Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Kegugupan Sakti


__ADS_3

"Rafael... dia yang lebih berhak atas kamar utama, sampai kapanpun rumah ini adalah miliknya, kau tentu ingat betul aku susah payah mendapatkannya untuk ku kembalikan padanya,"


"Ah... bukan kalian, ini bukan sesuatu yang ku perjuangkan bersama kalian," ucap Ibra kemudian, untuk masalah Rafael, baik perusahaan maupun rumah ini, semua di urus diam-diam oleh Aga, yang Sakti tau rumah ini memang milik Ibra, ia baru tau keseluruhan informasinya setelah mempelajari informasi yang ia dapat sesaat setelah kebenaran yang di sampaikan Attar.


Dan bodohnya, ia merekomendasikan rumah ini, tanpa berfikir panjang lebih dulu.


"Ibra... "


"Kau pindah lah ke kamar utama, rumah ini milikmu," Ucapnya lagi pada Rafael.


"Apaan sih, gua udah nyaman sama kamar gua di atas, gua nggak mau pindah, udah gih lu mandi-mandi sana, istirahat, ini rumah gua kan, jadi gua bakal nyaman di manapun gua berada, lu nggak usah khawatir, santai aja kek di pantai," ucapnya lagi.


"Udah mas, bang El gpp kok, ayo pergi, Nadia udah capek pengen bobok," ucapnya dengan bergelayut manja pada lengan Ibra.


"Good job dek," ucap Rafael mengulurkan jempol secara sembunyi-sembunyi pada Nadia.


"Silahkan tuan muda... " ucap Sakti lagi pada Ibra.


"Mas.. ayo.. "


"Renovasi ulang kamar Rafael, mulai saat ini ada dua kamar utama di rumah ini, satu milik istriku, satu lagi milik El," perintah Ibra pada Sakti.


"Segera di laksanakan tuan muda, mari saya antarkan anda beristirahat, anda sudah menempuh perjalanan yang panjang beberapa hari terakhir," ucap Sakti, sejak awal ia merasa tidak nyaman ketika Ibra harus naik kapal ekonomi seperti itu, ia sangat yakin itu membuat tuannya merasa tidak nyaman.


"El, kau jangan membantah," teriaknya pada Rafael sembari melangkah pergi dengan Nadia yang masih tetap setia bergelayut manja di lengannya.


"Siap... udah sono,"


"Ibra benar-benar, huft.... " gumam Rafael lega.


Rafael tidak kembali ke kamarnya, ia berniat menemui bu Ani agar bisa lebih hati-hati kedepannya dalam bersikap, ia tidak ingin membuat Ibra merasa tidak nyaman dan terbebani dengan fakta kematian orang tua dan hilangnya Nadia sejak kecil.


"Bu.... bu Ani..... " teriak Rafael.


"Bu.... bu Ani..... " teriaknya lagi ketika tidak. mendapat sahutan dari bu Ani.


"Bu..... "


"Iya tuan muda," jawab bu Ani dengan berlari cepat ke arah Rafael.


"Ada berapa pelayan yang bekerja di rumah ini?"


"Kurang lebih lima orang, ada sesuatu yang kau inginkan nak?" tanya bu Ani penuh ketulusan.


"Kemarilah bu, El ingin berbicara sebentar dengan ibu, biar pelayan lain yang menyiapkan makanan,"


"Ah baiklah, kita ke taman belakang saja, taman peninggalan nyonya masih terawat dengan baik, anda bisa melihatnya," tutur wanita paruh baya itu dengan antusias.

__ADS_1


"Baiklah bu," jawab Rafael cepat.


***


"Silahkan tuan muda, ini kamar anda," jelas Sakti sembari membuka pintu kamar utama untuk Ibra dan Nadia.


"Abang nanti tidur dimana?" tanya Nadia.


"Kenapa?" tanya Ibra.


"Hah?"


"Yah kenapa nanya Sakti tidur dimana?"


"Yah nanya aja sih mas, nanti kalo ada apa-apa kan Nadia nggak perlu bingung nyarinya, rumah ini terlalu besar buat Nadia harus nyari orang kan?" jelasnya.


"Sakti,"


"Iya tuan muda,"


"Besok, pos satpam yang ada di depan, jadikan rumahnya," ucapnya kemudian masuk meninggalkan Nadia yang mematung dengan mulut membulat sempurna.


"Loh mas.... kok jahat, kok tega gitu, hiks, nggak mau pindah ke sana," ucapnya.


"Uhm, nona... " panggil Sakti sebelum Nadia mengikuti Ibra masuk ke dalam kamar.


