
Langit sudah semakin gelap, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Nadia di bantu oleh Sakti masuk ke dalam kamar, gadis kecil itu berjalan perlahan dengan Sakti memapah di sampingnya, sorot tajam mata Ibra yang sejak tadi memandangi mereka tak membuat Sakti gentar untuk membantu Nadia.
"Terimakasih pak," ucap gadis kecil itu dengan senyum khas miliknya.
"Istirahatlah nona, besok saya akan kirimkan seseorang untuk menemani anda di rumah ini," ucapnya.
"Ahh tidak usah pak, aku masih bisa melakukan semuanya sendiri, lagi pula ada om Ibra disini," ucapnya.
"Ini sudah kewajiban saya untuk menjaga anda berdua nona moda, mohon tidak menolak, ini juga demi kebaikan tuan muda" ucap Sakti lagi.
"Heyy kau bahkan tidak meminta persetujuanku untuk menempatkan seseorang disini ? siapa majikanmu itu hah ?" kesal Ibra.
Sakti seketika menoleh ketika mendengar suara Ibra dari arah belakangnya, "ini untuk kebaikan anda tuan muda, saya bisa melakukan apa saja selama itu yang terbaik untuk anda, itu sumpah yang dulu saya buat sebelum menjadi asisten pribadi anda." jelas Sakti.
"Kau semakin cerewet setiap hari, pulanglah, aku lelah mendengarmu berbicara," ucapnya Ibra lagi.
"Saya semakin berani kan tuan muda." tanya Sakti yang kini berada tepat di samping Ibra dengan tersenyum kecil tanpa dosa.
Muncul seringai di wajah tampan Ibra, "harusnya kau gunakan keberanian itu untuk menghabisi nyawa mereka yang mengejar kita tadi, bukan lari seperti kucing disiram air," jawab Ibra dengan seringai yang semakin menakutkan.
Nadia melihat mereka berdua dengan tatapan aneh, "Om kenapa bisik-bisik dengan pak Sakti, om homo ya jangan-jangan." celetuk Nadia refleks setelah melihat kedekatan Ibra dengan Sakti.
Ibra hanya memelototkan matanya mendengar ucapan Nadia, bagaimana tidak, semua wanita berbaris rapi mengantri agar bisa tidur dengannya dan kini istrinya mengatai dia homo ??
"Kau perlu bukti Gacil ?"
"Hahhh bukti apa ?"
"Bukti tuan muda homo atau tidak nona" jawab Sakti yang kini juga berbalik melihat ke arah Nadia.
Merasa mendapat tatapan tajam dari dua laki-laki tampan di depannya itu membuat Nadia menjadi salah tingkah, "Ada ya om bukti homo atau tidak, bagaimana caranya ?" ucap Nadia polos.
"Sayang banget sih, laki-laki setampan dan semempesona om Ibra yang perfect banget gini jadi homo, sama asisten sendiri pula," batin Nadia. Kemudian ia menepuk-nepuk pipinya untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh di kepalanya.
"Kau ingin tau caranya Gacil ?"
"Iya bagaimana caranya ?" tanya Nadia yang memang masih belum faham kemana arah pembicaraan para laki-laki itu.
"Keluarlah dulu, aku kan menunjukkannya kepada istriku," ucap Ibra pada Sakti.
"Jangan lupa kunci pintunya dari luar," ucap Ibra.
"Siap tuan muda, silahkan bersenang-senang,"
"Hey hey om kenapa di kunci, kita mau bersenang-senang apa om ?" tanya Nadia yang kini sudah mulai cemas ketika mendengar suara kunci di putar dari luar.
"Kau ingin tau aku homo atau tidak bukan gadis kecilku ?" ucap Ibra dengan senyum yang sedikit aneh menurut Nadia. Laki-laki itu kini mulai berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Hahh, om. Nadia percaya kok, siapa tadi yang bilang om homo, mungkin tadi efek obat pereda nyeri om, jadi Nadia berhalusinasi."
"Duh, muka om Ibra jadi mesum gitu sih," batin Nadia yang semakin menjauh ketika langkah Ibra mendekatinya.
