
Ibra dan Sakti kini sudah sampai di perusahaan miliknya, seperti pagi-pagi biasanya, akan ada beberapa karyawan senior yang akan menyambut mereka ketika turun dari mobil.
"Selamat datang tuan muda." ucap mereka serentak.
"Kembali bekerja dengan tenang," ucap Sakti ketika Ibra sudah berjalan melewati mereka menuju lift.
Sakti menyusul Ibra yang saat ini sudah memesuki lift, dengan kaki panjang dan bekal makanan yang ia bawa ia berjalan cepat mengikuti Ibra.
"Silahkan tuan muda, biar saya saja" ucapnya ketika Ibra hendak memencet tombol lift sendiri.
Pintu lift yang membawa mereka sudah tertutup rapat, banyak bisik-bisik di antara karyawan yang tadi sempat melihat dua orang nomor satu di perusahaan ini tadi berjalan melewatinya.
"Wahh sepertinya pak Sakti sudah punya calon istri, ini pertama kalinya ia membawa bekal makanan dari rumah, banyak pula," ucap beberapa dari mereka lesu
"Iya iya, duh hilang deh cita-cita jadi nyonya Sakti,"
"Uhhh mereka berdua bahkan melebihi aktor aktor yang keluar masuk perusahaan ini setiap hari,"
"Bener kan, pak Ibra memang super duper," ucap salah seorang karyawan kemudian mengacungkan jempol pada teman-teman nya yang lain.
"Hati adek meleleh liat abang Sakti,"
Banyak celotehan-celotehan mereka yang lainnya, setiap pagi mereka akan memuja Ibra dan sakti seperti sebuah rutinitas wajib yang rugi jika di tinggalkan.
Berbeda dengan hiruk pikuk yang terjadi di bawah, lantai paling tinggi di perusahaan itu justru hening tanpa suara. Karena berada di lantai yang sama dengan presiden direktur membuat semua karyawan yang bekerja di lantai itu selalu terlihat tenang.
Aura yang terpancar dari diri Ibra memang selalu mempesona dan mampu menghipnotis mata semua orang yang melihatnya, tidak hanya perihal ketampanan, namun cara bersikap, kewibawaan, dan penyelesaian masalah yang ia tunjukkan di perusahaan benar-benar menjadi nilai plus yang ia miliki. Terlepas dari sikapnya yang mudah marah ia sungguh orang yang sangat sempurna.
"Saya akan menyiapkan makanan ringan untuk anda terlebih dahulu untuk anda sebelum rapat pagi tuan muda, jadwal anda hari ini akan siap dua menit lagi di meja anda," jelas Sakti.
"Lakukan saja seperti biasanya, kau tidak perlu melaporkan hal seperti itu padaku setiap hari," ucapnya.
__ADS_1
"Silahkan masuk tuan muda," ucap Sakti sembari membuka pintu untuk Ibra.
Langkah Ibra terhenti ketika melihat sekertarisnya kini sedang duduk di kursi kebesaran miliknya, wanita itu sepertinya masih belum sadar atas kedatangan Ibra di dalam ruangan itu, Sakti hendak maju dan menegur nya, namun tangan Ibra menarik lengannya pertanda "cukup, biar aku saja,"
"Kau menginginkan kursi itu ?" tanya Ibra pada sekertarisnya itu.
Wanita itu segera membalik kursinya dan langsung berdiri ketika melihat Ibra sudah memandangnya dengan tajam, bahkan Sakti menatapnya tak kalah menyeramkan.
"Ahh ma af tu an," ucap wanita itu terbata-bata.
"Kau menginginkan kursi seperti itu, biar Sakti menaruhnya di meja kerjamu," ucap Ibra dengan wajah serius.
"Saya hanya mencoba apa kursi ini masih nyaman untuk di gunakan oleh anda tuan, saya tidak memikirkan hal lain," ucapnya dengan keringat yang sudah memenuhi dahinya karena gugup.
