
Brukkk, tubuh gadis kecil itu tersandung dan terjatuh di atas tubuh manusia.
"Aaaaaaaaaaaaa... " teriaknya histeris ketika melihat seseorang yang pernah di temui nya kini tergeletak berlumur darah tepat di depan pintu rumahnya.
Gadis yang masih terduduk itu memegang kepalanya sambil bergerak mundur ketakutan, "Apa ini ?, siapa yang membawa tubuh tante Bella hingga sampai di depan rumahku dengan penuh darah seperti ini," gumamnya dalam hati dengan keadaan masih shock.
Nadia berusaha menguasai ketakutan di dalam dirinya, satu detik, dua detik, tiga detik, gadis kecil itu mengatur nafasnya perlahan, "Aku harus melihat apakah dia masih hidup atau tidak, dan apa alasannya berada disini. Jika aku memperlihatkan ketakutan ku seperti ini orang yang mengirim tante Bella kesini akan semakin mudah menyerang ku", ucapnya lirih bahkan hampir tidak terdengar. "Ini adalah hal paling logis yang bisa aku lakukan saat ini. Om Ibra cepatlah pulang, "
Tubuh gadis itu mulai bergerak mendekati tubuh Bella, ia mendekatkan tangannya ke arah hidung Bella, degg "dia sudah tidak bernafas, aku harus memeriksa nadinya," tangan itu kembali bergerak mendekati leher Bella, "tante juga sudah tidak memiliki denyut nadi, apa yang harus aku lakukan," gadis itu masih berjongkok di samping jasad Bella dengan bingung dan perasaan campur aduk.
Kepala Nadia bergerak ke kanan dan ke kiri memastikan sekali lagi apa benar-benar tidak ada orang yang melihat ini, Nadia diuntungkan dengan pagar rumahnya yang di kelilingi oleh tembok tinggi sehingga menghalau pandangan orang dari luar yang lewat depan rumahnya, "akan heboh jika ada orang yang melihat tubuh tante seperti ini, apa yang harus kulakukan sekarang, Arrrghh ayo berfikir Nadia," batinnya dengan sedikit gemetar.
Srrrt srtttt, "suara langkah kaki, siapa yang ada di belakangku sekarang," tubuhnya semakin bergetar.
"Apa anda senang dengan hadiah pernikahan yang kami berikan untuk anda nona ?" terdengar suara seorang laki-laki yang menurut perkiraan Nadia kini sedang berada tepat di belakangnya.
Hati Nadia mencelos mendengar ucapan laki-laki itu, "Hadiah pernikahan ?"
Nadia memberanikan diri berdiri dan membalik tubuhnya penasaran dengan sosok yang kini berbicara kepadanya, wajahnya semakin tegang bukan main. "Bukankah kamu orang yang tadi pagi aku beri makanan," lirihnya namun masih terdengar jelas oleh lawan bicaranya.
"Benar nona muda," ucap laki-laki itu tegas.
"Selamat pagi nona muda, terimakasih makanannya tadi pagi" ucap serentak empat orang lagi yang muncul dari balik pintu mobil hitam yang sedari tadi dilihatnya.
"Nona ?, mereka tadi juga bersikap hormat kepada om Ibra, apa mereka anak buah om Ibra, aku masih harus bersikap tenang saat ini sampai benar-benar tau siapa mereka,"
__ADS_1
"Masuklah dan bawa di juga," ucap Nadia datar menunjuk jasad Bella dengan nada suara senatural mungkin agar tidak terkesan takut, sejujurnya lidahnya kini sungguh bergetar hebat karena panik kakinya bahkan sudah berasa lumpuh.
Nadia tidak ingin memasukkan mereka semua ke dalam rumah, terlebih semuanya laki-laki dan tidak ada Ibra suaminya saat ini, namun kondisi Bella sangat tidak baik jika sampai ada orang yang melihat.
"Baik nona," ucap mereka semua.
Nadia berjalan masuk kedalam rumah dengan memutari tubuh Bella, "Om cepetlah pulang, Nadia sangat takut," batin gadis itu.
