Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Cleaning Servis ku Istriku


__ADS_3

"Yeay om om om," teriak Nadia, suara gadis itu memenuhi seluruh rumah dengan suara khas miliknya.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, setelah membersihkan ruangan bersama Rafael dan Sakti tadi, ia melanjutkan membuat makan malam untuk mereka nanti.


Namun ketika hendak memindahkan semua makanan yang berhasil ia masak di atas piring, muncul sebuah notifikasi di akun email miliknya, dengan sekali ketuk layar utama handphone itu sudah berpindah pada halaman email miliknya, ada banyak deretan pesan di sana.


Manik mata Nadia melihat pesan yang paling atas, tangan kecilnya mengetuk layar tepat pada pesan itu.


"Selamat kepada nona Nadia Clara yang lulus dalam proses seleksi, dimohon besok pukul 08.00 datang untuk proses training, terimakasih."


Mata Nadia berbinar-binar karena senang, tak hanya itu ia bahkan memanggil Ibra berkali-kali karena senangnya, Ibra yang kini sedang melihat beberapa draft bersama Sakti dan Rafael berdecak kesal mendengar Nadia yang tidak berhenti meneriakinya.


"Ada apa lagi dengan gadis kecil itu, dia benar-benar pengganggu ulung," ucapnya kesal kemudian membanting draft-draft di depannya hingga beberapa berserakan.


"Sudahlah jangan dengarkan dia, kita lanjutkan saja, gadis itu sangat menjengkelkan," tambah Rafael yang juga semakin kesal dengan Nadia sejak tadi.


"Bilang aja cuma nona muda satu-satunya gadis yang tidak terpesona denganmu, malah membuatmu menjadi pembantu rumahnya," ejek Sakti.


"Kauuuu," geram Rafael yang sudah mengambil senjata di balik jasnya.


"Diam lah kalian semua !! aku semakin pusing mendengar kalian bicara," bentak Ibra menghentikan mereka.


ceklek


Pintu ruangan itu terbuka memperlihatkan sosok gadis bertubuh kecil dengan rambut panjang sedikit bergelombang di sana. Nadia, gadis kecil itu berlari ke pelukan Ibra saking senangnya.


Ibra hanya diam membiarkan gadis kecil itu memeluknya, rasa kesal yang tadi menghinggapi hatinya karena teriakan Nadia mengganggu pekerjaannya berangsur-angsur menghilang.


"Apa yang terjadi padamu?, kau benar-benar mesum Gacil, ini sudah ke berapa kali kau memelukku ha?" tanya Ibra dengan berpura-pura sinis, namun tangannya bergerak mengelus punggung gadis itu.


"Aku di terima kerja om," ucap nya terlihat sangat gembira, sebuah senyum mengembang sempurna di wajahnya.


"Pantas saja Sakti rela menunggu jandanya, dia memang sangat manis jika bertingkah seperti ini," batin Rafael yang kini terpesona dengan senyum yang sangat natural itu, tidak seperti perempuan-perempuan lain yang selama ini berada di sekelilingnya.

__ADS_1


Jelas terlihat kerutan di dahi Ibra seolah bertanya maksud ucapan Nadia, namun tiba-tiba pertanyaan Sakti pada Nadia membuatnya menunggu jawaban dari gadis itu.


"Anda di terima kerja dimana nona ? bukankah tuan sudah menjamin kehidupan anda setelah ini, anda hanya perlu belajar dan menjadi nyonya Ibra saja."


"Aku hanya butuh pengalaman om, aku juga akan mengikuti pelatihan, bolehkan om ?" tanya Nadia dengan riangnya menatap Ibra.


"Kerja dimana ? sebagai apa ?" tanya Ibra tenang.


"IA Entertainment," jawab Nadia dengan semangat.


Ketiga laki-laki itu terdiam, tidak ada yang berani bereaksi sebelum mendapat petunjuk dari Ibra.


"Di Terima sebagai apa ?" tanya Ibra lagi.


"Cleaning servis om," ucapnya dengan perasaan bahagia tak lepas dari wajahnya.


"What ?" teriak mereka bertiga bersamaan dengan mata melotot.


