Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Epilog (Ending)


__ADS_3

Rafael yang setuju dengan ucapan Nadia mengangguk tanpa sadar, "tapi gua bisa bunuh Sakti kalo gua mau," ucap Rafael begitu saja tanpa berfikir, hingga tidak sadar sebuah pukulan sudah mendarat dengan keras di kepalanya.


"Ah.... "


"Berani membunuh di wilayah ku? aku akan membunuh kalian berdua lebih dulu dengan tanganku jika berani, " ucap Ibra yang sudah di belakangnya bersama dengan Sakti.


Nadia yang mendengar suara suaminya segera menoleh ke belakang dan merentangkan kedua tangan nya, "mas Ibra pulang... " ucapnya senang yang dengan segera meraih tangan kanan Ibra kemudian mengecupnya lembut.


"Lama menungguku... " ucap Ibra yang sudah merangkul tubuh kecil di hadapannya ini.


"Hu uhm... aku lama menunggu abang El, ia berada di kamar putra putri kita sejak tadi, entah apa yang ia lakukan mas, ia menunggu Ken dan Nay sampai mereka berdua tertidur," jelas Nadia antusias.


"Apa aku harus membuatnya menjaga anak-anak kita dan berhenti mempekerjakan perawat," tanya Ibra menggoda.


"Woy... woy.... lu kalo ngomong kira-kira dong, lemes amat tuh mulut kalo ngomongin gua," ucap Rafael yang sudah bangkit dari duduknya dan menghadap Ibra kini.


"Gimana Cyber? sudah dalam tahap mana kemajuannya setelah di pegang olehmu,"


"Nggak akan ada yang bisa hancurin Delta selama gua ada di Cyber, aman boskyu... " ucapnya dengan memberikan kode tangan berinisial OK.


Ibra hanya manggut-manggut sembari melonggarkan dasinya, "ah aku lupa, aku baru saja memesan sebuah konsol game yang baru saja rilis semalam, aku seperti melihatnya... "


"Dimana anda melihatnya tuan muda...?" tanya Sakti terburu-buru.


"Lu yakin itu yang baru rilis semalam," tanya Rafael tak kalah antusias.


"Game yang sering abang liat itu," tambah Nadia yang tau jika Ibra memesannya.


"Anda beli berapa tuan muda?"


"Sa.... "


Tanpa berkata-kata, kedua orang itu segera saling pandang dan berlari bekerjaran sambil mendorong satu sama lain.


"Jangan coba-coba ngambil karakter favorit gua lu Sakti... "


"Siapa cepat dia dapat," teriak Sakti yang masih terdengar jelas sekalipun dengan berlari.


"Woy..... woy... tunggu gua...,"


"Mereka berdua pecinta game?" tanya Nadia menghadap Ibra.


"Bukan gamenya, mereka sedang berebut karakter yang lebih sering unggul, karakter favorit mereka sama,"


"Hah...mereka berdua lebih bocah dari aku," gumam Nadia pelan yang baru saja melihat kedua abangnya menghilang di balik dinding.


"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Ibra mengelus lembut kepala Nadia.


"Aku baik mas, capek banget ya hari ini ?" ucapnya melihat wajah lelah suaminya.


"Aku ingin melihat Ken dan Nay sebelum beristirahat, bagaimana mereka hari ini? apa merepotkan kamu, mereka nggak nakal kan?" tanyanya sederhana namun cukup mampu membuat Nadia tersenyum.


"Kanaya masih suka tertidur seperti biasanya, dan Kanaka sangat suka menyusu, ia mudah terbangun karena haus mas," jelas Nadia yang sudah berjalan mendampingi Ibra hendak menuju kamar.

__ADS_1


"Tidak apa, usia mereka masih beberapa hari, wajar jika mereka bangun kemudian haus, ia tertidur selama sembilan bulan di perutmu, mungkin akan kesulitan untuk menyesuaikan diri begitu ia melihat dunia ini, tetap sabar dan jangan terburu-buru, kita nikmati saja setiap moment mereka beranjak dewasa,"


"Hu... uhm... "


"Anak laki-laki itu sikapnya sudah terlihat mirip sekali padaku," ucap Ibra.


"Iya kan? bahkan caranya minum sama persis dengan mas Ibra," ucap Nadia polos.


Ibrahim yang sudah berdiri di depan pintu sebuah kamar seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menatap istrinya itu, "hey... kau menyamakan skill ku dalam memuaskan mu dengan bocah yang baru lahir itu,"


"Hehe... bocah itu putra kita mas,"


"Tapi kau menyamakannya denganku bukan? wah... Nadia... aku tidak habis fikir dengan yang baru saja kau ucapkan... " ucap Ibra kecewa yang langsung masuk ke dalam kamar.


Nadia yang masih kecil itu masih terkikik di tempatnya, kemudian menyusul Ibra dengan berjalan pelan dan mengitari laki-laki yang sedang ngambek ini.


"Mas... mas... Ibra... he he... sangat wajar jika dia mirip mas Ibra, darahnya mengalir darah Ibrahim... mas... mas Ibra... " ucap Nadia tanpa henti masih bergerak kemanapun Ibra pergi.


"Diamm.... aku ingin melihat anak-anakku,"


"Maaf dulu... " ucap Nadia dengan gemas.


