Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Manis Imut


__ADS_3

Mata Sakti terbelalak seketika setelah mendengar bentakan Ibra, "tuan muda.....apa yang terjadi?" ucap Sakti bingung dengan suara khas bangun tidur miliknya, meskipun nyawanya terpaksa penuh seluruhnya.


Dengan wajah panik laki-laki itu melihat jam di layar ponsel yang saat ini sudah ia genggam. "Ini belum terlalu siang, sebenarnya juga masih pagi, tapi kenapa tuan muda sudah menjadi singa di pagi buta begini,"


"Aish bisa sampai bangun lebih terlambat dari tuan muda, matilah aku, semua gara-gara keributan yang Anna buat semalam, wanita itu selalu membuat masalah," gerutu Sakti meremas bagian rambut depannya.


"Ah tuan muda.....aku harus menemuinya segera agar beliau tidak semakin marah," ucapnya kemudian keluar dari kamar yang ia tempati sebelumnya dengan rambut acak-acakan dan wajah bangun tidur pada umumnya.


Sakti kembali masuk ke dalam kamar setelah beberapa detik ia berlari keluar kamar dan menutup pintu, "aku tidak mungkin menghadap tuan muda dengan penampilan seperti ini, setidaknya aku harus cuci muka lebih dulu," ucap Sakti dengan bergegas ke kamar mandi.


***


Ibra meraih handphone di saku celana olahraga yang di pakainya, ia melihat seluruh CCTV yang terpasang di seluruh rumah ini, selain itu ia juga menekan alarm di ponsel milik Sakti.


Beberapa detik ia melihat dan mengamati beberapa video yang ada di layar ponsel nya itu, kini kornea matanya tertuju pada sebuah benda elektronik yang berada tak jauh dari jangkauannya.


"Kulkas ? kenapa ia melihat kulkas sambil berjongkok lama seperti itu, apa ada sesuatu di dalamnya ?" tanya Ibra pada diri sendiri kepo.


Sedikit terdiam, akhirnya Ibra mendekat ke arah kulkas yang sebenarnya sangat jarang di sentuh nya karena Nadia maupun Sakti selalu menyiapkan baik minuman atau makanan ringan di sekeliling nya, sehingga ia tidak perlu repot-repot memegang benda elektronik itu.


"Tidak ada apa-apa di sini, apa yang sebenarnya dia lihat sampai jongkok lama disini lalu menghilang tiba-tiba," pikir Ibra lagi, ia bahkan melakukan gerakan yang sama seperti yang di lakukan Nadia di depan kulkas itu, berusaha memikirkan apa yang di pikirkan Nadia, namun dirinya belum bisa menemukan jalan pikiran gadis kecil itu.


Sret sret sret, suara kaki bergeser dengan lantai terdengar jelas di telinga Ibra, tak lama setelah ia menekan alarm di ponselnya, Sakti datang dengan terburu-buru mendekati Ibra, tentunya setelah mencuci wajah meskipun dengan rambut yang masih terlihat berantakan.


"Ada apa tuan muda ?" tanyanya was was, Ibra yang masih menatap kulkas itu masih diam tanpa merespon Sakti yang sudah berdiri di belakangnya.


"Lu yakin Nadia pake cincin, perasaan dia polosan nggak pernah pake perhiasan apapun ? gua juga udah lacak lokasinya dan cincin itu ada di rumah ini, tepatnya di etalase jam punya lo, jadi udah pasti dia pergi nggak pake cincin," jelas Rafael yang baru keluar dari dalam kamarnya setelah mencoba melacak keberadaan perempuan yang sudah di anggap adik itu.


"Baju ?"


"Semua masih lengkap di lemari kalian, sepatu juga sama, nggak ada yang hilang satu bajupun,"

__ADS_1


"Sekeliling rumah ?"


"Gak ada dimanapun,"


"Motor ? atau kunci-kunci apa gitu,"


"Lu pikir dia mau maling? kalo nanya kira kira juga dong,"


"Santai aja dong nggak usah ngegas," sahut Ibra tak kalah ngegas.


