
"Silahkan tuan muda," ucap Sakti.
Ibra sudah memasukkan satu kaki ke dalam mobil, namun gerakannya terhenti setelah melihat beberapa mobil berhenti di depan rumah Nadia. Sekelompok orang berpakaian serba hitam turun dari mobil-mobil itu dan sedang menuju ke arahnya, kira-kira ada sekitar lima belas hingga dua puluh lima orang disana.
"Hormat kami tuan," ucap mereka serempak kemudian menunduk.
"Om jangan lupa makan makan nasinya na,,," ucapan Nadia terhenti ketika melihat ada banyak orang berpakaian serba hitam di depan rumah yang ia tempati.
Tak hanya Ibra dan Sakti yang menoleh ke arahnya, semua orang yang ada disana kini juga tengah menatapnya, "Selamat pagi nona muda," ucap mereka serempak.
"Hahh kalian mengagetkanku, kalian siapa ? kenapa ada di depan rumahku ?" tanyanya kesal karena merasa kaget dengan sapaan mereka.
"Kenapa kau keluar, aku sudah bilang untuk tidak keluyuran seperti kucing," ucap Ibra lagi.
"Aku hanya ingin mengantarmu om," ucap gadis itu lagi.
"Masuklah dan mandi," perintah Ibra.
"Aku akan melihatmu pergi lebih dulu," bantah Nadia.
Ibra hanya menatap dengan sorot mata tajam seperti elang ke arah Nadia, seperti mengatakan "kau berani membantahku sekarang ? kau mau mati hahh ?"
"Baiklah aku akan masuk, jangan lupa makan makananya," ucap Nadia kemudian melangkah masuk dan menutup pintu.
"Aku sangat penasaran siapa mereka ? ini masih pagi tapi mereka sudah ada di depan rumah dengan pakaian menyeramkan seperti itu." ucapnya penasaran.
Gadis itu kini meraih tirai yang menutup jendela di samping pintu utama, ia melihat Ibra masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan mereka, hanya Sakti yang berbicara dengan mereka itupun tidak lama.
"Apa yang sebenarnya mereka bicarakan, tidak terdengar sama sekali," ucapnya yang sedang menempelkan telinganya di balik jendela.
"Apa-apaan om Ibra, begitu saja marah dan menyuruhku masuk. Siapa sebenarnya orang-orang tadi, benar-benar menakutkan," ucapnya.
"Sudahlah-sudahlah aku harus mandi dan mulai mencari pekerjaan untuk sementara waktu, semangat Nadia go go go" ucap gadis itu yang kini tengah berjalan setengah berlari dengan melompat-lompat menuju kamarnya.
---
Ibra masih menatap orang-orang yang baru saja datang itu dengan tatapan aneh, "Cyber rupanya," ucapnya enteng kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
Semua orang yang ada di sana kini terheran-heran kerena sikap Ibra yang acuh terhadap mereka, mulai terdengar bisik-bisik apakah mereka punya kesalahan pada Ibra sehingga Ibra sangat dingin seperti ini.
__ADS_1
"Siapa pemimpin kalian ?" tanya Sakti setelah menutup pintu mobil untuk Ibra.
"Tuan Ibrahim Muhammad Attar."
"Yang menyuruh kalian kesini ?" tanya Sakti lagi.
"Tuan Louis," ucap mereka serentak.
"Kami harus tau siapa yang kami layani dan kami jaga, karena itu beliau menyuruh kami kesini," ucap salah seorang yang sepertinya menjadi kepala tim di rombongan pasukan yang datang kali ini.
"Tuanku juga harus tau terlebih dahulu siapa yang akan melayani dan menjaganya sebelum benar-benar menerimanya. Katakan bahwa tuanku ingin bertemu dengan tuan Louis secara langsung, kami akan menunggu di perusahaan kami hari ini," ucap Sakti tegas tanpa senyum di bibirnya.
"Baik tuan akan kami sampaikan"
"Tuanku tidak suka menunggu," ucapnya lagi kemudian memutari mobil dan membuka pintu mobil pengemudi, tak lama Sakti mengemudikan mobil itu dan melewati orang-orang tersebut yang secara otomatis memberikan jalan untuk Ibra.
