Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Sisi Lain


__ADS_3

Hai semua kesayangan author


Huft rasanya udah lama banget nggak nulis karena terlalu fokus sama real life, padahal baru sehari kan ? hehe.


Author selalu baca komentar teman-teman semua, terimakasih sudah menunggu cerita ini dengan sabar, tapi author minta maaf masih belum bisa membagi waktu untuk fokus lanjut cerita hingga bisa update beberapa episode dalam satu hari.


Selamat membaca, salam sayang dari author.


***


"Om bahagia nggak nikah sama Nadia," tanyanya lagi, dia benar-benar tidak bisa diam malam ini.


"Dasar bocah, dia benar-benar tidak bisa diam,"


"Om.... om.... om.... " panggil Nadia pelan dan sedikit mengguncang tubuh Nadia.


Ibra semakin mengeratkan lengannya di leher Nadia hingga gadis itu kesusahan bernafas, "Diam Nadia, atau aku akan mencekikmu sampai pagi," ancam nya.


"Argh argh i... ya om," ucapnya terbata-bata dengan kaki ketayal-ketayal karena kesulitan bicara dengan Ibra yang menekan lehernya.


Setelah apa yang di ucapkan gadis itu, akhirnya Ibra mengendurkan lengannya, "diam, jangan bergerak dan jangan bicara apapun," ucapnya lagi dengan mata yang masih setia terpejam.


"Huft apa-apaan om Ibra ini, aku bahkan di cekik hanya karena bicara, duh tubuhku nggak bisa gerak, huuuu om om nggak asik, untung aja cinta, kalo enggak mungkin udah ku cekik balik hahaha," batin Nadia dalam hati padahal sendirinya nggak berani juga.


Satu menit, lima menit, dua puluh menit, sudah tidak ada suara apapun di dalam kamar itu, suasana berubah menjadi hening setelah kedua orang itu mulai memasuki alam mimpi masing-masing.


Tok tok tok


"Ibra..... Ibra.... " terdengar suara wanita berteriak di luar pintu kamar dengan keras.


Ibra dan Nadia yang mulai masuk ke alam mimpi seolah di tarik paksa oleh seseorang untuk kembali ke dunia nyata, mata yang sudah meredup itu terbuka dengan malas, terutama Ibra. Laki-laki itu merasa kesal bukan main, tubuhnya benar-benar lelah dan ingin segera beristirahat.


"Aishhh ada apa lagi si Anna, bikin pusing aja," ucapnya kesal namun tetap tidak berniat terbangun dari tidurnya.


"Om tidur lagi aja, biar Nadia yang buka," ucap gadis itu mengalah, sebenarnya Nadia juga malas untuk bertemu dan menanggapi wanita yang di cintai suaminya itu, namun karena dirinya tau kepadatan jadwal Ibra yang selalu di beritahukan Sakti kepadanya setiap saat, maka dia memutuskan untuk membiarkan Ibra kembali tidur dan membasmi saingannya tersebut seorang diri, hehehe.

__ADS_1


"Suruh cari hotel aja kalo masih nggak bisa diem,"


"Ibra.... Ibra.....aku nggak mau tidur sendiri," suara teriakan terdengar semakin kencang.


Ceklik


Tanpa berkata apa-apa, wanita bernama Anna itu langsung menerobos masuk begitu pintu kamar dibuka oleh Nadia, namun sayangnya baru satu langkah ia melewati pintu kamar itu, pergelangan tangannya di tarik paksa oleh seseorang untuk keluar.


Sakti.


Yups, laki-laki itu dengan sigap menarik pergelangan tangan Anna kemudian menariknya menjauh dari kamar tuannya itu.


"Nadia jangan ribut, ini bukan hutan" teriak Ibra dari dalam.


"Bukan aku yang berteriak om," balasnya ikut berteriak, namun tubuhnya masih penasaran kemana Sakti membawa Anna pergi.


"Masuk dan tidur dek, Anna jadi urusan gua sama Sakti, mumpung Ibra belum ngamuk" ucap Rafael yang baru saja datang karena berisik dengan teriakan Anna.


