Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ada manis-manisnya


__ADS_3

Anna yang mendengar ucapan Ibra langsung terbangun dan menutupi tubuhnya yang tidak memakai apapun dengan selimut, "I... ini tidak seperti yang kau lakukan Ibra... aku bisa jelaskan,"


"Sudah terlambat, aku tidak bersedia mendengar penjelasanmu," ucapnya berjalan pergi dengan Nadia di belakang nya, laki-laki itu adalah Ragan, asisten yang selalu mengikuti kemanapun Anna pergi, dia juga adalah orang yang bersama Anna saat pertama kali Ibra menyamar untuk memastikan dan bertemu dengannya.


"Mas.. "


"Aku punya pekerjaan untuk mengganggu rapat oma, bisakah kau membantuku mengurusnya ? apa aku bisa mempercayakannya padamu ?" tanya Ibra lembut dengan mengelus kepala Nadia pelan.


"Aku akan melakukan nya untukmu," bisik Nadia pelan tepat di telinga Ibra.


"Aku akan memberimu kode ketika kau harus masuk ke dalam sana," tunjuk Ibra pada sebuah pintu berwarna putih.


"Siap laksanakan, hari ini om jangan cepat marah di depan mereka semua, kita harus tenang untuk mengintimidasi mereka, semangat mas," ucap Nadia semangat dengan gerakan sigap dan kepolosan senyumnya yang semakin menawan.


"Ibra..... tunggu sebentar,"


"Pergilah mas, sebelum tante Anna datang dan sembarangan peluk-peluk mas,"


Ibra mengangguk pelan kemudian pergi, "sangat menyenangkan memiliki seseorang sepertinya, hidupku terasa berbeda dari sebelumya, seperti ada manis manisnya," senyum pria itu.


"Aga, pantau pergerakan istriku," perintah Ibra ketika ia melihat Aga sudah mendekat padanya.


"Ibra.... " teriak Anna yang saat ini sudah berjarak tiga langkah dari tempat Nadia berdiri.


"Eits eits tante.... sabar dong tan, kancing dulu yang bener bajunya," cegat Nadia ketika Anna hendak melewatinya dan mengejar Ibra.


"Kau.... bocah tidak tau diri, siapa kau? beraninya kau menyentuh dan menghalangiku?" ucap Anna geram.


"Aku... nyonya Ibrahim Muhammad Attar, Laki-laki yang tante inginkan itu, kita udah pernah ketemu di rumah mommy dan daddy, bahkan tinggal satu rumah kan? nggak mungkin lupa dong tan," jawab Nadia santai masih dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Lu cuma istri di atas kertas, Ibra nggak akan pernah cinta sama lu, sampai kapanpun dia hanya akan cinta dan peduli sama gua, nggak usah percaya diri, minggir... " bentak Anna, dengan kasar ia mendorong Nadia hingga terjatuh ke lantai.


"Ibra..... " teriak Anna lagi pada Ibra yang sudah menghilang entah kemana, wanita itu masih terus mencari dan meneriaki nama Ibra.

__ADS_1


***


Beberapa saat lalu, Ibra sudah berada di depan sebuah pintu dengan dua daun pintu berwarna putih mutiara, setelah menghembuskan nafasnya, Ibra menyentuh gagang pintu berwarna emas, mendorongnya perlahan dan melangkah masuk.


Beberapa orang terkejut dengan terbukanya pintu tiba-tiba karena kedatangan Ibra, seorang wanita dengan rambut putih di gelung rapi dan elegan kini juga menatap ke arahnya.


"Cih, kau datang padaku saat terjadi krisis di perusahaan mu? asisten setia mu itu bahkan tidak terlihat, kenapa kau datang? aku tidak akan membantumu selama kau tidak menuruti kemauan ku, " tanya wanita tua yang duduk di sudut ruangan.


"Saya bukan datang karena krisis di perusahaan nyonya, karena ini adalah diskusi para tetua dan pemegang saham Delta Internasional maka saya harus datang sebagai pemilik saham paman Abrar yang sudah di pindah tangankan," jelasnya yang tanpa ba bi bu langsung duduk di kursi yang sedang kosong.


"Saham Abrar? bisakah hal tersebut di berikan begitu saja tanpa persetujuan kami nyonya?" ucap salah seorang tetua di antaranya.


"Hubungan darah, jangan pernah lupakan itu," tegas Ibra tanpa ragu.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya Ibra?" bentak oma keras dengan tangan menggebrak meja yang mana mengagetkan semua orang yang ada di sana kecuali Ibra.


