
"Ada apa tuan muda ?" tanya Sakti lagi.
"Aku hanya tidak ingin kualat tujuh turunan," ucapnya cepat.
"Hah ? siapa yang berani membuat anda kualat tujuh turunan tuan muda ? saya akan membunuhnya ?" tanya Sakti kemudian.
"Nadia," jawab Ibra singkat
"Nona ? pasti Rafael yang berkata sesuatu kepada anda bukan ? sebaiknya anda tidak terlalu percaya padanya jika bukan masalah serius," ucap Sakti memberi penjelasan.
"Sambungkan video rekaman cctv yang tersambung dengan perusahaan hari ini," ucapnya kemudian.
"Baik tuan muda," ucap Sakti kemudian mengotak-atik sesuatu di dalam ponselnya.
"Sudah saya sambungkan ke ponsel anda tuan muda," ucapnya.
Ibra memeriksa rekaman cctv yang sudah tersambung ke ponselnya, sedikit kesulitan ia mencari karena banyaknya cctv yang terpasang di perusahaan miliknya, namu rambut kepang Nadia dan baju hitam putih yang ia kenakan menarik perhatiannya hingga rekamannya mudah ditemukan.
Dengan seksama Ibra melihat dengan jelas apa yang terjadi disana, meskipun tidak bisa mendengar percakapan yang terjadi diantara mereka, namun gerakan tubuh mereka sudah cukup jelas bagi Ibra.
"Siapa mereka ?" tanya Ibra pada Sakti.
"Hanya resepsionis biasa tuan muda," jawab Sakti yang kini juga melihat rekaman yang juga tersambung ke ponselnya.
"Siapa yang menerima mereka ? bagaimana mungkin mereka diterima di perusahaanku dengan attitude seperti itu," ucap Ibra kesal setelah melihat tangan Nadia di lempar hingga terantuk meja.
"Saya akan mengurusnya tuan muda,"
"Aku akan mengurus mereka sendiri !" bentaknya pada Sakti.
"Duh alamat, ini pertama kalinya tuan muda turun tangan langsung dengan hal-hal seperti ini, pasti akan ada keributan besar di perusahaan nanti," batin laki-laki yang kini sudah berjalan mengikuti Ibra menuju mobil.
"Kau siapkan saja pembelajaran untuk Nadia, aku ingin dia mengikuti pembelajaran di rumah saja, dan pastikan semua kebutuhannya terpenuhi, istriku tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh orang lain," perintahnya tegas seolah tidak bisa di bantah.
"Saya akan mengatur pelatihan yang dibicarakan oleh nona sebelumnya..." belum selesai Sakti berbicara, namun Ibra sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Bukan seperti itu, tapi pembelajaran seperti yang aku pelajari," ucapnya.
"Hah, apa tuan tidak keterlaluan, apa yang tuan pelajari tidak semua orang bisa mempelajarinya juga, bagaimana nona bisa melakukannya dengan jiwa bebas dan masih suka bermain itu," batinnya.
"Kau menggunjingku dalam hati," ucap Ibra.
__ADS_1
"Hehe, tuan selalu tau, saya jadi malu," ucapnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kita pulang !"
"Aku rasanya ingin membunuh kedua wanita itu, beraninya mereka mengganggu salah satu orangku, benar-benar bikin kesal saja, aku bahkan kalah dari si Rafael untuk melindunginya," gerutunya.
***
Dengan langkah pasti Nadia mengikuti Rafael yang berjalan lebih dulu di depannya, "Oh, bang El tinggal di sini to, pantas saja gayanya keren gitu, kerja di tempat elit kayak gini," batin Nadia.
Setelah kedua orang itu masuk kedalam sebuah kotak ajaib yang akan membawanya ke atas banyak sekali karyawan yang berkerumun dan menanyakan siapa gadis kecil yang membuat seorang Rafael beranjak dari kursi kebesarannya dan turun sendiri ke bawah.
"Mereka memukulmu ?" tanya Rafael.
"Enggak bang," jawab Nadia.
"Mending gue tau duluan dek, dari pada Ibra yang tau," ucapnya sengaja menakuti Nadia.
"Kenapa emangnya bang ?," tanyanya pada Rafael.
