
Pagi ini Nadia memutuskan untuk bersiap setelah melakukan sholat shubuh, ia melakukan aktifitasnya seperti biasa, meskipun dengan mata yang semakin bengkak karena menangis hampir seharian penuh, bahkan ia tidak menyentuh makanan yang sudah di siapkan Aga di depan pintu kamarnya.
Tepat pukul tujuh, Nadia sudah siap dengan baju kerja yang di pakai karyawan magang pada umumnya, ia keluar menuju meja makan yang sudah tersedia banyak sekali makanan di atasnya.
"Pagi bang, pagi pak Aga," sapa Nadia ketika melihat kedua orang itu sudah berada di sana.
Keduanya melihat Nadia tanpa berkedip, "Nyonya tidak membuka pintu kamar sama sekali, ia bahkan tidak menyentuh apapun yang sudah ku siapkan di depan kamarnya, tapi sekarang beliau datang dengan mata sembab seperti ini, dan penampilan ini,"
"Kenapa Nadia ? ingin pergi kemana dengan pakaian begitu?"
"Abang nyuruh Nadia kerja kan? kenapa sekarang nanya," jawabnya tanpa melihat Rafael sama sekali.
Nadia bahkan hanya mengambil makanan untuk dirinya sendiri, biasanya ia akan mengambil makanan untuk Ibra, dirinya dan Sakti lebih dulu.
"Apa lu udah anggap gua orang asing dek?"
"Lu bisa istirahat dulu kalo lu mau, nggak harus sekarang juga, biar Aga bisa ngurus berkasnya dulu," ucapnya.
"Perlukah sampai butuh waktu buat ngurus berkas?mas Ibra nggak akan mungkin menempatkan seseorang yang tidak ahli di sisinya, bukankah ini masalah mudah pak Aga, aku yakin kedatangan ku ke perusahaan bukan sesuatu yang sulit untuk bapak atasi," ucap Nadia lagi dengan masih fokus pada makanannya.
"Anda terlihat tidak enak badan nyonya, anda bisa istirahat lebih dulu,"
Nadia hanya mengangkat kepalanya dan melihat dengan jelas kedua laki-laki di hadapannya itu, "aku akan berangkat sekarang, tolong jangan membuat gaduh di perusahaan seolah kita saling mengenal," ucapnya kemudian pergi tanpa kata apapun lagi.
"Kenapa tidak habiskan dulu makanannya Nadia," ucap Rafael.
"Dan bu Ani, pak Aga bisa mempekerjakan beliau kembali ke rumah ini, kurasa bang El sangat membutuhkannya," tambahnya tanpa menoleh.
"Kita berangkat bareng Nadia, abang turunin kamu sebelum sampai perusahaan nanti," teriak Rafael yang terdengar jelas di telinga Nadia.
"Nadia bawa mobil mas Ibra," jawabnya kemudian menghilang di balik pintu.
"Dia bodoh apa gimana sih, mobil Ibra keluaran terbaru dan masuk dalam kategori mobil termahal di dunia, dia akan di anggap wanita tidak baik jika semua orang tau karyawan magang punya mobil seperti itu, aish.... dia udah nggak mau denger gua," gerutu Rafael kesal.
"Eh tunggu, bukannya dia nggak bisa nyetir?" tanya Rafael ragu.
"Mungkin nona bisa tanpa anda ketahui tuan, beliau pergi dengan sangat yakin," ucap Aga.
"Huft... " Rafael menghela nafas berat untuk kesekian kalinya.
Srett
Rafael mendorong piring makanan yang sama sekali belum ia sentuh, melihat sikap Nadia membuat seolah-olah dirinya yang paling salah dalam hal ini sehingga membuat nafsu makannya ikut menghilang.
"Tuan... "
"Apa? lu mau nyalahin gua juga hah ?" tebak Rafael ketika Aga memanggilnya.
__ADS_1
"Pagi ini tuan Sakti menghubungi saya via telfon,"
Rafael menoleh merasa tertarik begitu nama Sakti disebutkan, "tumben ? kenapa emang?"
"Tuan Sakti meminta untuk mengawasi makanan nona muda,"
"Lagi? bukannya kemaren udah bilang gitu juga? dia pikir gua nggak bisa ngasih adek gua makanan?" tanya Rafael dengan kening mengkerut.
"Tuanku Ibrahim juga tidak memakan makanannya dengan baik, tuan Sakti khawatir jika nyonya juga melakukan hal yang sama dengan tuan muda," jelasnya.
"Aish... bodoh banget sih tuh orang berdua, nggak bisa ngomong gua, makan tinggal makan aja apa susahnya sih," ucapnya gemas.
"Anda bisa makan jika makan hanya tinggal makan tuan, tapi faktanya anda kehilangan selera makan anda setelah melihat nyonya seperti ini," tambah Aga yang membuat Rafael terdiam.
***
Nadia masuk ke dalam mobil yang tidak asing baginya, mobil Ibra memang banyak, ini hanya salah satu di antaranya, namun mobil ini adalah mobil terakhir yang ia gunakan bersama Ibra ketika menuju rumah ini.
"Aku tidak bisa mengemudi sendiri, tapi aku sudah melakukan simulasi sejak pagi, bismillah sampai tujuan," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Ia mulai menyalakan mesin, ia mengingat betul apa yang harus di lakukan setelah berkali-kali melakukan simulasi, "ya... seperti ini Nadia, pertahankan seperti ini, hehe... mungkin ini yang akan di bilang mas Ibra kalo ada di sini," ucapnya bergumam sendiri ketika mobil sudah berhasil keluar dari halaman rumah.
