Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ganti dengan yang lebih tua


__ADS_3

"Om, om Ibra ayo bangun bangun , ini udah siang, matahari udah tinggi nih, om selalu terlambat bangun bahkan untuk sholat subuh," ucap Nadia lembut sambil menggoyangkan lengan Ibra sebelah kanan.


Laki-laki itu terlihat masih tidak bergerak dari tempatnya, hanya menarik selimut yang sempat merosot ke bawah dengan tangannya.


"Om Ibra," ucap Nadia lagi.


"Iya Gacil jangan menggangguku terus, pergi ke dapur sekarang, aku benar-benar ingin makan salad sayur hari ini," ucap Ibra dengan nada suara khas bangun tidurnya.


"Oke siap laksanakan, ayo bangun dulu om," jawab Nadia semangat.


"Iya iya, sebentar lagi," ucap Ibra malas karena tidak kuat menahan kantuknya, matanya benar-benar sangat berat untuk di buka.


"Kata bang Sakti hari ini ada rapat penting tentang kerjasama iklan untuk perusahaan daddy, om mau mandi dulu atau olahraga dulu,"


"Aku akan mandi dulu," ucapnya lagi dengan mata masih terpejam sempurna.


"Nadia siapin air dulu oke,"


Dengan segera Nadia beranjak dari tepi ranjang yang menjadi tempat tidurnya dengan Ibra selama beberapa bulan terakhir ini, gadis itu melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk mandi Ibra pagi ini, tak lupa sebuah setelan dari dasi hingga sepatu juga tak luput ia siapkan untuk suaminya.


Hal ini adalah rutinitas harian Nadia sejak gadis itu menikah dengan Ibra, lebih tepatnya ketika mereka sudah tinggal dalam satu kamar yang sama.


"Uhm, kayaknya hari ini om Ibra lebih cocok kalo pakai jam tangan yang ini," ucap Nadia pada dirinya sendiri kemudian meraih sebuah jam tangan yang masih berada di meja kaca dengan desain khusus untuk koleksi jam tangan sembari membayangkan Ibra memakai apa yang sudah ia siapkan.


Gadis itu melihat beberapa kali semua yang sudah ia siapkan, agar apa yang ia siapkan benar-benar serasi dan tidak membuat malu suaminya itu.


"Oke sempurna," senyumnya.


"Sekarang tinggal bangunin om Ibra lagi dan bikin salad sayurnya," ucapnya lagi pada dirinya sendiri.


Nadia berjalan keluar dan masih melihat Ibra terbaring di atas ranjang masih dengan posisi yang sama seperti saat ia meninggalkannya tadi.


Namun ketika langkah Nadia mulai mendekat ke arah Ibra, laki-laki itu tiba-tiba terbangun dan duduk, "aku sudah bangun, jadi cepat buatkan aku salad, aku tidak ingin terlambat," ucap Ibra dengan berusaha membuka kelopak matanya yang tertutup.


Terukir senyum di wajah kecil Nadia, kemudian gadis itu melangkah pergi meninggalkan Ibra, Ibra selalu konsisten dengan ucapannya, ketika dia bilang bangun dia akan bangun, itu yang tidak membuat Nadia khawatir akan apapun.

__ADS_1


"Pagi dek,"


"Pagi bang, mau liat kura-kura bang Sakti ?" tanya Nadia pada Rafael yang baru saja melintas di depan kamarnya.


"Lu bakal punya ponakan baru lagi, udah ada banyak bayi kura-kura jalan-jalan di taman belakang," ucap Rafael antusias.


"Lagi ?" ucap Nadia tidak percaya, namun tidak mendapat tanggapan dari Rafael karena laki-laki itu sudah terlebih dahulu pergi untuk melihat bayi-bayi yang baru lahir itu.


Nadia hanya menggeleng kan kepala tidak percaya kemudian berjalan menuju dapur, "bukankah kemaren sudah bertelur 47 ekor, sekarang dia bahkan memiliki bayi lagi," ucap Nadia.