Ibra tetap mendekati gadis kecil itu, ia tidak menghiraukan Nadia yang sudah teriak-teriak tidak jelas di depannya, "hahaha, sangat menyenangkan menggodanya seperti ini, dia terlihat sangat lucu ketika panik".
"Apa yang kau takutkan Nadia, kita juga sudah menikah. Itu bukan hal tabu jika dilakukan oleh suami istri," ucap Ibra, ia masih ingin menggoda istrinya itu.
Pikiran Nadia kini sudah bisa menebak apa isi pikiran Ibra, "Ayo berfikir Nadia, berfikir,,, Ah iya..."
Gedubrak, "Awwwww............"
***
Sakti dan Luna sedang duduk di ruang keluarga, keduanya sedang duduk berhadapan seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
"Bagaimana Ibra bisa menikah dengannya ?"
"Seperti biasa," jawab Sakti singkat.
"Siasat om dan tante lagi,"
"Bagaimana nona muda menurutmu ?"
"Ibra seperti tertarik dengannya."
"Percaya padaku, aku mengenal Ibra lebih dulu dibanding kamu," ucap dokter Luna lagi, kali ini ia berbicara sambil meneguk minuman yang ada di depannya.
"Tuan masih mencintai nona Anna,"
"Belum tentu Anna juga masih mencintainya," ucapnya seperti tidak memiliki persoalan dengan itu.
"Jika itu yang terjadi, aku akan membuat nona Anna mencintai tuan lagi," ucap Sakti serius.
"Lalu Nadia ? kurasa kamu juga tertarik dengan gadis kecil itu ?" doker Luna berbicara dengan sedikit melirik ke arah Sakti yang masih diam.
"Dia gadis yang baik, sangat polos dan lucu. Akan sangat cocok jika disandingkan dengan tempramen Ibra yang suka meledak-ledak itu, kau tau sendiri bagaimana Ibra," jelas Luna.
"Karena itu .............."
Gedubrak, "Awwwww............"
***
Rumah Utama Keluarga Besar Attar
Rumah besar itu terlihat sangat sepi tanpa lalu lalang pelayan, berbeda dengan pagi hari, semua pekerjaan pelayan akan otomatis berhenti pada pukul tujuh malam. Saat ini pasangan suami istri Aisyah dan Attar sedang duduk di balkon ruang kerja Attar, disamping mereka sudah ada Lusy dan pak Mul yang baru saja datang membawa sebuah laporan.
__ADS_1
"Saya minta maaf tuan besar," ucap Lusy.
"Ada apa ?" tanya Attar.
"Saya kehilangan jejak tuan muda tuan," ucap Lusy dengan wajah menunduk
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Aisyah lembut.
"Pagi ini tuan muda meninggalkan rumah besar miliknya nyonya," ucap pak Mul.
"Lalu apa masalahnya ?" tanyanya lagi.
"Tuan sepertinya tau jika sedang di mata-matai nyonya, pagi ini sebelum tuan muda pergi meninggalkan rumah bersama nona muda, kepala pelayan menahan semua orang yang bekerja disana di sebuah gudang bawah tanah tanpa gadget selama tiga puluh menit, kemudian memberi pesangon pada mereka semua nyonya," jelas pak Mul.
"Semuanya ?"
"Iya nyonya, hanya kepala pelayan yang saat ini menempati rumah besar itu," jelas pak Mul lagi.
"Ibra memang putraku, jelas dia tau" senyum Attar dengan bangga.
"Tak lama, ada dua mobil yang meledak tidak jauh dari waktu kepergian tuan muda dari rumah,"
"Mereka yang memburu putraku ?" tanya Aisyah.
"Iya nyonya,"
"Ibra yang meledakkan mobil mereka ?" tanya Aisyah lagi.
"Jelas bukan putra kita," ucap Attar lagi dengan yakin
"Lalu ... ?"
"Kami masih belum tau siapa mereka nyonya, pekerjaan mereka sangat bersih dan tidak berjejak.
"Hentikan saja penyelidikannya, sudah ada yang menjaga putraku sekarang,"
"Maksud daddy ?"
"Mereka sudah menentukan siapa penerusnya," ucap Attar.
"Jadi Ibra .... ??" tanya Aisyah menggantung.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1