Ibra mendekatiknya, laki-laki itu berjalan dengan tetap melihat ke arah sekertarisnya itu, "Apa gaji yang di berikan perusahaan ini masih kurang untukmu ?" tanya Ibra yang kini sudah berada tepat di depannya. Tatapan mata Ibra saat ini sungguh sulit di artikan apakah sedang marah atau tidak
"Tidak tuan,"
"Pergilah !" ucap Ibra pelan namun penuh penekanan.
Setelah terdengar suara pintu di tutup, Sakti merogoh handphone yang ada di saku jasnya, "Segera buka lowongan sekertaris tuan muda yang baru, saya ingin surat pemberhentian saat ini juga tanpa pesangon." ucap sakti dengan cepat kemudian langsung menutup sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban orang yang menjadi lawan bicaranya.
Brakk
Kursi putar itu sudah terbalik mengenaskan di atas lantai, Ibra sangat benci seseorang menyentuh barang-barangnya, tempramennya yang suka meledak-ledak akan aktif sembilan puluh lima persen ketika berada di kantor.
"Duduklah di sofa tuan muda, saya akan segera mengganti kursi anda,"
"Beraninya dia bermimpi menjadi nyonyaku, dia pikir dengan duduk di sana bisa menjadikannya nyonyaku, cihh dasar wanita murahan," ucapnya dengan urat-urat yang sudah keluar dari dahi dan rahangnya.
"Aishh sekertaris sialan itu mengacaukan mood tuan muda pagi ini, matilah kalian semua dengan rapat nanti," batin Sakti.
__ADS_1
"Atur saja rapatnya sekarang, aku sedang tidak ingin menunggu. Selesai rapat harus sudah ada kursi yang baru," pintanya.
"Siap selalu tuan muda," ucapnya.
"Saya akan siapkan makanan ringan anda dulu," ucap Sakti lagi.
"Aku sudah tidak ingin makan," ucapnya kemudian pergi.
"Dasar wanita sialan, aku bahkan sudah tidak sabar mencoba makanan yang dibuat oleh nona, tapi wanita itu mengacaukannya." geram Sakti.
Ada suara tangisan dari arah luar ruangan, tepat saja wanita yang menjadi sekertaris itu kini sudah menangis sembari mengemasi barang-barangnya, Ibra bahkan tadi hanya melewatinya dan tidak berkata apa-apa.
Berbeda dengan Sakti, ia mendekati wanita itu dengan, "Kamu seharusnya tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh tuan muda, sangat lancang untuk duduk di kursi kebesarannya seperti hari ini, kamu pikir tuan muda akan berbelas kasihan padamu karena kecantikanmu itu," ucap Sakti dengan mencengkram wajah wanita itu kasar.
"Kamu hanya sampah yang bisa aku bereskan dengan mudah, berdoa saja agar masih ada perusahaan yang mau menerimamu," ancamnya.
"Maafkan saya tuan, saya bersalah," ucap wanita itu gemetar, butiran air bahkan sudah keluar dari pelupuk matanya,
"Ucapkan rasa bersalahmu itu pada orang-orang tidak berdosa yang sebentar lagi akan habis karena kemarahan tuan muda kepadamu," ucapnya kemudian pergi menuju ruang rapat.
Wanita itu hanya menangis meratapi kebodohannya karena tidak bisa menahan diri, "kenapa aku sangat bodoh seperti tadi, Argggh" isak wanita itu dengan meremas kedua tangannya.
***
Di Ruang Rapat
"Kalian pikir ini semua lelucon hah ?" tanya Ibra keras.
"Kemana mereka semua ?" tanyannya lagi semakin keras.
Sakti yang mendengar teriakan tuannya bahkan dari luar segera bergegas masuk ke dalam ruang rapat, "Betul-betul membawa bencana wanita itu, aku harus membuat perhitungan sendiri padanya nanti,"
__ADS_1
Ruangan itu masih terlihat lenggang karena banyak dari kepala bagian yang belum datang, "Rilex tuan muda, duduklah, saya akan membereskannya untuk anda hanya dua menit, beri saya dua menit," ucap Sakti kemudian menekan tombol darurat yang terhubung dengan alarm yang sudah terpasang di seluruh perusahaan.
"Kalian sudah bosan bekerja disini ?" bentaknya.