Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Selamat Datang Kembali 2


__ADS_3

"Selamat datang kembali mas," ucapnya dengan senyum mengembang di sudut bibirnya dan langsung kembali memeluk Ibra.


Semua orang yang ada di sana melongo tak percaya, bisik bisik mulai terdengar di antara semua karyawan, ada yang takut atas perlakuannya selama ini kepada Nadia, ada yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang menyadarkan mereka hari ini.


Tak hanya yang ada di dalam sana, semua orang terlebih tim khusus dimana Nadia berada beberapa minggu terakhir ini menjadi kalangkabut, semua bingung apa yang harus mereka tunjukkan untuk meminta maaf sekarang.


Wajah Ibra terlihat tidak ramah, melihat dan membayangkan saja mereka tidak berani, "bagaimana ini?" tanya mereka pada diri sendiri.


Ibra yang sekilas melihat ada yang aneh dengan penampilan istrinya itu segera melepaskan pelukannya dan melihat kembali Nadia dengan seksama.


"Kenapa dengan rambutmu ? kok bisa berantakan seperti ini? kau bahkan marah jika aku dan Rafael mengacaknya, siapa yang melakukan ini?" ucapnya penuh selidik dengan dahi yang sudah mengkerut.


"Aku tadi tertidur, jadi berantakan, hehe, " ucapnya sembari merapikan rambutnya yang kusut.


Namun tangan itu dihentikan oleh Ibra, Ibra memilih melihat sendiri dari pada mendengar penjelasan istrinya itu.


Dan benar, ada beberapa rambut yang tercabut hingga hanya terlihat kulit kosong di sana, yang mana membuat amarah yang tadinya sudah mulai mereda kini naik kembali.


"Rafael....? apa ini?" bentaknya langsung menatap Rafael.


"Nadia kenapa nggak bilang abang?" tanya Rafael yang langsung mendekat pada Nadia dan melihat sendiri apa yang terjadi dengan kepala adiknya hingga membuat Ibra marah seperti ini.


"Mas, bang El nggak tau apa-apa, kenapa berbicara seperti itu padanya,"


"Kau buta sampai dia harus bilang padamu El? kau buta hah?" bentaknya dengan menggebrak meja di depannya dengan tangan yang terluka hingga meja tersebut di penuhi bercak darah.

__ADS_1


Terlihat gurat ketakutan di wajah mereka semua, tidak ada yang berani melihat, semua orang di sana menunduk, bahkan kamera sudah di offkan begitu emosi Ibra kembali naik, yang tentu saja atas petunjuk dan arahan dari Sakti.


"Mas... bukankah menjagaku adalah tanggung jawab mas? kenapa aku harus meminta bantuan abang El, tenang oke?" ucapnya sembari mengelus dada Ibra pelan.


"Sabar...sabar..." ucapnya.


"Justru ketika bang El berusaha membantuku, mereka semakin mengerjai aku, mereka berfikir aku salah satu dari simpanan bang El," tambah Nadia.


"Cih, siapa yang berfikir kau simpanan Rafael? kalian semua juga berfikir seperti itu?" tanyanya pada semua orang.


Tak ada yang berani menjawab pertanyaan Ibra, semuanya sibuk berbicara dengan diri mereka sendiri menanyakan apa yang akan terjadi dengan mereka kedepannya begitu Ibra tau apa yang sudah terjadi dengan Nadia selama di Harbank.


"Kalo aja nggak di depan umum, udah gua ajak adu gulat ni orang, sabar El.... jaga harga diri...ini temen lu lagi emosi emosinya, sabar sabar..." tenang Rafael pada dirinya sendiri yang masih belum membuka suara sejak tadi.


"Kau sendiri yang memperkenalkan dirimu, atau aku?" tanya Ibra pada Nadia.


"Biarkan saja, ini hanya luka kecil,"


"Kak Luna tolong," pinta gadis itu sopan yang hanya mendapatkan anggukan kepala dari Luna tanda mengerti, namun Luna masih tidak melakukan apapun agar tidak melukai harga diri Ibra jika ia menarik tangan laki-laki itu di depan umum.


