
Ruang Rahasia Nadia.
Nadia duduk tak berdaya di atas kursi yang ia duduki, "golden blood? golden blood?" ucapnya berulang-ulang.
Nadia semakin bertambah frustasi dengan kenyataan yang baru saja ia Terima kini, "abang ini apa lagi? kenapa jadi rumit gini sih?" tanyanya pada Rafael yang juga tidak bisa berkata apa-apa.
"Huft...Sebenarnya Ibra juga nggak pengen gua bahas ini, tapi okelah..." Rafael menghela nafas berat, tangannya bergerak menepuk pelan punggung Nadia.
"Nadia, masih kuat buat dengar cerita gua nggak ?" tanya Rafael pada Nadia.
Nadia hanya mengangguk pasrah, pikirannya blank, ia tidak mampu berfikir apapun, kejadian ini begitu cepat terjadi, ia masih belum mempercayainya, di tambah golden blood juga sesuatu yang sangat asing baginya.
"Semua keturunan Delta yang masih hidup adalah pemilik golden blood, karena oma, CEO Delta Internasional saat ini membunuh semua keturunannya yang tidak memiliki golongan darah ini,"
"Kenapa ?" tanya Nadia dengan kening berkerut.
"Kita semua juga nggak tau kenapa, yang jelas semua saudara Ibra yang lain di bunuh karena tidak memiliki golongan darah ini,"
"Tapi saudara kembar mas Ibra katanya... "
"Karena sampai kapanpun Ibra nggak akan membuka fakta ini, gua tau juga dari orang lain," sanggah Rafael yang sudah tau arah pembicaraan Nadia.
"Nggak cuma saudara kembar Ibra, semua saudara sepupunya juga gak ada yang selamat, Ibra adalah satu-satunya keturunan ketiga dari generasi ini yang hidup,"
"Istilah golden blood atau darah emas mungkin terdengar seperti kiasan yang menggambarkan status sosial seseorang seperti halnya darah biru yang umum digunakan untuk mengistilahkan kaum bangsawan. Namun darah emas ini memang ada dan keberadaannya paling langka di dunia. Darah emas adalah sebutan bagi manusia dengan darah Rh-null (Rhesus-null)."
"Saat ini diketahui hanya dimiliki kurang dari 50 orang di penjuru dunia, seperti yang tadi daddy bilang, hanya ada 43 orang yang terdaftar sampai saat ini dan hanya ada 10 donor darah emas di seluruh dunia."
Nadia menatap Rafael tak percaya, "abang bohong kan? ini udah modern bang, nggak mungkin ada hal yang nggak masuk logika kayak gitu, darah emas? nggak ada bang, ini jelas nggak masuk akal," ucapnya menyanggah penjelasan Rafael.
__ADS_1
"Darah Rh Null disebut darah emas karena dua alasan. Yang paling penting, darah Rh-null dapat diberikan kepada siapa saja dengan golongan darah Rh negatif. Itulah sebabnya para ilmuwan sering mengatakan bahwa nilainya setara dengan emas."
"Yang kedua, Rh-null dijuluki darah emas oleh banyak dokter dan ilmuwan karena sangat jarang dengan donor yang masih sangat terbatas. Selain itu, dalam sistem ABO, Rh-null adalah golongan darah paling penting dalam pengobatan transfusi."
"Tunggu tunggu, maksud nya? Nadia nggak faham, abang bisa nggak jelasin pakai bahasa manusia? kecerdasan ku seperti menghilang, Nadia nggak bisa mikir, hiks" ucapnya dengan suara serak dan air mata masih membanjiri kelopak matanya, ia bahkan memukul kepalanya karena tidak menangkap dengan baik penjelasan yang diutarakan Rafael.
"Huft...intinya Ibra nggak bisa menerima donor darah lain selain golongan darah yang sama seperti miliknya, seandainya pun ada, darah sulit untuk diangkut secara internasional, sampek sini faham adek abang yang cengeng," ucap Rafael gemas pada adiknya itu.
Aga yang juga mendengar penjelasan Rafael kembali mengingat-ingat ucapan yang ia dengar ketika dalam misi penyelamatan Ibra di dalam mobil.
