Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Mengaku tua


__ADS_3

"Pecat mereka semua ! dan pastikan tidak ada perusahaan yang mau menerima mereka setelah ini," bentak Ibra pada Sakti kemudian menarik tangan Nadia pergi.


"Hah.." mereka semua melenguh tidak menyangka atas apa yang terjadi dengan mereka saat ini.


"Kami minta maaf pak Ibra,,," ucap mereka hampir bersamaan dengan suara yang memenuhi ruangan.


Beberapa ada yang berlari mengejar Ibra hendak meminta maaf dan mengungkapkan penyesalan atas apa yang sudah mereka lakukan, namun langkah mereka kalah cepat dengan beberapa orang yang baru saja datang dan memberikan Ibra pengawalan agar terhindar dari orang-orang itu.


"Lain kali pakai otak sebelum melakukan sesuatu, percuma kemampuan dan kinerja kalian bagus tapi sama sekali tidak memiliki attitude, saya nggak butuh orang-orang seperti kalian di perusahaan ini," ucapnya lagi yang tadi sempat berhenti, kemudian melanjutkan langkahnya bersama dengan Nadia di belakangnya.


"Om,, " ucap gadis itu mengelus lengannya berusaha menenangkan, padahal dirinya sendiri saat ini sedang kacau.


"Om Ibra pasti sangat marah kan ? dasar Nadia bodoh suka bikin masalah terus," gerutunya dalam hati dengan tetap mengikuti langkah kaki Ibra meninggalkan kerumunan itu.


Sakti masih diam dengan mode garang menatap satu persatu karyawan yang ada di sana setelah kepergian Ibra tuannya, "total ada empat puluh tujuh orang yang terlibat langsung dengan pembullyan nona muda hari ini, bereskan semuanya bahkan jika itu kepala HRD, aku tidak peduli !" ucap Sakti pada seseorang yang sudah berdiri disampingnya.


"Pak Sakti saya mohon maaf, kami tidak tau jika nona tadi adalah orang yang sangat di sayangi pak presdir," ucap salah seorang memohon dengan penuh kesungguhan.


"Bagaimana jika dia bukan orang Presdir ? kalian akan mem-bully nya seperti apa yang kalian lakukan hari ini hah ?" bentak Rafael yang kembali datang bersama beberapa pengawal yang setia di sampingnya, ia kembali ke kantornya sempat mengambil beberapa bom asap jika sewaktu-waktu amarah Ibra berada di luar kendali.


Mendapat sorot mata tajam dengan tatapan yang mencekam dari dua orang yang paling di hormati di perusahaan itu membuat semua orang yang ada di sana bergetar, dahi mereka dipenuhi peluh karena gugup dan tidak tau lagi harus melakukan apa, mereka hanya diam dan menunduk, tidak berani menatap atau mendekat ke arah Sakti maupun Rafael.


"Selama ini aku diam bukan berarti dia tidak bisa bertindak atas apa yang sudah kalian lakukan kepada semua wanita yang dekat dengannya, dia hanya tidak ingin membalas dan lebih memilih diam karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan dan menghormati Presdir, tapi kali ini kalian mengusik wanita salah, aku ! ah lebih tepatnya bukan hanya aku tapi juga dia," ucapnya dengan suara menyeramkan kemudian menunjuk ke arah Sakti yang berada di sebelah kirinya kirinya.


Tak lama Ibra juga kembali turun, area itu saat ini benar-benar tertutup, tidak ada satupun orang yang berani mendekat atau bahkan sekedar bertanya.


"Saya akan menyelesaikannya bersama Rafael tuan muda, silahkan anda beristirahat dan menemani nona, anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun," ucap Sakti.


"Aku bukan khawatir, aku hanya tidak terima istriku di perlakukan seperti ini," ucapnya dengan jelas.


