
"Nadia.... turun dan jelaskan sekarang," ucap Rafael tanpa melihat ke belakang.
Tidak ada sahutan sama sekali membuat Rafael dan semua orang di sana melihat ke arah tempat Nadia sebelumnya, namun gadis itu sudah tidak ada, "kemana perginya anak nakal itu," lirih Rafael.
"Tuan, ini pesan dari nyonya," ucap Aga sembari menyodorkan ponselnya menunjukkan pesan yang ia Terima dari Nadia.
Pak Aga, aku sangat mengantuk meskipun sudah mandi, aku pulang dulu ya, tolong bantu aku, mataku benar-benar tidak bisa terbuka.
"Astaga Nadia... merepotkan saja di saat seperti ini,"
"Kemana dia? tadi dia masih di sana,"
"Siapa? yang tadi di samperin pak Aga bukan?"
Bisik-bisik memenuhi ruangan kedap suara itu, yang mana membuat sedikit kehebohan di sana, dengan cepat moderator segera mengambil alih acara sebelum riuh suara semua orang semakin panjang.
"Harap tenang agar kita bisa melanjutkan rapat pagi ini dengan segera," ucap moderator itu.
"lu maju sana, gantiin Nadia buat presentasi,"
"Loh kok saya tuan, saya tidak berani menjelaskan segala sesuatu dari isi kepala tuan Ibra yang jenius, nggak mampu otak saya," ucapnya dengan sedikit berbisik.
"Hey... jangan buat malu, lu kan juga asisten Ibra paling nggak lu faham dong, gimana sih?, udah sana jelasin aja, selama ini juga lu yang ngurus perusahaan ini, Ibra ntar gua yang ngomong sama dia," ucap Rafael lagi.
"Lima menit, beri saya waktu lima menit untuk mengetahui intinya tuan," ucap Aga sebelum menarik nafas panjang.
"Anda membunuh saya nyonya, salah apa saya dengan anda, hikss,"
Rafael memberi kode kepada moderator bahwa rapat akan segera di mulai dalam waktu lima menit dari sekarang.
***
Nadia sedang berada di koridor perusahaan, sedang tertawa membayangkan bagaimana Rafael dan Aga di sana.
"Sekali-kali ngerjain abang, haha semoga sukses ngerjain tugas yang udah di kerjain mas Ibra bang," ucapnya senang.
"Saatnya menghubungi mas Ibra.... "
Dengan ponsel di tangannya, Nadia mengetik beberapa huruf di ponselnya, terlihat nama Mr. Ibrahim di sana.
Tut tut tut
Ponsel itu masih memanggil karena Ibra belum menerimanya, cukup lama Nadia menghubungi Ibra namun tak kunjung mendapatkan jawaban, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Sakti.
tut tut tut
"Iya nona muda... "
"Abanggg.... mas Ibra mana, hehe,"
"Tuan muda ada di belakang saya nona,"
"Mas Ibra nggak bawa HP ya? boleh Nadia ngobrol sama mas Ibra bentar bang,"
__ADS_1
"Aku sedang melihatmu, kenapa mencari ku?" sahut Ibra.
"Mas dimana?"
"Di tempat kau memarkirkan mobilku," ucap Ibra.
"Oke aku ke sana, jangan kemana-mana," tanpa berfikir gadis itu tau kemana harus menemui Ibra.
"Iya,"
Gadis belia itu tertawa riang dengan berlari kecil menuju parkiran, ia senang karena sudah meninggalkan Rafael di sana, dan senang akan bertemu dengan Ibra.
"Aku sangat senang hari ini," ucapnya pada diri sendiri dengan senandung dan langkah kecilnya.
Terlihat sebuah mobil dengan type yang sama dengan yang biasa ia kendarai selama ini, bedanya kali ini berwarna putih mutiara dan terlihat sangat indah.
Dengan berlari ia mendekati mobil hingga suara teriakan Ibra menghentikannya, "berhenti, jangan lari...kau mudah jatuh saat berlari," ucap Ibra yang baru saja keluar dari mobil.
"Mas Ibra.... " panggilnya riang sebelum berhambur ke pelukan Ibra.
"Kau senang karena bertemu aku atau meninggalkan masalah untuk Rafael di dalam?"
"Kok mas Ibra tau?"
"Wajah mu tidak bisa berbohong, ini wajah anak nakal yang berhasil mengerjai seseorang," ucapnya mencubit hidung Nadia gemas.
"Haha biarin, biar abang El dapat masalah sekali-kali mas," jawabnya masih dengan senyum di bibirnya.
"Hay bang Sakti.... " sapanya pada Sakti yang masih berada di dalam mobil.
"Mana kunci mobil ?" tanya Ibra.
"Kenapa ?" tanya Nadia namun tetap memberikan kunci mobil itu pada Ibra.
Begitu kunci mobil berada di tangannya, ia membawa Nadia dan membukakan pintu untuknya.
"Mas kenapa nggak pake mobil itu?" tanyanya heran.
"Ada beberapa hal yang harus Sakti lakukan, kita akan melakukan pemeriksaan sendiri tanpa Sakti,"
"Oh... " ucapnya dengan bibir membulat tanda mengerti.
