
"Apa-apaan om Ibra? abang? tadi om Ibra bilang abang kan? dasar om Ibra, benar-benar plin plan," ucap gadis itu pada diri sendiri, dengan senyum malu di bibirnya ia berjalan menuruni anak tangga dan memberi makan hewan hewan Sakti yang masih tertinggal di sana.
"Bagaimana kabar bang Sakti dan bang El ya, sibuk banget kayaknya mereka, huft udah nggak pernah telfon juga sekarang,"
Setelah memberi makan hewan-hewan itu, Nadia mengambil ponsel dan iseng-iseng melacak keberadaan kedua abang laki-laki nya yang sudah beberapa hari tidak memberinya kabar dengan kreasi terbarunya, gadis itu diam-diam sudah menempelkan sebuah sistem sederhana di ponsel Ibra, Sakti dan Rafael sebelum keduanya memutuskan untuk tidak di rumah ini.
"Dimana mereka berdua ? kok bisa lagi barengan gini lokasinya, tumben banget akur," Nadia mengamati dengan seksama layar ponsel miliknya, merasa pernah tau dengan lokasi Sakti dan Rafael kini berada.
"ini bukannya panti ? kenapa mereka berdua ada di sana," pikir Nadia, namun kepalanya masih belum bisa berfikir sampai sana hingga memutuskan berlari menemui Ibra dan bertanya langsung padanya.
***
Sejak gadis kecil itu melangkah keluar, tanpa sadar Ibra sedang memperhatikan tubuh kecil mungil itu dari belakang, rambut kuncir kuda milik Nadia terlihat bergoyang ke sana kemari mengikuti gerakan tubuh Nadia yang berjalan.
Sudut bibir laki-laki itu kemudian tersenyum penuh kemenangan, "dia memang selucu itu, pipinya bahkan sangat merah ketika aku bicara dengannya, sangat berbeda dengan Anna yang selalu bersikap dewasa dengan penampilan yang elegan, ia bahkan bisa mengatur raut wajahnya, terlihat tidak alami,"
"Tapi Nadia sangat berbeda, siapa yang beruntung bisa mendapatkannya nanti," ucapnya pada diri sendiri lagi dengan geleng-geleng kepala.
Lain dengan Nadia, Ibra saat ini sedang berada di kamar mengenakan baju kaos santai dan celana selutut yang sebelumnya sudah di siapkan Nadia di atas ranjang mereka, dengan gaya keren dia mengambil ponsel di atas meja dan menghubungi seseorang.
Tut tut tut tut tut
"Bagaimana Rafael ?" tanyanya pada seseorang di balik telfon.
"Kami masih belum bisa membaca pergerakan dari tuan Sakti dan tuan Rafael tuan muda, sampai saat ini mereka masih belum melakukan gerakan apapun,"
"Cyber ?"
"Semua data Cyber berhasil di bobol tuan muda, Delta internasional berhasil menerobos masuk sistem pertahanan Keamanan mereka saat ini,"
"Sejak awal Cyber adalah milik Delta Internasional, tidak heran jika mereka bisa dengan mudah melakukan ini, mungkin di negara lain ada Cyber-cyber lain dengan kemampuan yang sama atau bahkan lebih hebat dari Cyber yang sudah menjadi milikku,"
"Kami akan terus memantau pergerakan tuan Sakti dan tuan Rafael, jika ada yang berbahaya kami akan langsung melakukan gerakan penyelamatan,"
__ADS_1
"Lakukan, yang pasti jangan membunuh nyawa yang lain," tegas Ibra.
Tut
Ibra memutuskan panggilan telfon secara sepihak, ia mengurut keningnya pelan, "Oma udah terlalu jauh ikut campur dalam hidupku, aku udah muak dengan semua tingkah nya,"
Beberapa detik menghembuskan nafas berkali-kali, akhirnya laki-laki itu mangangkat ponsel nya dan mencari kontak dengan nama Luna di sana.
untuk Luna
Stand by, Sakti dan Rafael mungkin akan dalam bahaya, apapun bisa terjadi dengan mereka.
Send.
Setelah mengirim pesan pada Luna, Ibra mencari nomor ponsel dengan nama bos besar.
Tut tut tut
"Halo Ibra.... " ucap salah seorang di balik telfon.