Ting, pintu lift terbuka dan terlihat beberapa orang yang tadinya berlalu lalang melangkah mendadak berhenti ketika lift khusus vvip itu terbuka dan memperlihatkan Rafael ada di sana, "wah abang kayaknya benerang orang penting di sini, semua orang sampek hormat semua kayak gitu, keren tapi serem juga kalo jadi bawahanya, hihihi," ucapnya lirih namun masih terdengar jelas di telinga Rafael.
Rafael memasuki sebuah ruangan yang di duga Nadia adalah ruangan rapat, ada banyak orang di ruangan itu dengan satu orang yang mempresentasikan sesuatu di depan seperti seorang dosen, "ehem,,"
Deheman Rafael membuyarkan konsentrasi mereka yang sebelumnya di layar monitor, kini semua orang yang ada di ruangan itu sudah memperhatikan Nadia dan Rafael sepenuhnya, ada yang merasa kagum dengan ketampanan laki-laki itu, ada juga yang merasa takut kalau-kalau ada yang melakukan kesalahan hingga sampai membuat salah satu dari tiga kartu as perusahaan ini turun tangan langsung menemui mereka.
"Ada yang bisa saya bantu pak ?"
"Siapa orang-orang yang hari ini menerima tamu di bawah ?" tanya Rafael to the point.
Banyak kepala yang terlihat bingung karena tidak faham dengan maksud perkataan Rafael, beberapa bahkan sampai saling pandang.
"Lupakan masalah itu dulu, benar kalian merekrut seseorang untuk posisi cleaning servis secara langsung ?" tanyanya pada mereka semua.
"Iya pak, hari ini adalah proses training, karena tugasnya adalah menggantikan Eva di lantai tujuh belas sehingga kami memproses mereka sendiri,"
"Ikut dengan mereka oke ? jangan nakal," ucapnya pada Nadia dengan sebuah senyum kecil di bibirnya.
"Aku menitipkannya pada kalian, jaga dia dengan baik sebelum singanya ngamuk dan mencakar kalian, yang pasti aku sudah mengingatkan,"
"Aku pergi dulu ya, bergabunglah bersama mereka," ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Nadia setelah melihat anggukan kepala dari Nadia.
__ADS_1
Dengan sedikit canggung karena menjadi objek pandang semua orang, Nadia menunduk, "mohon bantuannya," ucapnya pada semua orang.
"Apa hubunganmu dengan pak Rafael ?" tanya seseorang yang sepertinya pemimpin di antara mereka pada Nadia.
"Tidak ada yang serius bu, saya baru mengenalnya beberapa hari," ucap Nadia jujur dengan sopan.
"Oke rapat pagi ini kita akhiri sampai disini saja,"
"Cih, hanya wanita simpanan pak Rafael yang lain," ucap salah seorang yang lain kemudian berjalan pergi.
"Cepatlah bekerja, jangan mentang-mentang pak Rafael yang membawamu kesini kamu jadi malas bekerja," ucap wanita lain kemudian berjalan dengan sengaja menyenggol bajunya.
"Aissh apa-apaan semua wanita ini, kenapa jadi marah kepadaku ? ini bahkan hari pertamaku bekerja." batinnya dengan menggigit bibir.
Semua orang memang berubah menjadi sinis ketika Rafael meninggalkannya, Rafael memang sering bergonta-ganti pasangan, itu rahasia yang sangat umum dan semua orang tau.
"Kamu..." tunjuk sesorang padanya.
"Eh iya bu ?" ucapnya.
"Ikut ke ruangan saya," ucapnya kemudian.
Nadia mengikuti orang tersebut ke ruanganya, beliau menjelaskan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh Nadia selama menjadi cleaning servis dan lokasi mana saja yang harus ia bersihkan. Setelahnya ia mulai menuju ke tempatnya harus memulai pekerjaan.
"Sekarang selera pak Rafael menjadi kampungan seperti ini,,"
"Benar juga, bahkan hanya menjadi cleaning servis saja sampai harus mendekati bos,,"
"Ya Allah kenapa sebenarnya mereka ? salahku apa sih sebenarnya ?" tanya Nadia dalam hati.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1