"Ayo naik... " ucap Ibra yang sudah tidak sabar.
"Mas... tapi Nadia pengen naik mobil itu... " tunjuk nya pada mobil putih yang saat ini masih ada Sakti di dalamnya.
"Hah... sama aja Nadia.... udah ayok nanti keburu antri, nggak tau apa karena corona semua orang jadi pada lomba buat hamil,"
"Maaaas... tapi pengen naik itu... ya tukar ya... bilang bang Sakti, nanti keburu pergi bawa mobilnya," ucap Nadia merayu Ibra dengan gelendotan pada lengan Ibra.
"Astaga... ini apa Nadia... type mobilnya sama," sanggah Ibra yang masih heran dengan keinginan mobil ini.
"Mau naik yang itu aja, ini biar bang Sakti yang bawa,"
__ADS_1
"Huft...Sakti keluar sekarang.... " perintahnya langsung.
"Bawa mobil yang ini, kita akan pakai yang itu," ucapnya setelah melempar kunci mobil pada Sakti.
Nadia dengan segera langsung naik ke dalam mobil seperti anak kecil mendapat permen, "nona bisa sesenang itu dengan mobil, ini pertama kalinya," gumam Sakti.
"Tapi ia sangat menggemaskan, ganti semua mobil dengan warna itu, dia terlihat sangat menyukainya," senyum Ibra kemudian berjalan ke arah mobil.
"Bukan hanya nona, tapi sekarang anda juga sangat menggemaskan tuan," ucap Sakti ketika mobil yang di kendarai Ibra sudah meninggalkan area parkir.
***
Rumah Sakit
Nadia dan Ibra sudah berada di lobby rumah sakit, Ibra langsung menuju ke sebuah ruangan VIP yang sudah dipesan Sakti sebelumnya.
"Tadi bilangnya cepet-cepet biar nggak antri, sekarang bisa langsung masuk aja nih," sindir Nadia pada Ibra yang langsung menerobos masuk tanpa mendaftar lebih dulu seperti orang lain pada umumnya.
"Itu karena suamimu ini sangat tampan,"
"No coment," jawab Nadia malas, karena tidak hanya perihal tampan, dalam segala sisi, Ibra memang tidak bisa di perdebatkan.
Mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan yang ternyata sudah ada dokter Luna bersama satu orang dokter wanita yang lain dan juga seorang perawat yang juga perempuan.
"Kak Luna... kok bisa di sini?"
"Siapa lagi kalo bukan gara-gara suami lu ini, tau kan, dia tidak bisa dibantah sama sekali," ucapnya sedikit melirik pada Ibra.
"Tapi yang di ucapkannya selalu benar, itu karena dia peka dan bisa membaca situasi dengan baik, sehingga prediksinya tidak pernah meleset," ucap Nadia membela suami nya yang hanya mendapat senyum dan anggukan tanda setuju dari Luna.
"Silahkan nona, anda bisa berbaring di sini," ucap dokter itu ramah.
"Tadi dokter Luna sudah menjelaskan semuanya, kita bisa langsung melihat melalui USG untuk mengetahui apa dugaan sementara itu benar."
Dokter tersebut menyingkap baju Nadia hendak meletakkan jelly di sana, "tunggu... haruskah seperti ini? maksudku.... " ucap Ibra menggantung, maksudnya ini banyak orang, ia tidak ingin istrinya di lihat oleh banyak orang begini, meskipun semuanya perempuan.
"Cukup Ibra... gua udah nyari dokter cewek kayak yang lu mau, jadi cukup diam dan jangan membuat masalah lagi," ucap Luna yang sudah lelah dengan permintaan Ibra yang tidak pernah berhenti.
"Mas... " ucap Nadia berusaha menenangkan suaminya itu.
Akhirnya dengan anggukan kepala dari Ibra proses nya pun di mulai, Dokter itupun tersenyum, "lihat pak, biji kecil ini ... " tunjuk dokter itu pada sebuah layar yang di dominasi warna hitam.
"Kenapa bijinya? apa ada masalah dengan istriku?" tanya Ibra memotong penjelasan dokter karang dirinya yang tidak faham.
"Lu kalo orang mau ngomong dengerin dulu Ibra," ketus Luna.
"Ini adalah janin yang ada di kandungan istri bapak, ia masih sangat kecil, usianya masih beberapa minggu," ucap dokter tersebut memberi kabar bahagia kepada keduanya.
"Benarkah? itu anakku? berapa jumlah mereka dok?" tanya Ibra antusias yang langsung mendapat lirikan dari semua orang di sana.
"Lu nggak liat tuh biji cuma satu, astaga Ibra... apa saking senengnya lu jadi buta?"
"Dokter yakin cuma satu?, saya punya gen kembar, mungkin dia ada dua atau tiga gitu? sembunyi atau masih keselip jadi nggak keliatan," tanyanya lagi yang mana membuat semua orang di sana melongo dengan terheran-heran.
__ADS_1
"Mas Ibra...cukup ya " ucap Nadia sembari menarik lengan suaminya itu dengan lembut dan sedikit memberikan elusan di sana.
"Huft... ya sudahlah satu juga tidak masalah," ucapnya yang berbalik menggenggam lembut tangan Nadia dengan senyum.