
Rafael melonggarkan dasi yang sudah acak-acakan karena pertarungannya di tempat lain sebelumnya, kemudian melepaskan jas yang ia pakai dan menitipkan nya pada Luna dengan sopan.
"Tolong... " ucapnya saat itu.
Luna menerima jas itu, namun tatapan matanya masih menatap William yang merintih kesakitan dengan Clarissa yang membantu di sampingnya.
Rafael sedikit kecewa dengan apa yang ia lihat di depannya, namun ia tetap berpaling dari Luna dan melihat sebuah alat sangat kecil beterbangan di sekitarnya, jika orang lain mungkin akan mengira itu lalat atau nyamuk, tapi ini adalah sesuatu yang ia sangat hafal betul.
"Kau mendengar ku Ibra? jika ia dengarkan dan lihat saja, aku bisa mengatasinya sendiri," ucapnya dengan keras.
"Kalian pengelola rumah sakit ini?"
"Iya tuan... "
"Aku ingin seluruh staf rumah sakit berada di sini, kecuali mereka yang sedang menjaga dan merawat adik dan keponakanku,"
Semua orang yang ada di sana segera berbondong-bondong datang dengan perasaan cemas, nama Ibrahim dan semua orang yang berada di balik layar kesuksesan nya memang menjadi perbincangan di kalangan masyarakat kelas atas, menengah dan kelas bawah, namun tidak ada satupun dari mereka yang berhasil bertemu dengan mereka semua secara langsung, bermimpi saja tidak berani.
"Siapa pemilik rumah sakit ini?" tanya Rafael.
"Ibrahim Muhammad Attar, rumah sakit ini masuk dalam aset Delta Internasional Group," jawab salah seorang petinggi di sana.
"Siapa orang-orang yang berada di sisi Ibrahim Muhammad Attar,"
"Tuan Sakti, tuan Rafael, tuan Aga dan dokter Luna,"
Sebuah senyum mengejek terlihat jelas di bibir Rafael, "dokter Luna... dokter Luna... kalian berdua dengar, dokter Luna yang berada di depan mata kalian ini adalah salah satu orang di balik besarnya nama Ibrahim Muhammad Attar, jangan karena dia tidak memakai jas dokter membuatnya di anggap dokter gagal, dokter gadungan....ha ha ha...mendengar nya saja membuatku ingin tertawa..." tegas Rafael.
Tidak ada yang berani menatap ke arah Rafael, semuanya menunduk takut menjadi sasaran amukan Rafael berikutnya.
"Tapi itu ucapan mu, Ibrahim Muhammad Attar hanya legenda, banyak orang yang mengatasnamakan dirinya, tidak ada alasan bagiku untuk mempercayai orang seperti kalian," ucap Clarissa.
"Dokter Clarisa... jaga bicara anda," bentak salah satu pimpinan di sana.
"Aga... " teriak Rafael.
"Iya tuan,"
"Cabut lisensi dokter mereka berdua, jangan biarkan satu pun rumah sakit menerima mereka, Cyber akan bergerak secara langsung di bawah perintahku jika menyangkut mereka berdua," tambahnya.
__ADS_1
"Dan karena keduanya dokter, tentunya tangan menjadi sebuah anggota tubuh yang sangat penting di hidup mereka bukan? bagaimana jika kau patahkan lima di antara sepuluh jemarinya, nanti aku akan memilihnya secara acak," tambah Rafael membuat semua orang bergidik ngeri.
"Tidak... tunggu... Luna... bagaimana bisa kau bisa berteman dengan orang-orang seperti mereka tanpa membicarakan apapun denganku... ah... kau harus membantuku Lun... ini tidak benar," ucap Willian yang berkali-kali menggerakkan tubuh Luna dengan kanan kirinya.
Namun Luna masih tidak bergeming, sebuah butiran kecil berhasil lolos dari sudut mata indahnya,
"Hanya karena hidupmu dalam bahaya kau mengucapkan semua ini padaku?"
"kita pergi sekarang," ucap Rafael yang segera membawa Luna pergi dari sana.
