Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Terbuka


__ADS_3

"Lu mau kemana?"


"Pulanglah, tugasku dan tuan muda sudah berakhir di sini," ucapnya lagi.


"Nadia... "


"Tuan tetap mengembalikan semuanya padamu, beliau bisa bertemu diam-diam seperti ini, tapi tidak akan menciderai kepercayaan mu dengan membawa nona muda kembali ke sisinya dengan paksa."


Sakti segera pergi meninggalkan Rafael yang masih bimbang dengan pilihannya, "kau jaga dia dengan baik sesuai perintah tuan muda, dia memang lebih tua dari mu tapi terkadang sedikit kekanak-kanakan dan mudah mengambil keputusan, peranmu disini sangat penting untuk menjaganya tetap aman, jangan sembrono dan lakukan semuanya dengan baik, singa sepertinya tidak aman jika di biarkan seorang diri," pesan Sakti sebelum meraih gagang pintu.


"Kenapa gua harus tetap aman, bukannya lebih baik gua nggak ada dan Nadia bisa sama Ibra lagi,"


Sakti tersenyum, kemudian mengangkat kepalanya menghadap Rafael, "lalu bagaimana jika tuan muda yang berfikir lebih baik aku saja yang pergi sehingga kau dan nona muda bisa hidup normal seperti keluarga pada umumnya, kalian bisa berkumpul seperti sebelum tuan muda ada dan mengacaukan takdir bahagia yang mungkin kau miliki."


Ucapan Sakti itu benar-benar menusuk hatinya, "benar, bagaimana jika Ibra yang berfikir seperti itu, tidak tidak, dia tidak akan berfikir sebodoh itu," ucapnya dalam hati yang mana tidak sadar bahwa Sakti sudah menghilang dari hadapannya.


"Loh... mana tuh orang, udah ilang aja,"


"Tuan, saya tidak tau bagaimana kehidupan yang anda inginkan hingga memilih jalan ini, tapi saya sangat menginginkan menjadi anda saat ini, anda di kelilingi oleh orang-orang baik yang peduli dengan anda terlepas dari apapun yang anda lakukan, anda bahkan memiliki seorang adik yang manis seperti nyonya dan tuan muda, kehidupan anda sangat beruntung," ucap Aga jujur.


"Saya pasti akan bersyukur dengan apa yang saya miliki jika saya menjadi anda,"


"Apa gua kurang bersyukur... mereka yang bantu gua dari awal, yang bantu gua bangkit, yang bantu sampai di titik ini, nggak cuma itu, Ibra malah balikin semua yang gua punya, lu kenapa bodoh banget sampai nggak tau kalo hidup lu udah berharga El," sesalnya dalam hati yang kemudian berlari mengejar Sakti yang mungkin sudah berada di lantai dasar saat ini.


"Enggak... gua nggak boleh nyesel nanti, gua hari perbaiki semua sekarang," pikirnya masih mencari Sakti dengan tergesa-gesa.


Rafael sudah berada di lobby Harbank group, namun ia kehilangan Sakti, Laki-laki itu tidak terlihat sama sekali, "kemana dia... "


"Mencari ku?"


Suara Sakti di belakangnya membuat Rafael menoleh seketika, "Ahh, syukurlah, gua pikir lu udah pergi, mau ke Ibra kan? gua mau ikut," ucapnya.


"Ngapain?"


"Udahlah, nggak usah bikin gua tambah malu, gua bisa ikut apa nggak nih ?"

__ADS_1


"Oke... Aga.... pergilah bersama kami," ajak Sakti ketika menyadari bahwa Aga berada di sana dengannya.


***


Senyum bahagia masih menghiasi kedua bibir pasangan itu ketika keluar dari ruangan hingga ketika berada di dalam mobil.


"Terima kasih sudah mau mengandung anakku, aku janji akan memperlakukan mu dengan lebih baik lagi," ucap Ibra yang mana membuat Nadia semakin bahagia.


Drttt drttt drttt


"Siapa mas?" tanya Nadia


"Pagi tuan muda.... "


"Mana mereka?" tanya Ibra pada Sakti yang belum melihat Rafael dan juga Aga.


"Apa... gua di sini," ucap Rafael yang baru saja memunculkan diri.


"Nadia... kenapa tuh mata bisa terbuka lebar, bukannya tadi bilang nggak bisa kebuka, lu bohongin gua ya," ucapnya menebak begitu melihat Nadia di sisi Ibra.


