Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Cinta Segitiga


__ADS_3

"Aku nggak berani tidur sendiri, Aku mau sama Ibra,"


"Tidur denganku dan jangan membuat keributan,"


Uhuk uhuk uhuk


Rafael yang sedang minum air putih dengan gelas transparan terbatuk tiba-tiba setelah mendengar apa yang di ucapkan Sakti.


"Dasar bocah minum pun masih batuk-batuk, Ibra harusnya salah menilai seseorang kali ini?" ucap Anna dengan ketus.


"Tunggu tunggu, sejak kapan lu berani ngajak tidur cewek? " tanya Rafael heran, ia sangat tau Ibra dan Sakti adalah salah satu laki-laki lurus yang tidak pernah ingin bermain perempuan.


"Aku normal sejak dulu, itu hanya isu yang sengaja kami sebarkan El, jangan membuat kekacauan dengan ucapanmu itu," jawab Sakti tidak bisa singkat.


"Lu nggak lagi sakit kan ?" tanya Rafael lagi pada Sakti dengan tangan menyentuh dahi Sakti, ia masih saja heran kenapa harus sampai menemani tidur.


"Ada apa sebenarnya, aku yang gua lewatin, dadar cunguk tua sialan, udah main rahasia-rahasiaan sama gua sekarang, harus tanya sama Luna, wajib,"


"Udah balik sana,"


"Gua masih ngerasa aneh sama lu, kenapa lu ngajuin diri buat nemenin dia tidur, banyak banget cewek yang jauh lebih cantik dari dia yang antri pengen naik ke ranjang lu, tapi semua lu tolak, lah sama dia lu yang nawarin, jelas aneh lah," ucap Rafael lagi tidak bisa mencerna logika dan fakta yang ada di hadapannya. .


"Malas jadi korban pelukanmu," ucap Sakti kesal kemudian menarik tangan Anna dan berlalu pergi.


Rafael masih ingat jelas ketika dirinya mengajak Ibra dan Sakti ke sebuah klub malam untuk bekerjasama dengan seseorang, bagi Rafael ini adalah hal biasa dengan wanita di sekelilingnya, namun respon Ibra dan Sakti saat itu benar-benar sangat tidak wajar.


Flashback On


Dua buah mobil sudah sampai di sebuah parkiran mobil yang cukup luas, Ibra bersama dengan Sakti dan Rafael bersama dengan kekasihnya saat itu, mereka mulai melangkah masuk ke dalam sebuah klub malam tempat perjanjian kontrak dengan putra klient yang akan bekerjasama dengan mereka tentunya.


Baru saja ia memasuki pintu masuk, namun ia sudah di sambut dengan bau alkohol dan wanita-wanita dengan pakaian sangat minim sedang menari di center point klub itu, beberapa bahkan sudah ada yang bergelayut manja di lengannya.


Hoek hoek

__ADS_1


"Anda baik-baik saja tuan muda ?" tanya Sakti khawatir.


"Area you okay Ibra ?" tanya Rafael kemudian.


Tanpa menjawab pertanyaan Sakti dan Rafael, Ibra segera berlari mencari kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya yang sudah tidak bisa di kondisikan.


"Mereka sangat membuatku mual, kenapa harus tempat seperti ini, hoek hoekk" ucap Ibra pada Sakti yang sudah berdiri di belakangnya penuh penyesalan.


"Saya minta maaf tuan muda,"


"Kedepannya jangan biarkan Rafael mencari klien, tempat ini membuatku sakit kepala," ucapnya pada Sakti dengan memegangi kepalanya yang mulai berkedut.


"Baik tuan muda,"


"Sudah berapa kali mereka di sentuh oleh banyak pria, aku jijik bahkan hanya melihatnya, kita cancel saja perjanjiannya, ini bukan sesuatu yang aku cari, siapkan air kembang tujuh rupa, aku harus mandi besar," ucapnya kemudian.


"Baik tuan muda,"


Setelah merasa lebih baik, keduanya keluar dari kamar mandi dan berjalan cepat menuju pintu keluar, namun sayang karena mereka sempat di hadang oleh beberapa wanita yang sepertinya memang sudah di siapkan untuknya.