"Ah... rumah sakit ini akan masuk dalam daftar hitam ku mulai sekarang, mungkin aku harus mulai mendirikan sebuah rumah sakit baru yang lebih berguna," gumamnya sambil berjalan meninggalkan mereka semua.
"Luna... Luna.... Luna... dengarkan aku lebih dulu, aku bisa menjelaskan semuanya," teriak Willian yang sudah menggila.
***
Dua orang perawat mengambil bayi-bayi kecil Ibra dan memindahkannya ke ruangan terpisah yang sudah di persiapkan secara khusus untuk pengecekan golden blood di dalam tubuh mereka, ini bertujuan untuk deteksi awal sehingga mereka bisa melakukan pencegahan pencegahan atas sesuatu yang tidak di inginkan.
Ruangan itu kini seperti sebuah ruang bioskop, semuanya fokus menatap layar televisi yang berukuran cukup besar dengan Rafael yang sudah mengumpulkan semua orang di sana.
"Kau mendengar ku Ibra? jika ia dengarkan dan lihat saja, aku bisa mengatasinya sendiri,"
"Karena Abang El kan yang ngajarin mas,"
"Dia baru saja menghabisi orang-orang Luke selama dua hari dua malam bukan?" tanya Abrar begitu melihat beberapa darah di sana sini kemejanya.
Masih tidak ada yang menjawab ucapannya, semuanya fokus menatap televisi tanpa bicara, "apa yang akan terjadi jika aku dulu tetap memaksakan diri bertarung dengannya di usiaku, bahkan setelah menghabisi banyak sekali orang, dia masih tetap on fire begitu,"
"Mungkin abang El akan memotong kaki daddy Abrar," jawab Nadia.
"Ditambah dengan kedua tangan anda tuan," tambah Sakti.
"Cukup cukup, kalian jangan menakuti ku, Rafael memang seberbahaya itu,"
"Jika perintah itu dari tuan muda, maka kedua buah bola mata Anda yang akan di ambil terlebih dahulu tuan,"
Dengan terkejut Abrar langsung menatap Ibra yang tidak tau apa-apa, "ada apa dad?"
"Kau akan melakukan nya seperti yang Sakti katakan ?"
__ADS_1
"Tidak hanya mata, aku akan membiarkan musuhku hidup dengan banyak sekali kehilangan, itu bayaran atas semua yang sudah ia lakukan, tergantung pada bagaimana dan siapa yang ia sakiti di hidupku,"
"Putramu mengerikan Attar," ucapnya merinding.
"Mas Ibra sangat manis," ucap Nadia yang langsung memeluk suaminya itu.
"Astaga....kau menjadi ikut ikutan sepertinya menantu, besok aku akan mendatangkan seorang guru untukmu belajar memasak, jangan bermain yang berbahaya oke," ucap Abrar prihatin dengan menepuk poni rambut Nadia lembut.
"Hi... hi... "
***
Rafael membawa Luna masuk ke dalam sebuah ruangan, seperti sebuah kantor lengkap dengan meja dan komputer di sana.
"Kita berada di mana?"
"Setiap aset Delta selalu memiliki sebuah ruangan rahasia dengan akses kita di sana," jelas Rafael bangga, ini adalah fitur terbaru untuk semua orang kepercayaan Ibra termasuk dirinya.
"Oh... " ucapnya dengan menganggukkan kepala pelan.
"Dulu lu kerja di sini?" tanya Rafael.
"Hu.. uhmm.. dulu, sebelum Ibra ngajakin gua ikut dia,"
"Huft..... " Rafael menarik nafas berat.
"Gua kira lu nolak gua karena masalah citra buruk gua masalah cewek, tapi cukup mengejutkan... gua bisa kalah sama tuh cowok jadi-jadian." tambah Rafael dengan nada anehnya.
Luna menatap wajah Rafael yang berada tak jauh dari wajahnya, laki-laki itu berdiri tepat di depannya.
"Rafael... You know you are always the best, tapi cinta tidak bisa memilih dia jatuh untuk siapa,"
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
Salam sayang semua.
__ADS_1