"Saya minta maaf tuanku,"


"Bisnis ini bisa berjalan jika ada investasi yang masuk Ibra, gua cuma ngelakuin itu," jawab Rafael.


"Begitu? maka jawab pertanyaan ku,"


Semua orang yang ada di sana hening tanpa suara, masih menunggu Ibra menyelesaikan ucapannya, "berapa keuntungan yang akan kita terima perbulan ? berapa titik impas mereka ? sudah cek surat kontrak kerjasama dari yang lain? setinggi apa hambatan masuknya? tahun lalu biaya tenaga kerjanya naik drastis, sudah tau alasannya?" tanya Ibra sedikit emosi.


Rafael dan Aga masih diem tanpa bisa berkata apa-apa, "kalo aku tidak membantu Nadia semalam, aku juga nggak akan pernah tau masalah yang kalian hadapi, lagian ada Sakti dan aku, kenapa nggak bilang jika ada masalah, kita keluarga El, jangan menyembunyikan apapun." tegasnya lagi.


"Gua bahkan udah misahin mereka, gua udah jahat banget, tapi Ibra masih aja anggep gua keluarga nya, huft...bikin makin ngerasa bersalah aja,"


"Kayaknya kehidupan gua yang dulu banyak ngelakuin perbuatan baik sampai gua harus ketemu orang kayak lu, paling nggak gua nggak perlu mikirin apapun tentang hidup gua karena ada kalian yang bakal bantu gua dalam hal apapun," ucapnya bangga.


"Butuh dana berapa banyak?"

__ADS_1


"Gua sampek lupa saking banyaknya nol di belakangnya," ucap Rafael jujur.


"Sakti minta data berapa yang mereka butuhkan dan cover semuanya," ucap Ibra kemudian.


"Siap tuan muda,"


"Aku sudah bangun ulang Harbank dengan susah payah di belakang Sakti, jangan menghancurkannya dalam beberapa hari," ucapnya lagi.


"Aish... untung saja mood ku sedang baik, jika tidak, aku akan mencekik mu sekarang," gumam Ibra pelan.


"Coba aja, gua ledakin lu duluan,"


"Abang, berani abang ledakin mas Ibra, abang bakal Nadia gundulin, biar nggak ada cewek cewek yang mau deketin abang lagi," tambah Nadia.


"Hey... waktu Ibra mau cekik gua kenapa lu diem aja, sekarang giliran gua mau ledakin malah lu mau gundulin, pilih kasih lu mah dek, kecewa gua," ucap Rafael yang langsung mematikan panggilan video itu.


"Abang El mah, gede doang, tapi masih bocah," ucap Nadia begitu Rafael mematikan panggilan secara sepihak.


"Ya itu emang fakta lain dari Rafael," tambah Ibra.


"Baby... nanti kau jangan seperti uncle El, oke," ucap Ibra sembari mengelus lembut perut Nadia.


Nadia masih bersama dengan Ibra di dalam mobil, keduanya sedang menikmati makanan yang Nadia inginkan, Nadia belum makan sejak pagi, perutnya sangat-sangat lapar, tapi memang ia mudah sekali lapar sejak kemaren malam.


"Kau suka?" tanya Ibra ketika melihat Nadia dengan lahap memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Hu uhm... " ucapnya dengan mulut penuh dan anggukan kepala.


"Nggak akan ada yang mengambil makananmu, makan dengan tenang oke," ucap Ibra.


Nadia menatap Ibra intens, "mas Ibra nggak suka punya anak satu?" tanya Nadia.


Ibra yang sebelumnya melihat depan, kini berpaling menatap Nadia disampingnya, kemudian menghela nafas berat, "mommy... aku hanya ingin mengembalikan memori yang sempat hilang, sekuat apapun, mommy adalah orang yang paling menderita saat meninggalnya Abraham, jika aku bisa memberikannya bayi kembar, mungkin bisa mengobati sedikit lukanya," ucapnya pelan.


Nadia tersentak, "ini juga fakta lain dari mas Ibra, dia bahkan bersikap tidak seperti biasanya dihadapan orang lain dengan harapan bisa melegakan hati mommy karena bayi ini, dari sudut manapun dia memang baik, sampai kapanpun aku tidak akan bisa sanggup kehilangan orang seperti mas Ibra,"

__ADS_1


__ADS_2