Semua wajah yang menunduk itu serentak menaikkan pandangannya, semakin takut, itu yang ada di hati dan perasaan mereka saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana ini, gadis itu bahkan istri Presdir, matilah aku," 


"Duh, gimana bisa cewek kayak gitu jadi istri Presdir, kapan nikahnya sih, kok bisa langsung sikat nggak ngecek dulu asal-usulnya,"


"Tamat sudah,"


Beberapa semakin memasang wajah masam karena kehancuran mereka benar-benar sudah ada di depan mata, Sakti dan Rafael sebenarnya juga tidak menyangka dengan pernyataan yang Ibra katakan barusan, sejak awal Ibra sangat kukuh menyembunyikan hubungan pernikahannya dengan Nadia.


"Mungkin tuan muda hanya keceplosan bicara,"


"Lah ? bukannya dia masih ingin merahasiakan hubungan pernikahannya dengan Nadia, malah bilang kayak gitu sekarang, tumben plinplan banget,"


"Umumkan kepada media berita pernikahanku dengan Nadia dan pecat mereka, aku sudah muak melihatnya," bentaknya sekali lagi, laki-laki itu seperti tidak puas mempercayakan semua ini kepada Sakti.


"Aku dulu tidak bisa membelanya, aku bahkan membiarkan dia di perlakukan seperti itu tanpa bisa melakukan apapun karena statusku sebagai pewaris sialan itu, aku tidak akan mengulanginya lagi kali ini, gadis kecil itu tidak boleh merasakan apa yang ia rasakan dulu."


Ibra berbalik pergi, kali ini ia sudah menyerahkan semuanya kepada Sakti dan Rafael, "tinggal memberi pelajaran gadis itu, apa yang dia lakukan sekarang, dia pandai membuatku terburu-buru dan menyusulnya, benar-benar merepotkan," ucapnya sambil berjalan menuju lantai dimana ruangannya berada.


Terlihat Nadia sedang duduk manis di lantai dengan kepala berada di atas meja bertumpu pada kedua tangannya, posisi gadis itu saat ini sedang memunggunginya.


"Sudah tidak akan membantahku ?" bentak Ibra dengan kasar dan kini sudah duduk di sofa dengan tangan mengacak rambut Nadia yang masih basah.


"Om..." gadis itu mengangkat kepalanya kemudian menggeleng.


"Mulai besok kamu harus mulai bersiap melakukan pembelajaran," ucapnya lagi dengan wajah datar miliknya.


"Nadia jadi pelatihan dimana om ?"


"Gak ada pelatihan, harus masuk perguruan tinggi, dan aku nggak ingin di bantah !,"


"Ya Allah gimana dong, mana mungkin bisa lulus dalam waktu satu tahun kalo kuliah, hiks"

__ADS_1


"Belajar yang bener, aku bisa pastiin kamu bisa lulus dalam waktu satu tahun," ucap Ibra


Dahi Nadia berkerut, sedikit aneh pikirnya ucapan Ibra kali ini, "Hah ? apa mungkin om Ibra udah tau ya ?" 


"Aku sudah tau, kau tidak perlu memandangku seperti itu." ucapnya dengan ketus.


"Hah ?" ucap Nadia lagi terkejut.


"Kalau segitu pentingnya perjanjian antara kamu dan orang tuaku, kamu bisa pergi setelah menyelesaikan satu tahun pendidikan itu, aku bisa menjamin kamu akan mendapat ijasah sarjana dan bisa hidup layak dengan atau tanpa aku," ucapnya dengan masih menatap sesuatu yang Nadia sendiri tidak tau apa.


Mata gadis kecil itu sungguh berkaca-kaca, "Aku nggak pernah salah menilai orang, dibalik amarahnya, om Ibra memang sebaik itu, dia selama ini tau dan memikirkan ku sampai sejauh ini, dia bahkan tidak marah aku mengkhianati kesepakatan lima tahun dengannya," ucapnya sedih.


"Om nggak marah ?"


Ibra masih diam.


"Untuk apa ? kita sama-sama di manfaatkan."


Gadis itu menunduk, "belajar saja yang baik mulai besok, dan jangan menguncir rambutmu seperti itu, kau terlihat seperti anak TK," cibir Ibra.


"Iya om,"


"Jangan iya iya aja, dengerin kalo orang tua ngomong,"


Sorot mata Nadia melihat Ibra, "Om udah ngaku tua ya, hihi"


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2