Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Kebaikan Ibra


__ADS_3

Malam itu Sakti dan Rafael sedang duduk minum kopi di dalam sebuah ruangan berukuran besar dengan banyak sekali cat dan perabotan yang masih berserakan di lantai, ruangan itu masih di renovasi ulang untuk ruangan pribadi presiden direktur baru yang tidak lain adalah Ibra, semua aspek dari warna dinding hingga hiasan-hiasan kecil sudah di desain khusus sesuai dengan style Ibra.


"Kalian sudah mendapat kabar dari Ibra?" tanya Louis yang baru saja datang dan bergabung bersama mereka.


"Ada apa paman, Ibra nggak akan menghubungi kita sampai besok, dia pasti sedang bersenang-senang sekarang," sahut Rafael semangat, sejak tadi ia sudah membayangkan apa yang terjadi antara Nadia dan Ibra, hehe.


"Aku mendengar sedikit berita aneh di luar sana," ucap Louis mulai merasa panik, itu terlihat samar di wajahnya.


"Ada apa paman ?" tanya Rafael.


"Ibra... ada sebuah akun media sosial seseorang yang yang menyatakan bahwa Ibra sedang dalam perjalanan dengan sebuah kapal ekonomi,"


Uhuk uhuk uhuk


Sakti yang sedari tadi diam dengan tenang sekarang batuk-batuk tersedak minumannya sendiri, "obat itu sangat kuat paman, tuan muda tidak akan bisa mengendalikan diri kurang lebih sampai dua hari, apalagi sampai harus bepergian, di tambah dosis yang di berikan Luna tidak main-main," ucap Sakti tidak percaya.


"Kalian memberinya obat?" tanya Louis heran.


"Daddy yang nyuruh," tambah Rafael tidak ingin di salahkan.


"Saya ingin melihat fotonya paman," ucap Sakti yang langsung menerima ponsel Louis ketika Louis mengarahkan ponsel ke arahnya.


Terlihat potret Ibra sedang menatap lautan dengan Nadia di pelukannya, keduanya sedang tertawa dan tersenyum bersama.


Tak hanya melihat keduanya, Sakti juga melihat caption di bawahnya, "Tuan muda Ibrahim yang masih tetap bahagia bersama istrinya pasca bangkrutnya perusahaan,"


Beberapa komentar berupa support, menyemangati bahkan menghina sudah memenuhi foto tersebut, nama Ibrahim memang tidak bisa hilang begitu saja di kalangan masyarakat, pasca kebangkrutan namanya masih menjadi buah bibir hingga saat ini.


"Apa yang di rencanakan tuan muda?"


"Ibra sengaja, dia pasti punya maksud tertentu, tapi apa tujuannya," tanya Rafael terlebih pada dirinya sendiri.


"Kalian yakin tidak membuat Ibra kesal? aku hanya takut Ibra kesal dengan kalian berdua dengan obat yang kalian sebutkan tadi, baru saja aku menyuruh seseorang untuk menyelidiki mereka,"

__ADS_1


"Hasilnya....? "


Louis terdiam, "hampir seluruh dari semua orang yang ada di kapal itu adalah orang-orang Ibra,"


Rafael dan Sakti bersamaan menyalakan ponselnya dengan memasukkan pin masing-masing, keduanya mendapat sebuah pesan dari Nadia.


"Kali ini abang sudah benar-benar membuat om Ibra kecewa,"


Sebuah pesan dari Nadia seketika berhasil membuat kedua pria itu bingung seketika, "apa yang sudah kalian lakukan mungkin adalah sesuatu hal yang sangat sensitif untuk Ibra, meskipun menurut kalian itu adalah hal baik yang bisa kalian lakukan." ucap Louis yang faham setelah melihat respon mereka ketika membuka ponsel.


***


Nadia sudah berada di dalam sebuah kapal, anehnya kapal ini hanyalah kapal biasa dengan banyak orang yang menaikinya, bukan kapal high class yang selama ini sangat identik dengan kehidupan Ibra.


"Aku hanya bisa membawa mu dengan kapal seperti ini, apakah tidak masalah?" tanya Ibra pada Nadia yang sedari tadi melihat sekeliling kapal.