"Om..... om Ibra..... " teriak Nadia.
Gadis itu berlarian lagi menemui Ibra, dengan wajah bertambah panik campur bingung dan entah bagaimana tidak bisa di definisikan.
Ibra menoleh ke arah Nadia yang baru saja membuka pintu kamarnya, "kenapa? baru tadi kau bilang ini bukan hutan," ucap Ibra.
"Bang Sakti sama bang El dimana?" tanyanya terburu-buru, wajah panik itu bahkan baru di lihat oleh Ibra.
"Ada apa? bicara yang jelas Nadia, aku bahkan nggak tau dimana mereka," acuh Ibra tidak memberi tau kondisi yang sebenarnya.
"Ada masalah apa sama panti om? kenapa bang Sakti sama bang El ada di sana? om nggak niat macem-macem sama mereka kan? kan Nadia nggak nakal selama ini, kenapa om ganggu mereka lagi.."
"Tunggu-tunggu Nadia, kamu ngomong apa sih, aku nggak faham sama semua yang kamu omongin," ucap Ibra kemudian yang memang benar-benar nggak faham dengan apa yang di bicarakan oleh Nadia.
__ADS_1
Nadia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan kepada Ibra lokasi Sakti dan Rafael yang terekam dengan jelas di sana.
"Sejak kapan Nadia?" tanya Ibra tegas.
"Itu nggak penting sekarang om, ok liat ini ada tanda merah di sekeliling titik lokasi bang Sakti dan bang El, pasti ada yang berdarah di sana, ini tepat di lokasi panti asuhan Nadia om, om nyuruh mereka apa, apa yang terjadi?" tanya Nadia tanpa henti, sejujurnya ia sangat khawatir dengan keadaan Sakti dan Rafael, tapi di sisi lain ia juga khawatir dengan keamanan keluarganya di panti asuhan.
Tidak mendapat respon dari Ibra, gadis itu memegang lengan Ibra kuat, menunggu penjelasan Ibra atas apa yang baru saja ia lihat.
"Kemampuan gadis kecil ini benar-benar berbahaya, aku harus memberi pengertian padanya nanti, aishh kenapa dia harus terlalu polos untuk dunia sekejam ini," pikir Ibra.
Tut tut tut
Ibra masih belum bisa menjawab pertanyaan Nadia, ia terlebih dahulu menerima panggilan ponsel dari Luna.
"Seperti yang udah lu duga, Sakti dan Rafael sedang menuju rumah sakit, kita bersiap untuk operasi darurat," jelas Luna.
"Tetap siaga, karena mungkin tidak hanya mereka berdua," ucap Ibra kemudian.
"Oke, jangan datang, tetap di rumah aman bersama Nadia, kita bisa handle urusan di sini," tambah Luna di balik telfon.
"Om kenapa ? ada apa sebenarnya ? ada masalah sama panti ya ? om ngomong dong?" ucapnya lagi dengan terisak karena panik.
"Mereka udah nggak di sana, seminggu sejak pernikahan kita panti itu sudah di jual, mereka udah lama pindah dari sana," jelas Ibra benar adanya.
Nadia masih menatap tak percaya dengan apa yang ia dengar, bagaimana mungkin mereka mau menjual rumah itu, "nggak mungkin om, itu harta mereka satu-satunya, Nadia yakin mereka nggak akan pindah,"
"Nggak ada seorang pun di dunia ini yang nggak mau uang Nadia, jadi sekarang perbaiki pola pikirmu itu, baik boleh tapi tau tempat, dan jangan mudah emosional untuk hal-hal remeh yang nggak seharusnya membuatmu kehilangan air mata,"
"Istriku, Ibrahim Muhammad Attar bukan orang yang mudah di perdaya orang lain, cari tau semua data dengan tenang, berfikir rasional dan cari jalan keluar, dengan kamu nangis semua nggak akan berubah," ucap Ibra kemudian.
"Berarti bang El sama bang Sakti ?"
"Perjalanan menuju rumah sakit, cari tau keadaan mereka dengan alat yang sudah di ajarkan Rafael,"
__ADS_1
"Hah....? pasti karena km nolak nikah sama tante Anna kan?" tanya gadis itu yakin.