Prok prok prok


"Wah wah, tuan muda dan sekertaris nya yang sangat melegenda ternyata sangat takut dengan perempuan, mereka sudah aku siapkan untuk kalian, jadi jangan menolak dan menyinggungku dengan pergi, aku bisa saja membatalkan kerjasama kita," ancam laki-laki yang ada di depannya dengan lembut.


"Maaf, kami tidak ingin melanjutkan kerjasama ini," ucap Sakti mewakili Ibra.


''Hahah, kalian benar-benar impoten seperti berita yang beredar di luaran sana ?" ejek laki-laki itu dengan tawa semakin kencang, namun semua itu tetap tidak membuat Ibra berhenti dan menjawab ejekan laki-laki di belakangnya itu.


"Bagaimana jika aku meminta ayahku untuk menghentikan aliran dana yang masuk ke IA entertainment ?" ucap laki-laki itu lagi.


Langkah Ibra dan Sakti terhenti, kemudian tubuh gagah itu berbalik, "Silahkan, aku nggak perduli dengan kehancuranku atau apa yang kamu rencanakan, yang pasti cara hidupmu yang seperti hewan ini pasti akan berdampak tidak baik juga bagi karir dan kehidupan ku ke depannya jika kita benar-benar bekerja sama,"


"Kauuu......?" geramnya marah.

__ADS_1


Hingga akhirnya sebuah perkelahian benar-benar tidak bisa di lewatkan malam itu, tentu saja berimbas pada Rafael yang harus menghentikan nya, karena Ibra dan Sakti langsung meninggalkan klub tersebut tanpa berbalik.


Tidak hanya itu, bisnisnya saat itu sempat berada di ambang kehancuran, jika tanpa kegigihan dan keuletan Ibra sangat tidak mungkin perusahaan itu bisa bangkit kembali dari keterpurukan.


Dan masalahnya sama, hanya karena mereka berdua tidak suka bersentuhan dengan wanita.


Flashback Off


***


Nadia menggoyangkan telapak tangannya di depan mata Ibra yang tertutup, setelah di rasa tidak ada gerakan dari Ibra, akhirnya ia memilih beranjak dan melihat keadaan Anna.


"Berhenti Nadia, beri waktu Sakti dan Anna untuk berbicara, kembali dan jangan beranjak dari kamar ini selangkah pun," ucap Ibra tegas.


"Ok belum tidur kan? hehe," ucapnya tertawa ceria.


"Bisakah aku tidur sekarang? kenapa kalian semua selalu mengganggu," ucapnya kesal.


"Hehe, yaudah yuk bobok," ucap Nadia kemudian naik ke atas ranjang.


"Kedepannya beri waktu untuk Sakti dan Anna," ucapnya singkat.


Nadia menoleh, ia menatap Ibra dengan serius, "om udah nggak cinta sama tante Anna? kenapa harus memberi bang Sakti waktu bersama tante Anna?" tanyanya lagi.


"Hanya ingin saja,"


"Om belum ngantuk kan ?"


"Aku harus bekerja besok pagi,"


Nadia tersenyum kemudian menempatkan tubuhnya di posisi nyaman menghadap Ibra, tanganya bergerak mengelus rambut Ibra dengan gerakan searah berniat hendak memberi ketenangan.


"Selamat tidur om, semoga besok menjadi hari yang membahagiakan buat om," ucapnya dengan gerakan tangan pelan masih berada di kepala Ibra.

__ADS_1


"Aku nggak tau apa yang terjadi, jika dulu aku sangat benci dengan hubungan cinta segitiga kita bertiga, entah kenapa saat ini aku merasa sangat bersyukur dengan cinta segitiga ini, kehidupan seperti ini tidak buruk juga" batinnya tenang, dengan senyum sangat samar terlihat di bibirnya.


"Om Ibra senyum?" batin Nadia yang kemudian menutup mata dengan sebuah senyum yang sama di bibirnya.


__ADS_2