Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Cyber 2


__ADS_3

Tepat pukul 04.00 Nadia bangun dari tidurnya seperti biasa, ia bangkit kemudian menggerak-gerakkan kakinya, rasa sakit di pergelangan kakinya sudah sedikit menghilang. Sebuah senyuman mulai muncul di sudut bibir manis gadis itu. Tak lama ia beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum sholat shubuh.


Nadia melihat ke arah bak mandi di dalam sana, namun ia hanya melewatinya. Ia tetap memilih untuk tidak memanjakan diri dengan kehidupan mewah yang ia sendiri tidak tau akan berakhir kapan. Saat ini ia sudah berdiri tepat di bawah guyuran dinginnya air shower, sekitar sepuluh menit ia berada di dalam sana. Hawa dingin yang menusuk tulangnya membuat Nadia tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi.


"Ahh dinginnya pagi ini," ucap Nadia sambil menutup tubuhnya dengan handuk tebal.


Dengan cepat Nadia mengambil mukenah miliknya yang ada di dalam tas, ia mengenakan mukenah itu dan menyiapkan sajadah yang akan ia pakai. Sebelumnya ia melakukan sholat sunnah qolbiyah dua rokaat terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan sholat shubuh.


Selesai sholat, gadis itu mengangkat tangannya dan berdoa, "terimakasih atas nafas yang masih engkau berikan padaku hari ini ya Rabb, kedepannya tetap jaga aku dan hatiku agar tetap bersyukur atas segala hal yang sudah engkau tetapkan untukku," ucapnya kemudian melepas mukenah yang ia pakai secara perlahan dan merapikannya bersamaan dengan sajadah.


"Rasanya aku sudah bisa berjalan, lebih baik aku melihat-lihat rumah ini," ucapnya semangat.


Dengan semangat Nadia keluar dari kamar dan berkeliling menyusuri seluruh rumah yang ia tempati kini, sesekali


senandung kecil keluar dari bibir manisnya ketika keluar masuk beberapa ruangan. "Ahh ini kamar om Ibra," ucapnya kemudian menutup pintu kamar Ibra dengan pelan agar Ibra tidak terbangun.


"Rumah ini tidak sekecil yang aku kira, ada banya sekali ruangan, kapan-kapan aku harus menata ulang mereka" ucapnya dengan semangat, kaki mungilnya kini sedang menuju dapur.


Pandangan matanya berhenti ketika melihat ada sekitar lima kresek besar berada di atas meja, tepatnya di samping kompor listrik, "Wahh siapa yang belanja sebanyak ini ?" tanyanya pada diri sendiri.


Tangan kecilnya bergerak meraih kresek-kresek di depannya itu, ada segala macam sayur, puluhan telur yang masih di packing rapi, beras dua puluh lima kilogram dan juga buah-buahan lengkap juga ada di dalam kresek itu.


"Om Ibra yang nyiapin semua ini ?" ucap Nadia dengan tangan yang masih membuka-buka kresek yang ada di depannya.


"Wah bahkan sampai bumbu dapur aja bisa lengkap semua, keren nih si om hehe," ucapnya.


Gadis itu menata satu persatu bahan-bahan makanan itu sesuai yang ia inginkan, beberapa sayur dan buah hendak ia masukkan ke dalam kulkas, namun saat ini ia kembali terkejut ketika kulkas itu sudah penuh dengan berbagai macam lauk seperti tempe, tahu, daging ayam, daging sapi dan juga ikan.


"Bener-bener nggak tanggung-tanggung nih om Ibra kalo beli, bisa buat makan sebulan ini mah," ucapnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.


Flashback On

__ADS_1


Tutt Tutt Tuttt Tutt


"Iya tuan muda, ada yang bisa saya bantu ?" jawab seseorang dari dalam telfon.


"Kirimkan semua yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari, penuhi semua yang mungkin akan di butuhkan oleh Nadia,"


"Baik tuan muda,"


"Suruh seseorang saja, jangan kesini sendiri. Jaga baik-baik rumah utama," ucapnya kemudian menutup sambungan telfon.


Flashback Off


***


Matahari sudah benar-benar menyinari seluruh bumi, cahayanya kini sudah mulai menerobos masuk di celah-celah tirai kamar Ibra, itu yang membuat Ibra mengerjapkan matanya beberapa kali. Tangan kekar nya meraba-raba hendak meraih handphone yang ada di atas nakas.


Pukul 06.00


Ibra berjalan menuju taman kecil di belakang rumah untuk melakukan olah raga singkat, itu adalah rutinitas yang dilakukan Ibra setiap paginya.


"Om,,," panggil Nadia yang melihat Ibra berjalan keluar.


"Apa ?" jawab Ibra singkat tanpa menoleh.


"Terimakasih hadiahnya," ucap Nadia lagi dengan sumringah.


Ibra hanya melirik tanpa memedulikan Nadia, ia berlalu pergi tak ingin tau maksud hadiah apa yang di maksud gadis kecil itu.


Nadia tidak sakit hati dengan Ibra, meskipun hanya dua hari mereka bersama, dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata Nadia sudah faham dengan karakter suaminya itu. tangan itu justru sangat lihai kesana kemari menyiapkan makanan.


"Semoga om Ibra suka," ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


***


Markas Abrar


Plakkk


Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna di pipi kiri Bella, wanita itu kini tersungkur ke lantai dengan pipi merah bekas tangan.


"Buang dia atau jadikan makanan buaya," ucap Abrar keras, dengan urat-urat yang sudah bemunculan di seluruh lehernya.


"Saya minta maaf tuan, saya janji akan bermanfaat untuk anda kedepannya, tolong jangan bunuh saya," ucap Bella dengan terbata-bata dan air mata yang sudah mengumpul di kelopak matanya.


"Kita sudah ketahuan, dengan Cyber di tanganya kau pikir dia akan membiarkan kita begitu saja setelah mencoba membunuhnya ?" bentak Abrar lagi.


"Saya akan menjadikan Ibra mencintai saya, dia selalu baik, saya pasti bisa mendapatkannya lagi."


"Kau harus sadar kalau kau cuma mainan Ibra, dia tidak akan sebodoh itu mau menerima barang bekas orang lain sepertimu,"


"Dia tinggal bersama seorang gadis, aku harus hidup untuk menunjukkannya pada anda," ucap Bella dengan getir. kedua tangannya kini sudah di pegangi oleh dua orang laki-laki kekar berpakaian hitam.


Abrar mengernyitkan dahinya, kedua alis itu terlihat menyatu mendengar pernyataan Bella, "sementara bawa dia di gudang bawah tanah, jika informasinya tidak akurat lakukan seperti biasa,"


Hanya tinggal Abrar dan selah seorang laki-laki yang cukup muda berada disana, "Kenapa anda sampai berbuat seperti ini hanya karena Cyber tuan ?" tanya laki-laki itu.


"Cyber bukan perusahaan sembarangan, dari luar memang hanya perusahaan keamanan ecek-ecek, tapi ada kekuatan hebat di dalamnya. Cyber adalah kunci utama yang mengendalikan perusahaan-perusahaan di bawah naungan keluargaku. Dia yang sudah di pilih Cyber akan otomatis menjadi raja di kerajaan bisnis ini, dan itu harus menjadi milikku, bahkan jika itu Attar yang terpilih aku akan merebutnya, apalagi jika Ibra si bau kencur itu," tangan Abrar mengepal karena tidak terima dengan apa yang di dapatkan Ibra.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri rate, dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2