"Paling dia pergi kemana gitu, bosen juga kali kalo lu kurung dalem rumah mulu, lagian kalo misal pergi enak di elu juga kan? udah ada Anna juga," kesal Rafael meninggalkan Ibra dan Sakti yang masih kebingungan karena tidak bisa menangkap arah pembicaraan mereka berdua.


Ibra menoleh, begitupun dengan Sakti, keduanya melihat ke arah Rafael bersamaan sepeninggalnya pergi, "ada apa dengan nona ? kenapa sampai harus cari lokasi dan heboh seperti ini tuan muda," tanya Sakti yang masih bingung karena tidak tau duduk perkara yang terjadi.


"Kapan bibi Audrey kirim bahan makanan?" tanya Ibra pada mereka berdua.


"Seminggu yang lalu, ada apa tuan muda?"


"Apa yang Nadia lakukan ketika melihat kulkas dengan keadaan kosong seperti ini? dia harus masak untuk kami semua, apa yang akan dia lakukan?" pikir Ibra.


Tak lama kemudian laki-laki dengan postur tubuh sempurna itupun berdiri dan berbalik ke arah Sakti, "siapkan mobil, kita pergi ke pasar terdekat," perintah Ibra cepat.


"El.... El..... " teriak Ibra.


"Gua denger, pasukan udah gua suruh nyari di pasar dan standby di sana,"


"Oke good job,"


"Sakti....... "


"Astaga kesambet apa tuan muda pagi ini, teriak-teriak mulu dari tadi, nanya juga nggak di jawab lagi, nasib nasib," batin Sakti yang sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


***


Saat itu pasar sudah sangat ramai baik dengan pedagang maupun pembeli yang hendak mencari bahan makanan untuk sarapan seperti dirinya saat ini.


Nadia sibuk mencari di antara para pembeli di beberapa toko yang ia singgahi, ia sangat lincah dalam hal tawar menawar dan bertanya beberapa kali kepada para penjual seolah sudah sangat mahir dalam hal ini.


"Eh neng Nadia ya, istrinya pemilik perusahaan IA entertainment yang lebih ganteng dari artis-artis itu kan?"


"Ya Allah neng, aslinya jauh lebih cantik euy, natural dan keliatan lucu," puji beberapa ibu-ibu yang tidak sengaja berbelanja di tempat yang sama dengannya saat ini.


"Hehe terimakasih bu," ucap Nadia dengan sopan, tak lupa dengan senyum di bibirnya yang tak pernah hilang.


"Duh cantik cantik gini, punya suami kaya, masih mau aja belanja di pasar neng ?"


"Hehe iya bu, lagi pengen, ini cabenya berapa bu?" jawab Nadia.


"Berapa kilo neng ?" tanya penjual itu.


"Lima ribu aja bu,"


"Duh neng, lakinya orang kayak kok cuma beli lima ribu, nggak kurang neng?" ucap Ibu itu mengompori.


"Yang kaya kan laki saya bu, saya mah apa atuh, cuma rempeyek udang, hehe, lagian suami saya nggak terlalu suka pedas bu, sukanya yang manis manis imut kayak saya, hehehe," senyum Nadia ramah dan tidak ingin mengambil pusing ucapan ibu-ibu di pasar itu.


"Duh pasangan muda, keliatan banget mesranya," timpal ibu-ibu lain.


"udah bu, ini uangnya pas ya bu, mari bu saya pamit pergi dulu," ucap Nadia segera pergi.


"Duh orang kaya emang hawanya beda ya bu," ucap salah satu ibu di sana.


"Duh ini wajah nggak bisa di sembunyiin napa, banyak banget orang kenal sih," ucapnya dengan masih berjalan hendak mencari bahan lain yang sudah ia rencanakan sejak pagi.

__ADS_1


"Ahhh.... Ahhh.... aduhhh... " teriak Nadia di tengah langkahnya saat hendak mencari ikan kakap.


__ADS_2