
Nadia melihat ke arah dapur yang hanya tersisa beberapa makanan saja, "Alhamdulillah cukup untukku makan hari ini, jadi nggak terbuang sia-sia deh," ucapnya riang.
Gadis itu melangkah ke sana kemari mengelilingi rumah sembari membersihkannya, mengelap, menyapu dan mengepel semuanya termasuk kamar Ibra, dengan senandung kecil keluar dari bibir kecilnya ia tidak mengeluh sama sekali.
Dengan beberapa kali menggerakkan pergelangan kakinya yang kadang masih terasa nyeri, gadis itu tetap lincah bergerak membersihkan setiap sudut ruangan di dalam rumah itu.
"Huft bagaimana jika aku memilih rumah yang lebih besar dari ini, bisa-bisa waktuku hanya habis untuk membersihkan nya saja, aku masih harus bekerja, " ucapnya kemudian mengelap butiran keringat yang duduk manis di dahinya.
Setelah ia membersihkan seluruhnya, ada senyum yang semakin mengembang di sudut bibirnya, "Akhirnya, bisa istirahat juga" ucapnya lega sembari menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
"Aku harus mulai mencari kerja nanti, semangat produktif Nadia, ca ca ca," ucapnya berapi-api dengan tangan mengepal penuh semangat.
Langkah kakinya kini menuju sofa ruang keluarga yang menjadi center rumah itu. "Ahh leganya bisa senderan," ucapnya menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa empuk itu.
Tangan kecilnya bergerak mengelus sofa dengan bulu tipis lembut berwarna abu-abu dengan motif hitam itu, dengan mata terpejam Nadia masih menggerakkan tangannya ke kenan dan ke kiri, berkali-kali dengan pola yang sama ke kanan dan ke kiri.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghilangkan rasa kantuknya yang sebentar lagi bisa di pastikan membawanya ke alam mimpi, "siapa yang bertamu, aku tidak punya teman dan baru saja pindah ke rumah ini,"
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kembali terdengar sekali lagi ketika Nadia tak kunjung membuka pintu rumah itu, "Siapa? tunggu sebentar aku masih berjalan, " teriaknya yang kini berjalan dengan sesekali merapikan rambut yang mengenai wajahnya.
"Aku telfon pak Sakti saja, tamu itu tidak mungkin datang mencariku." pikir Nadia.
Flashback On
"Nona boleh saya meminjam handphone anda ?"
"Hah buat apa pak ?" tanya Nadia namun tetap memberikan handphone nya secara cuma-cuma sebelum mendapat jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan.
"Saya bahkan belum menjawab pertanyaan Anda, tapi anda sudah memberikannya, jika itu orang lain jangan sembarangan memberikan barang anda nona." ucap Sakti memberi petuah.
__ADS_1
"Hehe... " gadis itu meringis sambil menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal karena malu.
"Nona, saya sudah menyimpan nomor saya di handphone anda, anda hanya tinggal menekan angka satu untuk menghubungi saya,"
"Siap pak, semua pasti aman terkendali, aku akan menghubungi anda ketika benar-benar penting saja."
"Tidak perlu sungkan nona, saya di bayar untuk melayani tuan muda dan anda," ucapnya tersenyum tulus.
"Aku tau, pak Sakti memang yang terbaik," ucapnya dengan kedua jempol teracung di udara.
"Jika nanti ada orang yang datang ke rumah ini, sebaiknya anda hubungi saya terlebih dahulu nona, karena sudah pasti orang itu mencari tuan muda, anda tidak mengenal siapapun di tempat ini bukan," jelas Sakti panjang lebar.
"Bapak tidak perlu khawatir, Nadia bisa jaga diri dengan baik," ucap Nadia tak kalah serius.
Flashback Off
Tutt Tuutt Tuuuttt
"Mungkin pak Sakti sedang sibuk, ini masih jam kerja,"
Nadia melihat sekelilingnya, tidak ada siapapun di sana hanya ada dua mobil hitam terparkir di halaman rumahnya, kakinya melangkah hendak mencari orang yang mengetuk pintu nya.