"Makasih bang, Nadia masuk dulu, abang jangan lupa istirahat," ucap Nadia tak lupa dengan senyum manisnya.


"Mas.... mas Ibra... hehe jangan marah dong," ucapnya masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan.


Sakti yang melihat tingkah tuan dan nona mudanya itu hanya tersenyum sambil menutup pintu kamar yang sebelumnya masih terbuka.


"Bahagia selalu tuan muda, anda harus bisa melepaskan diri dari belenggu masa lalu dan mulai mencoba untuk bahagia," lirih nya.


Di dalam Kamar


Ibra membuka jas dan kemeja yang melekat pada bagian atas tubuhnya, tubuh kekar dengan perut kotak-kotak membuat ketampanan lelaki itu semakin sempurna.


"Kok bisa lepas baju aja bisa sekeren itu, rumor mas Ibra lebih tampan dari aktor yang ia kelola memang seratus persen bener,"


"Awas ngiler," sahut Ibra yang sejak tadi melihat Nadia melihat tanpa berkedip sama sekali.


"Andai mas Ibra bukan suami Nadia... "


"Kenapa kalo aku bukan suamimu hah?" potong Ibra seketika.


"Ya mau Nadia jadiin suami dong, wk wk wk wk," godanya yang sontak membuat pipi Ibra memerah.

__ADS_1


"Dasar bocah, nggak abangnya nggak adeknya, kelakuan nya bocah semua," ucapnya lagi dengan senyum sembunyi-sembunyi.


"Biarin, weee," tambah Nadia dengan lidah terjulur.


Nadia melewati Ibra dan mendekat ke arah ranjang, brukkk.


Nadia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, "ah lelahnya.... " ucapnya kemudian dengan tubuh terlentang menghadap langit-langit kamar.


Melihat tubuh di atas ranjang itu sontak membuat tubuh Ibra merinding, pikirannya berlarian kemana-mana, "kenapa jadi nggak terkontrol gini Ibra... tubuhnya.... ahh shit.... " gerutu Ibra dalam hati.


"Nadia bangun.... ayo mandi... " ajaknya pada Nadia.


"Males gerak mas, bobok dulu aja, kemaren tidur Nadia nggak cukup, masih ngantuk mas," ucapnya setelah meraih guling dan memejamkan mata.


"Ya mandi dulu Nadia, abis itu baru tidur, kita kan abis dari luar," ucap Ibra memberi pengertian.


"Mas duluan, nanti kalo udah kelar baru aku, abis itu kita makan, oke?" jawab Nadia masih tetap menutup mata.


Ibra mengambil nafas, dan beranjak ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti dan kembali berbalik menggendong Nadia yang masih berbaring di atas ranjang.


"Mas.... Nadia mau di bawa kemana?" teriaknya.


"Mandi!" tegas Ibra seolah tidak ingin di bantah.


"Mas.... nggak mau.... " teriaknya lagi dengan menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari gendongan Ibra.


"Melayani suami itu ibadah loh Nad, jangan nakal kayak gini bisa?"


Nadia terdiam, "apa hubungannya mas?" tanyanya tidak faham.


"Mandi kan aku," ucapnya lebih lembut.


"Mas kan udah besar,"


"Kita harus mencoba dengan mandi bersama Nadia, kita belum pernah melakukannya bersama di kamar mandi," tambahnya.


"Mas Ibra... " ucap Nadia menutup wajahnya yang memerah karena malu dengan ucapan Ibra.


"Kita sudah berkali-kali melakukannya, kenapa kau masih menutup wajahmu," senyum Ibra gemas.


"Aku tidak tau dengan perasaan ku saat ini, aku tiba-tiba menjadi sangat marah tidak jelas , Tiba-tiba bahagia, tiba-tiba merasa bersalah, dan tiba-tiba ingin bermanja bersama mu, aku juga tidak tau apa yang terjadi dengan diriku, aku tidak seperti ini sebelumnya,"


***


"Tuan, anda mendengar suara teriakan dari kamar tuan dan nona ?" tanya seorang pelayan pada Sakti yang berdiri tak jauh dari kamar Nadia dan Ibra.


"Pergilah, itu hanya drama suami istri, kau tidak pantas mendengarkan itu,"

__ADS_1


Pelayan itu hanya menunduk penuh maaf dan pergi, "tuan muda anda harus berjuang sampai Ibrahim junior lahir ke dunia ini, semangat tuan muda, kenapa jadi aku yang gugup, " ucap Sakti antusias.


__ADS_2