Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Mimpi buruk


__ADS_3

"Dia pernah tinggal di rumah itu ?" tanya Rafael pada Sakti.


"Diamlah kalian, aku takut akan ada berita yang tidak baik besok," ucapnya.


"Argh membayangkannya saja membuatku sakit kepala," ucap Ibra sambil meremas rambutnya.


"Ibra sudah membawanya ke rumah besar, tapi kenapa sampai sekarang dia tidak tau siapa Ibra dan seberapa besar kekayaannya ? benar-benar bodoh."


"Tenanglah tuan, tidak banyak yang tau berita pernikahan anda dengan nona muda, jadi anda tidak perlu merasa khawatir," ucap Sakti menenangkan tuannya, meskipun dirinya sendiri juga sebenarnya tak kalah takut.


"Bukankah pernikahan kalian adalah pernikahan rahasaia ? aku bahkan tidak tau tentang pernikahan itu, apa yang kalian takutkan ? ini hanya masalah sepele," decih Rafael.


"Kau saja yang terlalu bodoh tidak mengetahui berita yang jelas ada di depan matamu, seharusnya kau bisa melacaknya dengan mudah," tambah Sakti tidak kalah ketus.


"Sudahlah-sudahlah, aku malas mendengar kalian berbicara." bentak Ibra pada mereka berdua.


Sakti dan Rafael yang terkena semprot Ibra hanya bisa saling pandang, hingga kemudian "bagaimana Anna ?"


Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Ibra, pertanyaan yang setiap hari tidak pernah lupa ia tanyakan pada mereka berdua. Anna, seorang wanita yang berhasil mengetuk pintu hatinya berkali-kali meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.


"Kenapa Anna ?"


"Bagaimana perkembangannya ?"


"Bukannya hidup seperti ini sudah cukup, Nadia tidak seburuk yang gua kira," ucap Rafael dengan nada serius.


"Nadia hanya tempat singgah sementara saja El, tujuanku hanya Anna," jawab Ibra mantap.


"Gue jelas tau Ibra sangat anti mendapatkan sentuhan dari wanita manapun, tapi tadi gue lihat dia mengelus punggung gadis kecil itu, dia masih saja mengelaknya," ucap Rafael dalam hati.


tok tok tok


"Om, makan sudah siap," ucap Nadia dari balik pintu.

__ADS_1


"Pekerjaan nona muda tuan ..." belum sempat Sakti melanjutkan ucapannya namu sudah di potong oleh Ibra telebih dahulu.


"Biarkan dia bekerja sesuai yang dia inginkan, aku sangat jarang melihatnya bahagia seperti itu, jika ada berita buruk tentang ini biarkan El yang mengurusnya,"


"Hah, kok gue, nyari perkara lu dasar kutu kupret," gerutu Rafael kesal.


"Biar lu ada kerjaan dodol," balas Ibra tak kalah ketus.


"Bodoh gue males, gue mau makan,"


***


Bau harum makanan sudah memasuki rongga hidung Rafael yang terlebih dahulu keluar dari ruangan Ibra, ia melihat banyak makanan tertata rapi di atas meja dengan mata berbunga-bunga, yang sangat ia tidak bisa percaya adalah ketika makanan ini bisa di masak oleh anak berusia delapan belas tahun seperti Nadia.


Rafael langsung mendudukkan dirinya di atas sebuah kursi karena saking tidak sabarnya menyantap makanan-makanan itu, Rafael memang mudah sekali lapar dan cenderung tidak pilih-pilih makanan karena dia sangat doyan makan, benar-benar bebanding terbalik dengan tubuh kurus miliknya.


Tak lama Ibra dan Sakti mulai mucul dari balik pintu menyusul Rafael yang sudah duduk terlebih dahulu, Melihat kedatangan Ibra, Nadia segera menyiapkan makanan yang akan di santap suaminya itu, "om mau makan apa ?" tanyanya.


"Uhm, aku ingin daging saja," jawabnya.


"Selamat makan om," ucapnya.


"Hey bocah, kok cuma Ibra yang di ambilin ?" tanya Rafael.


"Tentu saja karena om Ibra suamiku." ucapnya kemudian ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Rafael berdecih kecil, sedangkan Sakti hanya tertawa melihat jawaban Nadia, "nona memang sangat cerdas, itu adalah cara terbaik untuk menghadapi laki-laki sepertinya nona, anda terbaik," ucap Sakti sambil mengangkat jempol tangan kirinya ke udara.