"Aku hanya khawatir om Ibra merasa tidak nyaman dengan menaiki mobil ini, kalau aku sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini om," ucapnya senyum.


Ibra tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Nadia, sebelum memutuskan untuk duduk, keduanya terlebih dulu melihat lautan biru di depan matanya dengan saling berpelukan satu sama lain.


"Lakukan saja, kalau kau ingin,"


"Aneh," pasalnya Ibra baru saja marah-marah karena ia tidak sengaja membela Rafael.


"Om Ibra masih marah?"


"Bukan marah, lebih ke kecewa karena mereka merusak prinsip yang sudah ku jaga bertahun-tahun,"


Nadia diam tanpa membalas perkataan Ibra, ia berusaha mencerna dan menjadi pendengar yang baik untuk Ibra saat ini.


"Aku sudah berjanji, hanya akan melakukan hubungan itu kepada istri sah ku, yang memang aku dan dia saling menginginkan hal itu, itu prinsip yang selalu ku jaga, dengan banyak sekali godaan terlebih setelah kepergian Anna,"


Ibra menghela nafas seolah apa yang akan ia bicarakan sangat mengganggunya, "tapi semalam, dia membuatku sampai harus meminta agar dia mencarikan seorang wanita untukku, itu sangat melukai prinsip dan harga diri yang selama ini ku jaga," jelasnya.

__ADS_1


"Om Ibra memang orang baik, dia sangat baik dengan prinsip dan pemikiran di luar manusia normal pada umumnya, bang El dan bang Sakti memang sudah keterlaluan dengan memberikannya obat semalam," pikir Nadia.


"Aku memang menginginkannya, jadi om jangan merasa bersalah," ucap Nadia yang tanpa sadar membuat Ibra menoleh ke arahnya.


"Kau menginginkan nya? kenapa tidak bilang dari dulu, aku bisa melakukannya dengan lembut dan tidak akan menyakitimu seperti semalam jika kau bilang lebih awal Nadia," jawab Ibra spontan yang semakin membuat rona merah di pipi Nadia.


"Aku harus ke kamar mandi om, jaga kursinya untukku oke?" ucapnya gugup ingin segera pergi dari Ibra.


"Astaga Nadia, malu-maluin banget sih," gerutunya sepanjang jalan menuju kamar mandi.


Setelah sampai di kamar mandi, ia masih harus menunggu beberapa orang yang sudah terlebih dulu mengantri di sana, sambil mengantri ia menyempatkan diri membuka ponsel dan berniat mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Sakti dan Rafael untuk memperingatkan mereka.


"Kali ini abang sudah benar-benar membuat om Ibra kecewa," send.


"Apa yang anda butuh kan nyonya?" tanya Aga yang kebetulan melihat Nadia di sana.


"Aku ingin mencuci wajahku sebentar,"


"Ikut denganku nyonya,"


"Tidak perlu pak, aku masih bisa mengantri di sini,"


"Ada kamar mandi khusus untuk anda di dalam nyonya," jelasnya.


Karena menjadi pusat perhatian banyak orang akhirnya Nadia mengikuti ajakan Aga, kaki mungil itu berjalan tepat di belakang Aga, beberapa kali ia kesulitan mengimbangi langkah kaki Aga yang cepat dan panjang, namun kaki mungil itu dengan lincah berusaha mengikuti agar tidak tertinggal.


Aga membuka sebuah pintu yang Nadia sendiri tidak tau kemana, "hormat pada nyonya muda... " teriak Aga saat itu juga, yang mana membuat orang-orang yang sebelumnya berpencar mendekat dan berbaris rapi dan menunduk di sepanjang jalan yang akan di lalui Nadia.


"Mereka sedang apa?"


"Mereka semua adalah orang-orang yang sudah di bantu oleh tuan muda Ibrahim nyonya, silahkan kamar mandinya di sana," ucap Aga datar menjaga wibawa.


"Banyak banget yang di bantu om Ibra, sampai bisa sebanyak ini,"

__ADS_1


"Karena tuan muda adalah orang baik selama kita tidak membuat masalah dengannya nyonya,"


__ADS_2