Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Strategi 1


__ADS_3

Mata Rafael melotot campur bahagia mendengar ucapan sakti, " mereka sedang....." Rafael mengangkat


tangannya dengan jari membentuk huruf V dan menggerak-gerakannya, mata laki-laki itu kini sudah berbinar-binar seakan ada cahaya di sana.


"Sedang apa hah ?" tanya Ibra yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam ruangannya bersama Nadia.


"Eh buset nih anak singa, suka banget nongol tiba-tiba lu ya," ucap Rafael yang hanya berpura-pura terkejut.


"Hayo lo, lagi ngomongin Nadia sama om Ibra ya bang," ucap Nadia dengan sengaja menyudutkan mereka, tentunya masih dengan senyum khas miliknya.


"Gua singa, bukan anak singa," ketus Ibra kemudian.


"Tapi lu belum bisa bikin anak, jadi lu masih anak singa, hua haha," balasnya lagi pada Ibra penuh ejekan.


Pluk


Sebuah kunci mobil yang sejak tadi berada di genggaman tangan Ibra kini sudah terjatuh di lantai setelah mendarat di dahi Rafael.


"Aissh, doyan banget sih kalian berdua main lempar kepala gue, lu pikir kepala gue ring basket," gerutunya dengan tangan mengelus jidat yang terkena lemparan kunci mobil.


"Wk wk wk," tawa Nadia sedikit tertahan karena tangannya menutupi mulutnya agar suara tawanya tidak keluar. Sebenarnya ia takut jika Rafael marah kepadanya, hehe.


"Anda ingin pergi kemana tuan muda, kenapa anda membawa kunci mobil ini," tanya Rafael setelah dirinya mengambil kunci mobil yang sudah berbaring manis di lantai itu.


"Modifikasi total, yang paling penting pasang anti peluru dan isi dengan persediaan senjata lengkap jika sewaktu-waktu ada yang hendak mengusik perjalanan kita," jelasnya pada Sakti.


"Siap tuan muda,"


Rafael yang mendengar penuturan Ibra segera bergerak menuju laci meja kerjanya dan mengambil beberapa kunci mobil di sana, "jangan cuma mobil itu, semua mobil ini juga harus di beri semua peralatan yang sama, plus modifikasi,"


"Ternyata bukan hanya aku yang tidak kreatif, kau juga sama, hanya meniru tuan muda saja," jawab Sakti ketus.


Dengan melotot Nadia bertanya, "Bang El dealer mobil apa gimana ? itu semua beneran kunci mobil ? lagian kalian berdua selalu bertengkar bang, apakah tidak bisa akur sebentar?" ucap Nadia.


Tidak ada jawaban dari keduanya, keduanya malah hanya saling memunggungi, tidak ingin melihat satu sama lain.


"Usia benar-benar nggak menjamin kedewasaan seseorang, tingkah mereka sudah menjadi bukti telak," geleng-geleng Nadia melihat tingkah dua laki-lak.


"Sudah dapat informasi tentang orang tua Nadia? tanya Ibra lagi.


"Belum tuan muda," jawabnya.


"Nggak akan lebih dari tiga bulan, kita janji," tambah Rafael.

__ADS_1


"Terlalu lama!"


"Nggak masalah om, Nadia juga tidak terburu-buru, kita masih punya banyak waktu," ucapnya kemudian.


"Abrar?"


"Louis sudah mengintainya, hanya menunggu perintah lu kapan bisa gerak,"


"Media?"


"Semua berita pernikahan anda sudah tersebar ke media tuan,"


"Hah ?" ucap Nadia melongo.


"Setelah ini jangan keluar kemana pun tanpa izin ku, apalagi tanpa aku atau mereka," ucap Ibra tegas memberi pengertian sembari menunjuk ke arah Sakti dan Rafael.


"Cyber juga akan menjaga nona tuan muda, anda tidak perlu khawatir,"


"Gue sendiri yang akan jaga Nadia, gue gak percaya siapapun termasuk Cyber," tegas Rafael. Jika bukan memandang Ibra, Rafael sungguh ingin menghancurkan Cyber dengan sekali sentilan, rasa sakit dan hancur benar-benar masih menggerogoti hatinya hingga kini jika mengingat Cyber dan kejadian beberapa tahun yang lalu dengan orang tuanya.


Nadia awalnya sedikit bingung dan hanya bisa menoleh bergantian ke arah tiga laki-laki di hadapannya itu, namun dengan kecerdasan yang di anugrah kan Tuhan kepadanya, ia bisa dengan mudah mencerna dan memahami pembicaraan mereka dengan cepat.