Gadis kecil yang hanya memakai baju rumahan sederhana itu duduk di atas sofa ruang tengah yang berwarna abu-abu, ia bingung harus melakukan apa pada orang-orang yang kini ada di depan matanya, lima menit berlalu namun masih tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka semua.
"Mungkin mereka menungguku bicara, bahkan mereka tidak ada yang duduk di sofa dan lebih memilih berdiri, aku seperti pernah melihat adegan seperti ini sebelumnya. " Nadia masih terus berfikir.
"Ahhh pak Sakti, apa yang mereka lakukan sama seperti yang dilakukan pak Sakti kepada om Ibra, aku harus menghubungi pak Sakti lagi," ucap gadis polos itu kemudian mencari handphone yang tidak ada di sakunya.
"Ini nona, tadi ada ponsel jatuh di depan pintu rumah ini, apa ini milik anda ? " tanya salah seorang laki-laki itu.
Kening Nadia berkerut seketika, "Ini rumahku, sudah pasti itu milikku," ucap Nadia sedikit sengit.
"Melihat gerak-geriknya, sudah pasti dia salah satu orang om Ibra, tapi bukankah tante Bella salah satu koleksi om Ibra juga, bagaimana mungkin om Ibra membunuh kekasih nya sendiri," pikiran-pikiran Nadia sedang berlarian mencari jawaban dari keganjalan-keganjalan yang terjadi di depan matanya saat ini.
"Kalian bahkan sudah berani mendatangi rumah istriku berkali-kali... " terdengar suara berat dan kasar yang tidak tau munculnya dari mana. Nadia dan juga orang-orang Cyber yang ada di sana juga mencari dimana sumber suara itu berasal.
"Om Ibra.." ucap Nadia yang memang mengenal suara itu, karena dia sudah berkali-kali terkena amarah dan amukan Ibra. hihihi.
"Kalian sudah bosan hidup ?" bentak Ibra sekali lagi.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana masih sibuk mencari sumber suara, berbeda dengan Nadia yang sejak awal memasuki halaman rumah ini sudah tau jika rumah itu di penuhi kamera pengawas, jadi tidak mustahil jika Ibra juga bisa memasang speaker di sana.
"Om Ibra," lirih Nadia dalam hati, dia sedikit lega setelah mendengar suara Ibra.
Drapp drapp drapp drapp
Derap langkah kaki terdengar jelas memasuki rumah Nadia, sosok laki-laki yang sudah menikahinya beberapa hari yang lalu kini sudah berjalan mendekat ke arahnya dengan Sakti di belakangnya.
"Om... " lirih Nadia.
"Tuan... " ucap kelima orang dengan membungkuk ke arah Ibra.
Ibra tidak menjawab salam mereka, tatapan mata laki-laki itu hanya fokus melihat Nadia, "are you okay ?" tanya Ibra yang kini sudah berada tepat di depan gadis kecilnya itu.
"No," ucapnya pelan dengan menggelengkan kepala.
"Dia bahkan bisa berakting dengan benar sejak tadi, tapi berubah seperti kucing sekarang," batinnya masih tetap menatap Nadia yang menunduk
"Kalian pikir ini lelucon hah ?" ucap Ibra mendorong meja di sampingnya dengan kaki.
"Kami hanya ingin membuat nona senang tuan, wanita itu ingin merebut anda dari nona," jelas salah seorang di antaranya.
"Itu bukan sesuatu yang bagus untuk di jadikan sebagai hadiah pernikahan, kembali dan lihat kondisi Louis tuan kalian yang saat ini sedang berada di rumah sakit, merenung dan jangan menampakkan batang hidung kalian di hadapan tuan muda lagi sampai kalian benar-benar tunduk dan patuh dengan apa yang menjadi ketetapan tuan muda." jelas Sakti mewakili Ibra.
"PERGILAH SEKARANG !!" bentak Ibra segera setelah orang-orang itu tidak beranjak setelah apa yang diucapkan Sakti.
__ADS_1