"Penasaran bang, hehe" ucapnya dengan senyum bodoh tanpa dosa.


"Nadiaaaa........ " teriak Ibra semakin kencang karena Nadia tak kunjung datang.


"Tuh... suami lu udah kek singa ?" ucap Rafael lagi.


"Iya om masih jalan," teriaknya dengan berlari terburu-buru, "harus cepet sebelum om Ibra marah," batinnya.


***


Sakti menghunus tatapan tajam ke arah Anna yang sudah berada di hadapannya, suasana hatinya terlihat tidak bersahabat seperti sebelumnya.


"Apa-apaan sih kamu Sakti, kamu nggak punya hak buat nyentuh aku," teriak Anna meronta dengan menarik pergelangan tangganya yang masih berada dalam genggaman tangan Sakti.


"Aku semakin yakin kalo kamu bukan orang yang pantas untuk tuan Ibra, aku harus bersyukur bahwa perempuan itu adalah nona muda, bukan kamu," ucap Sakti tegas penuh penekanan.


Anna yang mendengar ucapan Sakti hanya mengerutkan alisnya kesal, "kenapa setelah kembali ke Indonesia semua orang jadi berbeda seperti ini, tidak hanya Ibra tapi juga Sakti,"

__ADS_1


"Kenapa sih jadi kayak gini, hubungan kita semua awalnya nggak kayak gini, ini kayak bukan kamu dan Ibra,"


"Karena kami sudah terbiasa tanpa kamu selama ini, aku bersikap baik karena pertemanan kita dan juga karena kamu adalah wanita yang di cintai tuan muda, tapi kamu membuktikan sendiri bahwa kamu bukan orang yang layak untuk tuan muda,"


Plak


"Cukup!!!!!" teriak Anna setelah meninggalkan bekas tangan di wajah Sakti yang saat ini terlihat kemerahan.


Terlihat jelas seringai kecil di bibir Sakti, laki-laki itu menyentuh sudut bibirnya yang sedikit berdarah karena tamparan yang baru saja ia terima.


"Kalian nggak berhak sama sekali menghakimi atau memperlakukan aku seperti ini, aku juga punya alasan buat pergi," ucapnya dengan kornea mata berkilat-kilat pertanda marah.


"Okeh cukup nggak usah di perpanjang," lerai Rafael di tengah kedua orang yang masih menatap penuh kesal.


Rafael meminta keduanya untuk duduk dengan tenang di sebuah sofa, ia bahkan mengambil minum untuk mereka berdua. Setelah melihat suasana menjadi lebih tenang, akhirnya ia mulai bertanya kepada mereka.


"Kenapa lu teriak malem-malem di depan kamar orang, di rumah orang lain pula, tujuan lu apa?" tanya Rafael dengan nada tenang.


"Gua baru liat Sakti sampai segila dan semarah ini, biasanya dia yang paling sabar di antara kita semua, apa gua udah ngelewatin sesuatu tentang cerita mereka bertiga yah," batin Rafael.


"Aku nggak berani tidur sendiri, Aku mau sama Ibra,"


"Tidur denganku dan jangan membuat keributan,"


Uhuk uhuk uhuk


Rafael yang sedang minum air putih dengan gelas transparan terbatuk tiba-tiba setelah mendengar apa yang di ucapkan Sakti.


***


Nadia langsung menutup pintu dan berjalan menyusul Ibra di atas ranjang, "om, Nadia pengen liat keadaan tante Anna sebentar ya," ucapnya.


Ibra masih diam dan tidak menanggapi apapun yang di ucapkan Nadia, "Ish, tadi masih bisa teriak-teriak, sekarang udah tidur lagi, cepet banget tidurnya," batinnya.


Nadia menggoyangkan telapak tangannya di depan mata Ibra yang tertutup, setelah di rasa tidak ada gerakan dari Ibra, akhirnya ia memilih beranjak dan melihat keadaan Anna.

__ADS_1


"Berhenti Nadia, beri waktu Sakti dan Anna untuk berbicara, kembali dan jangan beranjak dari kamar ini selangkah pun," ucap Ibra tegas.


__ADS_2