Brukkk, tubuh gadis kecil itu tersandung dan terjatuh di atas tubuh manusia.
"Aaaaaaaaaaaaa... " teriaknya histeris ketika melihat seseorang yang pernah di temui nya kini tergeletak berlumur darah tepat di depan pintu rumahnya.
Gadis yang masih terduduk itu memegang kepalanya sambil bergerak mundur ketakutan, "nona muda.. nona muda," teriak Sakti dari dalam telfon dengan suara yang tidak terdengar jelas karena panggilan tersebut tidak dalam mode loudspeaker.
***
Melihat keseriusan Sakti, membuat Ibra benar-benar melihat cctv yang memang sengaja ia pasang di rumah Nadia, ada sedikit kerutan di dahinya ketika melihat dua mobil berada di halaman rumah itu.
"Aaaaaaaaaaaaa ?" terdengar teriakan dari dalam telfon itu sesaat setelah Sakti menerima panggilan Nadia.
__ADS_1
"Nona muda.. nona muda," teriak Sakti yang tidak mendapat jawaban dari Nadia.
Ibra segera menetralkan perasaannya dan tetap berfikir rasional, laki-laki itu kini meletakkan tubuhnya di atas kursi di belakang mejanya, tangannya menekan tombol berwarna merah yang ada di layar handphonenya.
Matanya masih mengamati tangkapan video CCTV yang terpasang di rumah Nadia melalui handphone pintarnya. Tatapan mata yang sejak tadi mengarah pada layar handphone kini berubah bengis menatap Louis.
"Ini yang paman sebut hadiah pernikahan ? tapi kenapa hanya istriku, seharusnya paman juga membawakan ku kepala paman Abrar bukan," ucapnya dengan tatapan mata tajam.
Louis terlihat sangat kesakitan dan tidak kuat menahan rasa sakit akibat sayatan pisau yang dilakukan oleh Ibra, "telfon Luna dulu, aku tidak ingin dia mati,"
"Nona muda tuan?"
"Nadia bisa mengatasinya," ucapnya enteng.
"Paman harus memperkuat otot-otot dan otak paman kedepannya, aku hanya menyayat sedikit saja tapi paman sudah kesakitan seperti ini," ucapnya geleng-geleng kepala.
Louis sungguh sudah tidak sanggup berbicara, sayatan yang tadi di sebutkan oleh Ibra hanya sedikit itu sudah membuat Louis kehilangan banyak darah, terlebih leher adalah area vital dengan banyak urat nadi, meleset sedikit saja sudah pasti membuat Louis merenggang nyawa.
"Luna sudah berada di bawah tuan,'' ucap Sakti.
" Cepat sekali dia datang, kau kan baru saja menelfon nya. Dia sudah tau bagaimana cara teleportasi ?" ucapnya.
"Saya sudah memintanya untuk standby di perusahaan ini sejak tadi tuan,"
Ibra hanya mengangguk santai tanpa merespon apapun lagi.
Louis yang sejak tadi menahan sakit selalu teringat dengan ucapan Ibra.
"Dia terlalu terburu-buru Ibra, kau tidak pernah di susahkan dengan sikap terburu-buru nya itu,"
"Jika aku bilang aku bukan pembunuh, bukan berarti aku tidak bisa membunuh, dan satu hal lagi. Dia tidak terburu-buru, tapi tahu ketika aku sudah tidak bisa mengendalikan emosiku, sikap terburu-buru nya hanya untuk menyelamatkan paman dari amarahku. Jadi mulai sekarang paman juga harus banyak belajar darinya,"
Perkataan Ibra sungguh tidak bisa lepas dari pikirannya hingga kini, rasa sakit di lehernya bahkan tetap tidak bisa menghilangkan suara-suara itu.
__ADS_1
"Kupikir Cyber adalah yang terhebat, aku tidak menyangka akan tunduk pada keponakan yang sudah ku anggap sebagai putraku sendiri, ternyata pepatah di atas langit masih ada langit memang benar adanya." batin Louis sebelum kemudian ambruk ke lantai ruangan itu.