"Bagaimana mungkin dia menjadi office girl di perusahaan ku sendiri, bisa-bisa jadi topik berita utama besok pagi kalau semua orang tau." batin Ibra tidak tenang.


"Lu tau nggak IA Entertainment bergerak di bidang apa ? tanya Rafael.


Nadia melihat ke arah Rafael, " industri hiburan kan, perusahaan itu lagi naik daun banget loh om beberapa tahun ini," jelas Nadia yang memang sering melihat berita baik via online maupun media cetak tentang kebesaran nama IA Entertainment.


"Nona pernah lihat siapa pemilik IA Entertainment ?" tanya Sakti.


"Enggak dong om, hehe," ringis Nadia.


"Ya itu salah lu bocah, berarti lu nggak tau IA entertainment." jawab Rafael ketus.


"Hehe,"


"Gila bener nih anak, om sama tante nemu dia di zaman apa sih bisa aneh kayak manusia planet gini, kok bisa nggak tau kalo Ibra yang punya tuh perusahaan, benar-benar hidup di zaman purba kayaknya nih anak, di negara ini siapa juga yang nggak kenal kita bertiga." batin Rafael menggelora ingin segera memberitahu gadis itu, namun tatapan mata Ibra memberi kode untuk tidak memberitahu Nadia sekarang.

__ADS_1


"Anda sangat senang hanya menjadi cleaning servis nona ? apa begini saja, saya akan merekomendasikan pekerjaan yang jauh lebih baik," tawar Sakti


Muncul sebuah senyum samar yang muncul di bibir Ibra tanda setuju dengan ide yang diberikan Sakti.


"Ini sudah cukup kok pak, kalo nanti bapak bantu sama aja korupsi pak," ucap Nadia.


"Tapi itu hanya cleaning servis, biar Sakti yang mencarikan pekerjaan, lagi pula kenapa kau sangat bahagia hanya dengan menjadi cleaning servis ?" cecar Ibra dengan beberapa pertanyaan.


"Pasti seneng dong om, jadi Nadia bisa bayar hutang sama om kan, bayangin aja udah seneng," ucapnya gembira.


"Itu cuma seratus ribu Nadia, aku bahkan bisa memberimu seribu lipat lebih banyak," ucapnya dengan keras.


"No no Nadia akan cari sendiri aja om, boleh ya om, nanti sebelum om pulang Nadia janji bakal sampai rumah lebih dulu buat siapin makan malam kalian, oke ?" rayu Nadia pada Ibra.


Ibra sebenarnya tidak mempermasalahkan jika Nadia ingin ikut pelatihan sekaligus bekerja tapi tidak harus menjadi cleaning servis di perusahaannya juga, namun ia tidak tega jika harus merusak rona bahagia yang terpancar alami dari wajah gadis itu.


Sempat hening beberapa menit karena semua orang yang ada di sana sedang menunggu keputusan final yang ada pada Ibra.


"Terserah," akhirnya itulah jawaban yang keluar dari mulut Ibra.


"Yes, asik," ucapnya semakin gembira dengan tubuh berjingkrak jingkrak.


"Pergilah, datang jika makanan sudah siap," perintah Ibra.


"Siap bos," ucap Nadia semakin bersemangat mengangkat tangannya di atas kepala. Setelahnya ia berjalan keluar dengan melompat-lompat kecil.


"Ketika semua orang rela merangkak mendekati Ibra, gue masih nggak nyangka ada gadis yang nggak tergoda sama sekali, apalagi melihat berlian di depan matanya," ucap Rafael seketika setelah Nadia menghilang dari balik pintu.


"Seperti itulah nona muda, padahal beliau sudah pernah tinggal di rumah utama, tapi masih belum bisa memprediksi seberapa banyak kekayaan tuan muda hingga mempermasalahkan uang pinjaman yang nilainya tidak seberapa," tambah Sakti.


"Dia pernah tinggal di rumah itu ?" tanya Rafael pada Sakti.


"Diamlah kalian, aku takut akan ada berita yang tidak baik besok," ucapnya.

__ADS_1


"Argh membayangkannya saja membuatku sakit kepala," ucap Ibra sambil meremas rambutnya.


__ADS_2