"Semoga dia tidak bermain perempuan dengan skill yang kuturunkan padanya,"


"Mas Ibra...skill mas Ibra tidak sehebat itu juga, kenapa sampai berbicara seperti itu, Kanaka masih bayi,"


"Kau meremehkan suamimu ini Nadia... wah...kau sangan berani sekarang,"


"Bu.. bukan berani, hehe... maaf maaf," ucap Nadia tersenyum sambil merapatkan tangannya ke dada.


"Tuan dan nona muda masih tidur nyonya," ucapnya.


Ibrahim yang baru saja datang langsung dengan segera hendak mendekat dan mencium anaknya itu, tapi Nadia dengan sigap menahan gerakan Ibra.


"Mas Ibra cuci tangan dulu, mandi... nggak tau apa kalo sekarang lagi viral virus lucu yang bikin orang meninggal seketika, saat ini masih belum ada masker untuk bayi... ayo mandi dulu... jangan sentuh mereka sebelum mandi,"


"Kalau begitu mandikan aku,"


"Mandi sendiri sayangku," ucap Nadia mengelus lembut rambut kepala Ibra.


"Sudahlah ayo temani aku, setelah memandikan ku baru nanti aku akan menemani mu menyusui mereka," ucapnya tanpa malu meskipun ada dua orang perawat di sana.


"Pasti kepo kan? nggak mau salah saing kan sama Ken?" goda Nadia.


"Sudah ayo... " ucap Ibra menarik lembut tangan Nadia.


"Bukankah tuan dan nyonya terlihat sangat manis, laki-laki sesempurna tuan Ibrahim bisa bersanding dengan nyonya Nadia yang sangat lucu dan alami," ucap perawat-perawat itu mulai gosip.


***


Ditempat lain Sakti dan Rafael sedang asik bermain dengan game yang baru saja di beli oleh Ibrahim, bahkan tanpa izin mereka berdua sudah membuka dan memainkan game itu dengan gila-gilaan.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun keduanya masih belum beranjak dari tempatnya, dengan kemeja yang masih ia kenalan, Sakti masih duduk dengan fokus bertujuan mengalahkan Rafael yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Aish...kalah mulu gua... "


"Luna tidak membantuku kemaren," ucap Sakti yang tetap fokus pada game yang baru saja di mulai ulang.


"Gua nggak peduli?"


"Beneran cemburu?"


"Lebih tepatnya malu, nggak usah di bahas bisa nggak?" jawabnya singkat karena game yang juga ia mainkan.


Sakti tersenyum, "jarang-jarang bisa membuat Rafael Adiwijaya tidak berkutik,"


"Lu tau malu nggak? hah hah... "


Bumm bummm bumm


Pukulan demi pukulan ia daratkan ditubuh Sakti agar Sakti berhenti bicara, Sakti juga segera bangkit dan mengambil sebuah bantal di sampingnya, keduanya saling memukul dengan tertawa seperti bocah yang sedang memperebutkan sebuah permen bersama.


Keduanya tidak berhenti hingga benar-benar lelah hingga kemudian mengantuk dan berbaring di sana dengan tidak teratur, beberapa isi bantal bahkan sudah berceceran kemana-mana.


Tepat pukul 02.47 sudah tidak terdengar suara sama sekali dari sana, Nadia yang terbiasa mengambilkan air putih untuk minum Ibra di jam-jam segini melihat pemandangan di depannya.


Sakti tertidur dengan kemeja yang sebelumnya ia kenakan, kancing kemeja itu bahkan sudah terbuka beberapa di bagian atasnya, ia tidur di atas karpet dengan kaki menggantung pada sebuah sofa di dekatnya.


Berbeda dengan Sakti, Rafael tidur dengan manis di atas sofa dengan sebuah game di tangannya, seolah tidak ingin meletakkan benda ini dan di rebut oleh Sakti.


Nadia yang kala itu melihat ini segera mengambil selimut, mendekat dan menyelimuti keduanya dengan lembut.


"Tetap bahagia seperti ini abang abang," ucap Nadia mengelus rambut kepala keduanya pelan.


Ibra yang merasa sangat haus memutuskan untuk menyusul Nadia, kemudian melihat Nadia sedang menyelimuti Sakti dam Rafael di sana.


"Aku sangat haus... " ucap Ibra yang masih mengerjapkan matanya dengan sekali menguap.


"Ah... kembali mas Ibra, aku akan mengambilkan nya."


Ibra kembali berjalan ke kamarnya, Nadia tersenyum, "terimakasih atas kehidupan menyenangkan yang kau berikan kepadaku tuhan," senyumnya sembari bergegas mengambilkan Ibra segelas minum.


Sesampainya di kamar, Ibra masih berbaring dengan mata tertutup, "mas Ibra... diminum dulu,"


Ibra yang memang haus segera mengambil air itu, glek glek glek.


"Kemari ayo kembali tidur," ucapnya begitu menghabiskan air tersebut.


"Love you mas Ibra... " ucap Nadia senang.


"Love you sayang,"


***


Assalamu'alaikum teman-teman, kita sudah berada di penghujung cerita Nadia dan Ibra, tapi tenang saja, author akan tetap memberikan extra part untuk special moment Nadia dan Ibra.


Untuk cerita Rafael dan kawan-kawannya akan segera author publish begitu garis besar cerita sudah siap.

__ADS_1


Author minta maaf jika selama proses pembuatan cerita ini sampai akhir banyak membuat pembaca tidak berkenan atau jengkel.


Salam sayang author untuk semua, tetap sehat dan jalani hari-hari dengan semangat.


__ADS_2