"Aku yang akan memperkenalkanmu pada mereka semua, aktifkan kamera, aku ingin semua orang mendengar pernyataan ku hari ini," perintah Ibra.


Petugas kamera semakin gugup hingga berkeringat di ruangan ber Ac ini, meskipun sudah profesional, namun tetap saja bergetar melihat kemarahan yang terlihat jelas di wajah tampan itu.


"Su... sudah on tuan," ucapnya.

__ADS_1


"Saya Ibrahim Muhammad Attar, CEO Delta Internasional saat ini mengumumkan bahwa perempuan di samping saya saat ini.." ucapnya sembari memeluk Nadia untuk lebih mendekat kepadanya, "adalah istri yang sudah saya nikahi lebih dari satu tahun yang lalu, Nadia Clara Adiwijaya, yang juga merupakan adik kandung dari Rafael Adiwijaya, keturunan Adiwijaya yang pernah hilang sejak lahir," ucapnya jelas.


"Kedepannya, menghinanya berarti menghinaku, melakukan tindakan buruk padanya berarti juga bertindak buruk kepadaku, sampai saat ini aku masih mencari siapa saja yang sudah mengganggunya selama aku tidak ada, kami tidak segan-segan membawa kalian ke jalur hukum untuk menyelesaikan masalah ini," jelas Ibra.


Nadia hanya tersenyum senang melihat lelakinya saat ini, Sakti yang memperhatikan mereka berdua kini menarik sedikit pipinya ke atas meskipun tidak terlalu kentara, "anda benar nona, tanggung jawab untuk menjaga anda berada di pundak tuan muda, sekarang saya tau maksud ucapan anda saat itu, anda hanya ingin memastikan apakah anda berada bersama laki-laki yang tepat atau tidak, karena wanita jika bersama laki-laki yang tepat akan menjadi ratu," batin Sakti.


***


Harbank Group


Setelah acara selesai, Ibra memilih pergi ke Harbank, tentunya dengan semua orang-orang nya, ia ingin melihat apa saja yang di kerjakan Rafael selama ia pergi.


Baru saja memasuki lobby, beberapa karyawan sudah berkumpul di sana dengan kepala menunduk, "kami semua minta maaf nona," ucap mereka serentak tanpa malu lagi meskipun saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian semua orang.


Ibra sudah malas dan jengah melihat kelakuan orang-orang seperti mereka ini, namun Nadia semakin erat memegang pergelangan tangannya.


"Aku istrinya, bukan aku yang berhak menerima maaf atas perlakuan kalian padaku, tapi dia... suamiku, orang yang punya hak atas diriku," ucapnya melihat Ibra dengan senyum merekah seperti dulu.


"Segitu bahagianya dia dengan kembalinya Ibra, untung aja tuh mulut nggak bikinan manusia, coba aja yang bikin manusia, pasti udh sobek tuh, huft... tapi syukurlah dia bisa bahagia lagi," batin Rafael lega.


Ibra mengelus rambut kepala Nadia lembut, kemudian menatap mereka semua dengan garang, "saya tidak akan menerima permintaan maaf dalam bentuk apapun, belajar menghargai orang lebih baik lagi," ucap Ibra kemudian berjalan pergi.


Hanya Rafael dan Aga yang tertinggal di sana, "Dia adikku, bukan simpananku, perusahaan ini miliknya, jika menyukaiku dekati aku, kenapa sirik dengan orang yang dekat denganku, aku menyukai wanita, tapi sangat membenci orang-orang seperti kalian, jangan buat singa yang sedang tidur di dalam tubuhku terbangun,"


"Ini peringatan untuk kalian semua, aku diam karena Nadia adikku yang mengingikannya, jika suaminya akan membawa kalian ke jalur hukum, aku akan membawa kalian ke jalur ku sendiri," ancam Rafael.

__ADS_1


"Tuan... "panggil Aga agar Rafael menghentikan ucapannya.


"Kita pergi... " ucapnya pada Aga, mengerti maksud laki-laki itu.


__ADS_2