---
"Sudahlah-sudahlah aku harus mandi dan mulai mencari pekerjaan untuk sementara waktu, semangat Nadia go go go" ucap gadis itu yang kini tengah berjalan setengah berlari dengan melompat-lompat menuju kamarnya.
Tak lama langkah gadis kecil itu terhenti, sebuah ide mendadak muncul di kepalanya, ia berbalik dan melihat situasi di depan rumahnya dari balik jendela, setelah mobil Ibra sudah berjalan keluar pagar ia bergegas keluar.
Semua orang yang tadinya hendak kembali kini pun berbalik menatap Nadia, "Ada apa nona ?" tanya nya.
"Kemarilah," ucapnya pada seseorang yang terlihat seperti pemimpin di antara mereka.
Nadia sudah di identifikasi sebagai istri Ibra, jadi semua orang itu juga tidak memiliki keberanian untuk menolak perintahnya dan berjalan mendekat, "apa yang bisa kami lakukan nona ?" tanyanya.
"Karena suamiku tidak ada di rumah aku tidak bisa membawa kalian masuk, Jadi tunggu sebentar disini. " ucapnya.
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Nadia masuk ke dalam rumah, ia menyiapkan tempat makan dan memasukkan beberapa makanan yang sudah ia masak tadi. "aku benar-benar memasak sangat banyak tadi, syukurlah mereka datang hari ini." ucapnya pada diri sendiri dengan riang.
Nadia sejak kecil sudah terbiasa untuk berbagi, untuk hal sekecil apapun. Karena hidup di panti sangat terbatas, jadi ia harus bisa berbagi dengan saudara-saudaranya yang lain. Itu membuatnya memiliki jiwa yang welas asih dan suka memberi seperti saat ini.
"Ini makanlah, kalian harus membaginya oke. sampaikan salamku kepada tuanmu juga," ucapnya seperti seorang ibu yang memberikan pean kepada anaknya kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka semua dengan keadaan yang masih tercengang.
"Untuk pertama kalinya kita dapat perhatian seperti ini bos," ucap salah satu dari mereka.
"Bagaimana nona muda bisa tahu kita semua belum makan," ucap orang yang lain.
__ADS_1
"Sepertinya kita tidak melayani orang yang salah kali ini, kita harus menjaga tuan dan nona dengan baik, kembali ke markas" ucap pemimpin tim itu.
---
Markas Cyber
Beberapa mobil berhenti tepat di sebuah rumah berukuran tidak seberapa besar, rumah yang di dominasi ukiran-ukiran kayu itu bahkan memiliki luas yang lebih kecil dari pada rumah yang diberikan Revan kepada Nadia.
Sekelompok orang memasuki rumah itu dengan tenang, langkah kaki mereka berjalan searah dan bersamaan seperti sudah terlatih, "lapor tuan," ucap pemimpin pasukan itu.
"Kalian sudah menyapa tuan kita yang baru ?" tanya laki-laki yang bernama Louis itu.
"Tuan Ibra sepertinya sudah mendengar tentang kita tuan, beliau bahkan berkata ingin menemui anda secara pribadi di perusahaannya hari ini," jelas laki-laki itu.
"Ibrahim Muhammad Attar, sesuai dengan rumor. Dia memang berbeda."
Manik mata Louis kini melihat pada beberapa benda yang di pegang oleh anak buahnya, "Apa yang kalian bawa ? apa itu hadiah yang sudah kalian siapkan untuk pemimpin kita yang baru ?" tanya Louis singkat.
"Ini makanan yang dibuatkan istri tuan muda untuk kami tuan," jelasnya lagi.
Laki-laki berusia paruh baya yang di panggil Louis itu tersenyum, "sebelum kita kesana hadiah apa yang akan kalian berikan untuknya, istrinya bahkan sudah menyambut kalian dengan baik. jangan membuatnya kecewa karena kita datang dengan tangan kosong" tanya Louis.
"Kami sudah mengunci lokasi Bella dan Abrar tuan, satu jam lagi kami akan mulai beraksi,"
"Kirimkan hadiah itu untuk nona, Ibra biar aku yang menemui nya sendiri, urus Bella dan Abrar secepatnya. Dia bermain dengan orang yang salah,"
"Baik tuan,,," ucap mereka serentak.
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri rate, dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1
Update setiap hari.