"Ibra... bangun... lu jangan nakutin gua... Aga... Aga... lu tarik bagian itu... pastikan jangan ada luka tambahan di tubuhnya selama kita menarik nya,"
"Itu sebabnya anda meminta saya berhati-hati agar tidak ada luka tambahan di tubuh tuanku?" tanya Aga yang baru saja menyadari maksud ucapan Rafael.
"Darah Ibra sangat berharga dan bermanfaat bagi orang lain, tapi sangat berbahaya bagi pemiliknya, kecelakaan ini sangat fatal, sangat wajar jika daddy marah seperti tadi."
Suara alarm tanda bahaya terdengar dari arah sistem yang terpasang di sudut ruangan, "Pasien mengalami shock, kita harus melakukan tindakan segera," ucap salah seorang tenaga medis yang ada di dalam ruangan kaca bersama Ibra,"
Luna terlihat sedang berlari dan mengecek langsung kondisi Ibra, "kita nggak bisa tunda ini om, operasi harus segera dilakukan," ucap Luna.
"Siapkan anastesinya," perintah Luna kemudian.
"Saya akan membantu anda untuk proses donor darah," ucap Sakti pada Attar.
"Tuan Abrar meminta izin untuk masuk," terdengar suara di dalam ruangan itu.
Rafael langsung mengaktifkan audio, "izin ditolak, perketat penjagaan sampai dokter Luna menyatakan operasi selesai," ucap Rafael di depan layar monitor.
Sakti dan Attar yang mendengar ucapan Rafael segera mengangkat kepala mereka dan saling bertatapan, tak lama Attar menganggukkan kepala seperti sebuah kode, "izin masuk diberikan, perintah dari seorang yang sudah di bebas tugaskan sudah tidak berlaku," tegas Sakti.
__ADS_1
"Don't stupid Sakti, kita nggak tau apalagi yang akan dilakukan orang itu, dia yang selalu nyoba bunuh Ibra puluhan kali," teriaknya tidak terima.
Sakti menatap pada kamera yang langsung menghadap pada layar monitor milik Rafael, "Sorry El, tapi menjaga tuan muda sudah bukan menjadi tanggung jawab mu lagi," tambah Sakti kemudian menonaktifkan mode akses luar ruangan.
"Sakti.... astaga tuh orang main matiin aja," dengan beberapa keahlian ia mencoba menerobos sistem keamanan agar bisa kembali masuk dan mengetahui kabar terbaru tentang Ibra, namun nihil, semua sistem benar-benar tidak bisa di akses, seolah semua yang ada sudah dimatikan.
"Aga... cepat atur tiket pesawat, kita akan berangkat tiga puluh menit dari sekarang,"
"Kenapa pakai tiket tuan? bukankah anda memiliki jet pribadi,"
"Jet... udah beli aja tiketnya, banyak nanya," ucap Rafael kesal.
"Abang pasti udah ngasih jetnya ke perempuan lain," batin Nadia tidak bisa ambil pusing lagi.
***
Luna masih berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan Ibra kali ini, ada banyak sekali selang yang tertempel di tubuhku laki-laki dengan tubuh sic pack itu.
"Lu nggak pernah sakit, lu nggak pernah terluka, tapi kenapa sekalinya terluka sampai separah ini, Ibra... kalo lu masih bisa denger gua, anak lu beneran ada dua, dia keselip di belakang adiknya, jadi bantu gua buat bertahan, kita berjuang sama-sama," ucap Luna sedikit keras seperti seseorang yang sedang marah.
"Anastesi siap, operasi bisa di lakukan sekarang," ucap salah seorang ahli anastesi yang bekerja sama dengan nya kali ini.
"Oke... kita berjuang bareng, gua nggak mau tau pokoknya lu harus hidup, atau gua bakal acak-acak kuburan lu dan narik lu lagi kesini," kesal Luna tanpa henti.
"Darah siap?"
"Sepertinya cukup untuk sementara dok,"
"Nggak masalah, ada Sakti yang bakal urus sisanya," tambah Luna.
__ADS_1