Nadia mulai terbiasa dengan aktivitas baru yang ia lakukan kini, meski masih tidak begitu mahir tapi ia rasa ini sudah cukup untuk hari pertama.
Hingga terlihat sebuah gedung besar di sebrang jalan dengan tulisan Harbank dan penuh hilir mudik karyawan keluar masuk.
Karena tidak ingin terlihat mencolok, Nadia masuk ke dalam sebuah parkiran umum di dekat sana dan menghentikan mobilnya dengan hati-hati.
"Ibrahim... baik-baik di sini ya... aku harus kerja dulu," ujarnya sambil menepuk-nepuk bagian atas mobil dengan pelan.
Nadia melangkah menuju perusahaan dan berhenti di depan sebuah meja resepsionis, "ada yang bisa saya bantu?"
"Uhm, saya karyawan magang baru tahun ini, apakah belum ada pemberitahuan bu?" tanyanya sesopan mungkin.
"Ah, pihak HRD sudah mengatakannya pada kami, ikut bersamanya dan dia akan membawamu ke tempat kerja," ucap wanita itu yang menunjuk temannya.
"Mari, ikut bersama saya,"
Nadia mengikuti perempuan dengan tubuh tinggi dan badan bersih itu, "resepsionis saja seperti seorang model, semua orang yang ada di sini sangat cantik dan tampan," pikirnya.
"Anda memiliki hubungan khusus dengan tuan Aga ?" tanya seseorang yang mengantarnya.
"Hah? tuan Aga? aku bahkan tidak mengenalnya," ucap Nadia beralasan.
"Sudah jelas tuan Aga sendiri yang memintanya, beliau bahkan menempatkan gadis ini di bagian yang sangat bagus dan tidak di perbolehkan memberikannya banyak pekerjaan, dia tidak terlihat seperti orang kaya, apa mungkin......? ah tidak-tidak dia tidak mungkin salah satu simpanan para kalangan elit perusahaan ini kan," pikir resepsionis itu dalam hati.
Nadia sudah mulai bekerja tanpa melalui kerumitan administrasi dan ***** bengek yang lain, ia sudah ada di sebuah ruangan dengan meja yang berjajar rapi memanjang, ia bahkan langsung mendapatkan meja dan kursi lengkap dengan satu set komputer dan kebutuhan yang lain.
__ADS_1
"Karyawan magang bisa sampai sini, hebat banget dia," ucap salah seorang pada temannya yang lain.
Nadia melalui hari ini dengan baik, meskipun tau bahwa ada banyak gunjingan dan nyinyiran di belakangnya, namun ia malas menanggapinya dan memilih menutup telinga.
Rutinitas ini hampir setiap hari ia lakukan, ia berangkat pagi-pagi sebelum Rafael bangun dan pulang ketika lampu rumahnya sudah gelap.
Selama beberapa hari itu juga tidak pernah lepas panggilan video dari Ibra dan Sakti yang membuatnya tertawa hampir setiap hari.
***
Keadaan Ibra masih tetap pucat dan tidak ada perubahan meskipun banyak sekali obat dan tes dilakukan padanya, hingga akhirnya Nadia memutuskan untuk menghubungi Luna dan bertanya langsung padanya.
Tut.... tut.... tut...
"Halo... Nadia.... " sahut seseorang di sebrang ponsel.
"Assalamu'alaikum dokter Luna... bagaimana kabarnya? sudah lama kita nggak ketemu,"
"Aku tidak baik karena tidak ada perubahan pada kondisi suamimu, kau tau... Sakti selalu memarahiku karena tuannya tak kunjung sembuh, ini sangat menyebalkan,"
Nadia tersenyum, ia merasa memiliki seorang teman yang bercerita panjang lebar padanya seperti ini.
"Eh kenapa menelfonku? ada yang bisa ku bantu?"
"Boleh jujur saja apa sakit mas Ibra dok?"
"Panggil saja aku Luna Nadia, jangan formal seperti itu,"
"Tapi aku masih kecil, tidak sopan rasanya," ucapnya lagi.
"Baiklah, kak saja, panggil aku kak Luna, bagaimana?"
"Iya kak, hehe... uhm untuk kondisi mas Ibra bagaimana?"
"Aku sudah melakukan tes padanya, dan sudah banyak sekali tes tapi semua hasilnya negatif, saat ini aku sedang curiga tidak berdasar pada satu hal, tapi aku tidak bisa membicarakan ini dengan Sakti yang logis itu, mungkin aku bisa berbicara denganmu,"
"Katakan kak, ada apa?" tanya Nadia penasaran, pasalnya ini sudah hampir satu minggu.
"Gejala ini beberapa kali terjadi kepada seorang pria yang sudah menikah ketika istrinya tengah hamil," jelasnya.
"Hah? tapi aku... aku tidak terlambat datang bulan kak,"
"Kau yakin? apa kau sudah melakukan tes?"
Nadia menggeleng, "cobalah Nadia, mungkin dugaanku benar, ini memang tidak ada kaitannya dengan medis, tapi aku mempercayai nya,"
"Eh, ku tutup dulu ya, ada pasien darurat sekarang," ucap Luna terburu-buru dan langsung menutup panggilan telfonnya.
__ADS_1
Nadia masih mematung tak percaya dengan yang barusan Luna katakan, "mungkinkah di sini?" gumamnya dengan tangan mengelus perutnya pelan.