Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Tolong


__ADS_3

Rafael masih mengamati apa yang menjadi icon dan memicu keributan di rumah sakit seperti ini, "Luna...? kenapa dia di sana di depan banyak orang begitu," ucap Rafael.


"Berani menyentuhnya, jangan pernah menyentuh lelakiku seperti itu dokter gadungan." ucap wanita itu dengan tangan yang sudah terangkat di udara.


Rafael yang saat itu berada di sana segera berjalan mendekat dan menghadang tangan putih wanita di depannya ini.


"Ho.. ho..kau tidak ingin dia menyentuh lelakimu ? aku juga tidak suka kau menyentuh wanitaku," ucap Rafael dengan sikap formalnya.


"El... " gumam Luna sedikit terkejut begitu melihat Rafael sudah berdiri di depannya.


"Si.... siapa kau?" tanya wanita itu terbata berusaha melepaskan tangannya yang masih di pegang erat oleh Rafael.


"Kenapa? terpesona denganku sampai bicaramu terbata begitu? aku 99.9 persen lebih tampan darinya, tidak ingin denganku saja? aku juga bisa lebih membayar mahal atas tubuhmu dua puluh kali lipat dari yang sudah dia berikan, mau coba?" ucap Rafael.


Bum....


Sebuah pukulan mendarat di wajah tampan itu, Rafael hanya menatap laki-laki bernama William sembari memegang ujung bibirnya yang berdarah.


"Cih, kau selingkuh lebih dulu tapi berteriak selingkuh padaku, dia selingkuhan mu hah ? pantas saja kau sering pergi saat malam hari..." ucap William kemudian dengan menunjuk-nunjuk tangannya pada Luna.


Krak krak


"Ah... ah.... "


"William... " teriak wanita itu.


Ibra mematahkan tangan kanan William yang sudah ia gunakan menunjuk Luna dengan tidak sopan, "kau berani menunjuknya seperti itu? bahkan selingkuhanmu tidak memiliki seujung kuku pun skillnya dalam dunia Kedokteran, dokter gagal ini sudah memimpin banyak sekali rumah sakit besar di berbagai negara, dia menyembuhkan penerus Delta Internasional Group hingga bisa memimpin sampai hari ini, tapi kau malah meninggalkan mutiara berharga hanya demi sebuah barang rongsokan, cih matamu buta apa bagaimana?"


"Lepaskan aku, petugas... hentikan orang orang asing ini," teriaknya tidak karuan.


"Ingin coba menghentikan ku? aku bahkan bisa membuat wanita mu itu bertekuk lutut mengemis dan merangkak ke ranjang ku di depanmu? bagaimana? tertarik?" bisik Rafael pelan yang mana semakin membuat William menggila tidak karuan.


"Luna.... bagaimana bisa kau bergaul dengan orang-orang macam ini hah?" teriaknya tidak peduli lagi dengan semua orang yang bahkan sudah mengambil foto dan video kejadian mereka saat ini.


"Setidaknya mereka memperlakukan aku dengan terhormat," jawab Luna.


"Orang macam apa aku di pikiranmu?" ucap Rafael sengaja membuat suasana semakin panas.

__ADS_1


"Lepaskan aku.... Luna... suruh dia melepaskan tanganku sekarang," bentaknya semakin keras.


"Panggil pengelola rumah sakit ini sekarang!!" perintah Rafael kepada semua orang di sana.


***


Salah seorang perawat berlari tergesa-gesa menuju ruangan pimpinan mereka, kebetulan hari ini sedang ada rapat rutin mingguan, yang mana semua pimpinan dokter sedang berada di dalam satu tempat yang sama.


Tanpa menghiraukan protokol, perawat berjenis kelamin perempuan itu segera masuk ke dalam ruang rapat dengan nafas memburu.


"Ada apa sampai seorang petugas rumah sakit tidak memiliki sopan santun seperti ini," ucap salah seorang dokter yang saat ini sedang berada di atas panggung mengendalikan pertemuan ini.


"Dokter William dan dokter Clarissa sedang membuat keributan dengan dokter Luna dok," ucapnya dengan sesekali mengambil nafas secara acak.