"Setelah ini kehidupan ku pasti akan berbeda, akan ada banyak orang yang mungkin hanya akan mendekatiku demi popularitas atau akan memanfaatkan aku untuk menghancurkan om Ibra, itu alasannya dia menjagaku hingga tidak bisa keluar tanpa izinnya, uhh om Ibra selalu yang terbaik," batinnya dengan tatapan mata Berbinar-binar.


"Gue bakal jaga dia dua puluh empat jam penuh, jadi lu gak udah khawatir," jelas Rafael pada Ibra.


Ibra melihat tubuh Nadia dengan intens, manik matanya melihat fokus dari atas ke bawah, kembali berkali-kali seperti itu.


"Tubuh kurus kerempeng gak ada daging sepertimu bisa melakukan apa bocah, kena angin juga langsung terbang," ucapnya singkat.


"Om jangan pelecehan dong, gini-gini Nadia paling cepat lari di kelas,"


"Kalo itu saya setuju nona, dengan tubuh mungil dan postur seperti anda memang sangat cepat jika berlari,"


"Tuh kan," ucapnya kembali riang.


"Ya emang bener, intinya cebol kan," balas Ibra.


Rafael kini benar-benar tidak bisa menahan tawanya, "ha ha ha emang bener itu cebol namanya, ha ha ha," tawanya masih terus berlanjut tanpa memperdulikan wajah Nadia yang semakin di tekuk.


"Bang El jahat,"


"Ha ha ha, itu fakta dek Ibra emang selalu bener ko ngomong, nggak kayak nih orang, lu ngomong gitu aja pakai acara tubuh mungil segala," ucapnya kemudian mendorong kepala Sakti dari belakang.

__ADS_1


Sakti yang tidak Terima dengan perlakuan Rafael segera menjambak kembali rambut pria yang ada di depannya.


"Sudah cukup, hentikan sekarang !" teriak Ibra tegas.


"Urus pendidikan yang akan di pelajari Nadia, dan cari tau apa yang terjadi dengan Anna saat ini di rumah monster itu," ucapnya.


"Anna? "


Tak hanya Nadia, Sakti dan Rafael saat ini juga sedang mengerutkan dahinya seolah tidak faham dengan jalan pikiran Ibra saat ini, terlebih karena ada Nadia di antara mereka.


"Saat ini berita pernikahanku dengan Nadia sudah di ketahui oleh publik, monster tua itu juga pasti akan mengetahuinya juga, karena sudah tidak berguna sebagai sandera sembilan puluh delapan persen dia akan di buang, dan target selanjutnya adalah Nadia," ucapnya singkat.


"Aku hanya tumbal kah? untuk memancing agar Anna bisa kembali ? "


Nadia masih bisa berusaha mengatur perasaannya, ada banyak hal bercampur menjadi satu di hatinya, beberapa pertanyaan menggelayuti pikirannya. Namun diam menjadi pilihannya saat ini.


"Kami akan berjaga di semua sudut tempat persembunyian nyonya sepuh, di tambah Cyber semua akan menjadi lebih mudah untuk menemukan nona Anna tuan muda,"


Sejenak Rafael melihat gelagat yang mencurigakan dari Nadia setelah nama Anna menjadi topik di perbincangan kali ini, "Gue bakal nyiapin beberapa orang untuk kasus ini,"


"Lu yang pimpin sendiri !" perintah Ibra.


"Sakti yang akan mimpin, gue cuma bilang bakal nyiapin beberapa orang, bukan berarti gue sendiri bakal turun tangan, gue juga punya tugas buat menjamin keselamatan nya," tunjuknya pada Nadia.


***


Aisyah hanya mendekat dan menuruti permintaan suaminya itu, "Apa yang ingin daddy perlihatkan ?" tanyanya.


"Ini, Seperti yang kau inginkan," ucapnya dengan senyum sembari memberikan ponsel kepada istrinya.


Aisyah melihat video yang di tunjukkan suaminya, dengan seksama wanita paruh baya itu melihat dan mendengarkan apa yang ada di video itu. Sesekali matanya melotot seperti tak percaya, ada gurat kebahagiaan di wajahnya tuanya itu.


"Dia sudah mengakui menantu kita dad," ucapnya sumringah.


"Kita harus menemui mereka sekarang," semangatnya


.


.


.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.

__ADS_1


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.


__ADS_2