"Ibra..... " teriak Anna yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut dengan rambut acak-acakan dan wajah khas bangun tidurnya.


"Anna...... keluar, jangan membuat kekacauan," bentak oma keras hingga bergetar.


"A.... aku min... ta ma... af oma... " ucapnya terbata kemudian pergi.


Bersamaan dengan kepergian Anna, Nadia datang mendekati Ibra yang sudah duduk di atas sebuah kursi, "Maaf mas, tante Anna susah sekali di beri tahu, ia langsung berlari kemari tanpa menghiraukan ucapan ku," ucap Nadia yang berjalan mendekat ke arah Ibra dengan anggun dan cantiknya.


"Bangkai akan tercium pada akhirnya, itu yang sedang ia alami, jadi ini bukan salahmu, nah karena kau sudah di sini, duduklah,"


"Ibra ini bukan tempat di mana kau bisa membawa siapapun sesukamu, ada aku di sini, kau tidak bisa melakukan apapun di sini tanpa izinku,"


"Dia juga memegang saham daddy, dia harus disini bersamaku, oma harus bersikap baik padanya mulai saat ini,"


Emosi benar-benar membuat oma kehilangan kesabaran dan sangat gegabah, "cepat tutup pintunya dan jangan biarkan seorang pun masuk."


"Apa yang kau inginkan?" tanyanya tanpa basa basi.

__ADS_1


"Delta Internasional,"


"Kau tidak akan mendapatkannya selama kau tidak menuruti apa yang ku katakan, berhenti bermimpi Ibra, hanya oma yang bisa membuatmu menjadi pemilik Delta Internasional berikutnya,"


"Baiklah, lanjutkan apa yang kalian bicarakan sepagi ini, saya juga ingin mendengarnya, masalah penerus kita lihat saja bagaimana nanti, " tukas Ibra yang sangat yakin bahwa mereka tidak akan membahas apapun di depannya.


"Di mana Abrar dan Attar sekarang? dia tidak seharusnya memberikan saham yang di berikan suamiku kepada orang lain sesuka hatinya,"


"Mas Ibra bukan orang lain,"


"Kamu orang lain gadis kecil, Attar buta memilihmu menjadi menantunya, haha aku tau semua ini pasti pekerjaan Aisyah kampungan itu,"


"Wah wah oma, semakin hari oma semakin menjadi-jadi, oma bahkan tidak tau siapa dan bagaimana latar belakang istriku, tapi oma sudah memandangnya sebelah mata, jangan sampai menyesal karena terlambat mengenalinya nanti," ucap Ibra.


"Siapa dia sebenarnya tuan Ibra, ah bukan tuan... hanya Ibra, kalian sudah bangkrut sekarang, mungkin itu alasan dia mengemis menjadi bagian dari Delta," ejek orang yang duduk tepat di dekat oma.


"Ha ha ha ha," suara riuh tawa bersahutan memenuhi ruangan menertawakan Ibra dan Nadia yang di anggap hendak mengemis mengatasnamakan keluarga.


Dengan percaya diri, Nadia menekan tombol pada remote yang ada di dalam tasnya, tombol itu menyalakan otomatis layar besar yang berada tepat di hadapan meja panjang tempat berkumpulnya orang-orang pagi ini.


"Hah? apa yang terjadi? kenapa kalian menyalakan layarnya?" tanya orang-orang bergantian.


Sebelum ada yang menjawab, sebuah berita mengenai Ibra kembali menarik media terlihat di layar besar itu, beberapa media lokal bahkan internasional mulai membicarakan keberhasilan Ibra yang bangkit hanya dalam hitungan hari pasca pailit.


Tak hanya perusahaan yang saat ini sedang di kembangkan dan di kelola oleh Sakti dan Rafael, baru saja terkuak di media bahwa Ibra adalah pemegang kendali atas Harbank Group yang selama ini di kelola dan di kembangkan oleh Aga.


Harbank group adalah salah satu perusahaan yang menjadi rival tersulit untuk Delta Internasional, pertemuan pagi ini juga bertujuan untuk membahas Harbank Group yang akhir-akhir ini banyak merugikan Delta Internasional.


"Jadi kau .... "


''Bukan aku oma, sebenarnya aku sudah memberi kan nya pada istriku, Nadia Clara Adiwijaya..... "


Kening oma berkerut, "dia....?"

__ADS_1


__ADS_2