Sebenarnya hari ini Nadia bangun sangat pagi, sebelum melakukan sholat subuh ia sudah memasak beberapa makanan termasuk udang saus asam manis favorit Ibra, namun karena Ibra menginginkan salad sayur, jadi ia terpaksa membuatkan apa yang di inginkan oleh suaminya itu.


***


"Dia tidak pernah lupa menyiapkan semua ini, bahkan pocket square tetap ia perhatikan, dulu aku bahkan hampir tidak pernah memakainya," ucap Ibra yang sudah berdiri lengkap dengan handuk putih yang membalut bagian tubuh bagian bawahnya. Jelas terlihat hasil roti sobek dari olahraga dan pola makan sehat yang selama ini rutin ia lakukan.


Ibra mengingat sesuatu yang di ucapkan Nadia padanya ketika ia tidak memakai apa yang sudah di siapkan istrinya itu, "Om, di dalam dunia bisnis itu jatuh menjatuhkan, Nadia ingin ketika om bertemu orang-orang, rapat atau dalam sebuah forum besar, om bisa nunjukin ke semua orang, This is me, penampilan itu sangat berpengaruh, detail ini emang terlihat nggak penting, tapi efeknya luar biasa,"


Ibra tersenyum mengingatnya, kemudian ia mulai mengenakan pakaian yang sudah di siapkan Nadia.


***


"Tuan muda, saya pasti akan sangat bahagia jika memiliki istri seperti nona muda yang sangat pintar memasak, semua makanan yang di buat oleh nona muda sangat enak," ucap Sakti di tengah-tengah mereka.


"Udah kode tuh om, pengen nikah, haha tiap hari liatin kura-kura nikah mulu sih," goda Nadia.


"Hehe,"


"Om mau makan yang mana ?"


"Udang tanpa nasi,"


"Lah tadi katanya pingin makan salad sayur,"


"Nggak tau kalo kamu udah bikin saus udang," ucap Ibra datar.

__ADS_1


"Oke oke," ucap Nadia kemudian memindahkan beberapa udang ke dalam sebuah piring yang berada di tangannya.


"Abang nggak di tawarin dek ?"


"Nadia bukan pembantu,"


"Lah lu, dia juga ngambil makan buat lu ?"


"Dia istriku ?"


"Dia adik gua,"


"Itu bentuk pengabdiannya nona kepada tuan muda, bodoh," ucap Sakti kemudian menoyor kepala Rafael dari belakang.


"Oke cukup, sini sini bang mana piringnya ? kapan kalian akur kalo ketemu," ucap Nadia lagi kemudian mengambil piring yang sudah terangkat ke udara di depannya.


"Hari ini belajarnya udah sampai mana ?"


"Hari ini libur om, waktunya belajar sama bang El, nanti Nadia ikut om ke kantor aja ya, biar bisa langsung belajar sama bang El,"


"Kita ada rapat penting nona,"


"Itu tugas lu kali, tugas gua udah gua selesai semalem,"


"Sampai mana perkembangan nya El ?" tanya Ibra pada Rafael serius.


"Cepet banget sih nih bocah, mungkin karena efek dia suka juga jadi antusiasnya lebih dominan dari pada bahan pelajaran yang lain," jawab Rafael mengunyah beberapa potong udang.


"Sampai mana ?" tanya Ibra lagi.


"Di lepasin buat bikin aplikasi game sendiri udah bisa sih, cuma berat di ngantuk dia kalo kata gua," ucapnya tanpa melebih-lebihkan.


"Benar-benar **** kecil, bisanya hanya makan dan tidur," gumam Ibra sambil melotot ke arah Nadia yang hanya menggaruk punggung kepalanya.


"Nadia kan bosen tiap hari liat buku sama dosen botak om, om sih nggak tau rasanya, mbok ya nanti kalo cari dosen yang cakepan dikit gitu om, yang mirip-mirip ji chang wook gitu, kan enak ini mata liatnya hehe,"

__ADS_1


"Catet Sakti, ganti dosen dengan yang lebih tua atau cari yang gundul semuanya,"


"Hah," Nadia membulatkan kedua matanya, sekarang ia tidak ingin membantah lagi atau nasibnya semakin parah.


__ADS_2