"Silahkan makan semua," ucap Nadia berikutnya.


Akhirnya Sakti dan Rafael pun mulai mengambil makanan dan menaruhnya di atas piring yang sudah siap di depan mereka, Rafael mengambil paling banyak makanan di antara yang lain.


Ketiga laki-laki itu mulai memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya, "masakannnya tidak pernah mengecewakan meskipun itu hanya rumput," pikir Ibra.

__ADS_1


"Benar yang dikatakan Sakti, masakannya benar-benar sangat enak," batin Rafael yang semakin lahap menyantap makanan-makanan itu.


"Anda sangat pinta memasak nona, masakan anda selalu enak,"ucap Sakti jujur.


"Tentu saja pak, aku selalu memasak untuk adik-adik panti yang lain sejak kecil setiap hari, jadi memasak adalah hal paling mudah yang bisa kulakukan," ucapnya dengan mulut penuh.


"Habiskan dulu makananmu, seperti anak kecil saja makan dengan mulut penuh seperti itu," ucap Ibra ketus.


"Iya om," ucap Nadia menurut.


***


Kamar Ibra dan Nadia


Nadia memasuki kamar Ibra dengan langkah hati-hati karena tidak ingin menganggu si empunya kamar, ini memang sudah sangat larut, bahkan waktu sudah menunjukkan pukul 23:46, ia menghabiskan banyak waktu di depan televisi bersama Rafael sejak tadi, laki-laki itu tidak seburuk yang ia kira ternyata, dibandingkan dengan Ibra dan Sakti yang kaku, Rafael justru sangat berbeda, sifat kekanak-kanakan begitu kental dengannya.


"Om Ibra udah tidur ternyata, lampunya udah gelap begini, aku tidak boleh membangunkannya," ucap Nadia pelan pada dirinya sendiri.


"Ah, aku harus mencari bantal terlebih dahulu agar tidak membangunkan om Ibra," ucapnya lagi kemudian berjalan ke luar kamar untuk mencari bantal dan juga selimut untuknya tidur malam ini.


Nadia berusaha mencari kemanapun, tapi sepertinya memang tidak ada bantal lain yang bisa ia gunakan di rumah itu, "rasanya nggak mungkin kalo nggak ada bantal lain di rumah ini, aku harus mencarinya di tempat penyimpanan seprai," ujarnya kemudian.


Tangan kecil itu membuka tutup lemari sembari mencari tempat penyimpanan bantal dan selimut, hingga akhirnya, "yes ketemu, ah akhirnya bisa tidur malam ini," ucapnya senang.


Sret sret sret


Dengan membawa bantal dan selimut, gadis itu menyeret kakinya yang sudah mulai lelah berjalan menuju kamar Ibra. Gelap, Nadia sebenarnya kurang menyukai tidur dalam keadanan gelap seperti ini, tapi karena dirinya hanya menumpang jadi dia tau diri dan tidak mau terlalu banyak menuntut.


Bantal berukuran sedang itu sudah mendarat cantik di atas sofa, di susul dengan tubuh Nadia yang juga mendarat setelahnya, tangan kecil itu merentangkan selimut untuk menutup seluruh tubuh mulai dari kaki hingga kepalanya dengan sempurna agar dinginnya AC tidak menembus tulang-tulangnya, hihi.


Tiga puluh menit kemudian Ibra bergerak di atas ranjang berukuran king size, tanganya bergerak meraba sakelar lampu dan menyalakannya, dengan mata mengantuk ia mencari sumber suara yang membuatnya terbangun malam itu.


"Tidak,,,tidak,,," teriakan Nadia membangunkan laki-laki itu dari tidurnya.

__ADS_1


Ibra berjalan pelan mendekat ke arah sofa yang di tempati Nadia, terlihat beberapa kringat sebesar biji jagung bertengger di dahi gadis itu, "kejadian tadi masih meninggalkan trauma padanya,"


Suara ketakutan dari bibir Nadia semakin jelas terdengar, "Nadiaaa,, Nadia bangunlah,," ucap Ibra sedikit keras dengan menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu.


__ADS_2