"Dokter Luna??"


"Siapa dokter Luna?"


"Beliau perwakilan langsung dari Delta Internasional di bidang kesehatan, namanya jarang dikenal publik karena memang hanya untuk kejadian insidentil saja,"


"Peringatkan dokter Willian untuk menjauh dari semua masalah, terlebih dokter Clarissa,"


"Astaga," ruang pertemuan yang di hadiri oleh para petinggi itu kian riuh ketika nama Rafael yang memang sudah di ketahui publik sebagai salah satu tangan kanan Ibra yang paling di percaya juga ikut turun tangan.


"Cepat turun, sebelum tuan Ibrahim mendengar masalah ini,"


"Tapi tuan Ibrahim dan tuan Sakti juga berada di rumah sakit ini sekarang tuan," tambah perawat itu yang membuat suasana semakin panik.


"Kenapa mereka semua berada di sini tapi tidak ada satupun yang memberitahukan ini ke kami," bentak nya.


"Istri tuan Ibrahim melahirkan, mereka datang tanpa membuat pemberitahuan terlebih dahulu," tambahnya.


"Sudah langsung pergi saja, jangan semakin membuat dia menunggu," ucap para petinggi yang lain yang sudah terburu-buru berlari keluar ruangan.


***


Semua orang tengah sibuk bercengkrama dengan bayi kecil yang masih berada di ruang kaca yang berada tepat di sebelah ranjang pasien tempat Nadia berada saat ini.

__ADS_1


Ibrahim sibuk memainkan jemari Nadia dan memberikan banyak sekali kecupan di wajah ke istrinya yang masih terlihat tembam itu, "mas Ibra cukup, ada banyak orang di sini sayang,"


"Biarkan saja, mereka sibuk dengan cucu mereka," ucapnya lagi.


"Tuan muda," suara Sakti menghentikan aktifitas semua orang yang ada di sana.


Ibra melihat sosok yang selama ini bersamanya itu, "ada apa? Rafael membuat masalah lagi?"


"Bukan Rafael tuan muda, ada orang lain yang tengah menganggu Luna, dan Rafael sudah berada di sana untuk membantu Luna, ia bahkan sudah memporak porandakan seluruh rumah sakit dengan meminta pengelola rumah sakit untuk datang," jelas Sakti.


"Wah... pasti sangat menyenangkan... " ucap Ibra dengan senyum lebar.


Kemudian Ibrahim menatap Nadia di sampingnya, "aku akan menerbangkan alat ajaib milikku," ucapnya yang faham maksud tatapan suaminya tanpa perlu bicara.


***


"Berani kau mematahkan lenganku, kau tidak tau bahwa tanganku sangat berharga, aku akan menuntutmu atas kejadian ini," racau William kesal.


Aga yang berada di sana sudah menutup rumah sakit sementara, beberapa pengunjung yang sempat mengambil foto dan melihat kejadian itu kini sudah antri untuk mendapat vitamin C berupa uang tutup mulut agar berita ini tidak menyebar terlalu jauh.


"Dimana mereka?"


"Ss.. ssaaya di sini tuan Rafael," sahut kepala rumah sakit dengan beberapa orang petinggi yang lain di belakangnya.


"Sebenarnya sangat tidak sopan aku dengan penampilan ini menemui kalian, tapi ada yang mengganggu ku dan rekan-rekanku di sini, membuatku tidak bisa diam saja," tambahnya dengan kharisma yang semakin terpancar.


"Uhmm.. tuan lepaskan dulu lengan dokter William," ucap salah seorang di sana.


"Ah... aku lupa," ucapnya kemudian mendorong tubuh di depannya ini dengan cukup keras hingga mampu membuatnya tersungkur.


Rafael melonggarkan dasi yang sudah acak-acakan karena pertarungannya di tempat lain sebelumnya, kemudian melepaskan jas yang ia pakai dan menitipkan nya pada Luna dengan sopan.


"Tolong... " ucapnya saat itu.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.

__ADS_1


Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe


Salam sayang semua.


__ADS_2