juga menggelitik perutnya.
"Ha ha ha om Ibra... " keduanya memenuhi kamar dengan suara tawa dan bahagia.
"Awww..... " rintihan keluar dari mulut Nadia ketika dia mulai bergerak tanpa sadar.
"Apa masih sakit seperti sebelumnya?" tanya Ibra khawatir hingga menghentikan tawanya.
Nadia tersenyum, "ha ha ha khawatirkan ? udah cinta sama Nadia kan? awas bucin loh om, wk wk wk," goda Nadia yang mana membuat pipi Ibra merona merah.
"Kau masih berani menggodaku?" tanya Ibra yang tanpa di duga langsung mendekat dan menghujani wajah Nadia dengan banyak sekali ciuman.
"Om cinta Nadia kan?" tanya Nadia lagi ingin segera mendapat jawaban, meskipun ia tau dari sikap dan perilaku yang di tunjukkan oleh Ibra.
"Enggak," jawabnya singkat.
"Oh enggak ya, ya udah," ucap Nadia kemudian menghitung jarinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ibra heran.
"Menghitung tinggal berapa hari lagi Nadia harus pergi dari sisi om Ibra,"
Kening Ibra berkerut, "kenapa?"
"Nggak boleh," tegas Ibra.
"Udah cinta kan?" goda Nadia lagi.
"Udah sana mandi, nggak usah banyak omong," ketus Ibra.
"Yakin rela kalo di tinggal mandi? ha ha ha," ucap Nadia masih ingin menggoda Ibra.
"Kau... "
Tok tok tok
Suara ketukan pintu mengheningkan suara di antara mereka, "ada apa ?" teriak Ibra dari dalam.
"Kita akan menepi sepuluh menit lagi tuan muda," ucap seseorang di balik pintu.
"Iya," jawab Ibra.
Nadia menatap Ibra meminta mandi terlebih dahulu, namun Ibra salah memahami maksud kode dari Nadia.
__ADS_1
"Ayo, kita mandi bersama,"
"Hah... kok mandi bareng om?"
"Om lagi?" tekan Ibra.
Nadia tidak langsung menjawab pertanyaan Ibra, ia berfikir sebentar hingga kemudian terfikir kan sesuatu, "Uhm... honey, aku akan manggil honey, sayang, suamiku, cintaku," senyum Nadia.
Ibra melongo tidak percaya dengan ucapan Nadia yang di rasa sangat polos itu, "Uhm.... oke, ayo mandi," ajaknya yang hendak lebih dulu turun dari ranjang.
"Aku akan mandi setelah om Ibra... eh hehe masih percobaan om, jadi belum terbiasa,"
"Jadi mandi nggak?" tawarnya lagi.
"Aku masih mengantuk, aku ingin tidur lebih dulu ya," pintanya lembut kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menaikkan selimut hingga sampai kepalanya.
Ibra hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah istri kecilnya itu, "dasar bocah... " ucap Ibra kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Cukup lama Ibra membersihkan diri di kamar mandi, namun Nadia benar-benar terlelap hingga ia kembali, Ibra ingin segera membangunkannya, namun ia berhenti setelah melihat wajah lelah di depan matanya itu.
"Terimakasih sudah membahagiakan ku," bisiknya pelan.
***
Nadia dan Ibra baru saja keluar dari ruangan dan berjalan beriringan, ini sudah lebih dari empat puluh lima menit sejak kapal menepi, namun ternyata masih banyak orang yang menunggu mereka berdua.
"Kita sudah hampir terlambat tuanku," ucap Aga lirih di telinga Ibra.
"Tidak ada waktu yang tepat, justru yang tidak tepat adalah waktu terbaik," jawab Ibra.
"Nyonya akan tinggal di rumah aman untuk sementara tuanku,"
"Dia akan ikut denganku,"
"Nadia kemana honey? ikut kemana? dengan pakaian ini?" tanya Nadia melihat dirinya sendiri, Ibra memang selalu memakai setelan jas, namun dirinya hanya memakai baju sederhana yang sangat nyaman di pakai berjalan ke sana kemari.
"Kau tidak perlu memakai apapun untuk terlihat bagus di depan orang, karena aku suamimu, kau hanya harus melakukan itu di depanku, ''
" Tapi om, kalo di pertemuan resmi kan bikin malu kamu nanti kalo pakaiannya nggak layak,"
"Sudahlah, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu,"
"Lalu kita ke?" tanya Nadia penasaran.
"Kandang singa,"
__ADS_1
"Hah? om mau ngajak Nadia bunuh diri?"
"Iya, karena kita akan pergi ke rumah oma," jawab Ibra tegas.